Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 58


__ADS_3

"Apa maksudmu Mas?"


Namun Alina benar-benar tidak mengerti, apa maksud perkataan suaminya yang terkesan menuduh dan memojokkannya.


Tanpa terasa ternyata mereka telah sampai di halaman parkir rumah sakit. Heru menghentikan mobil mereka dengan kasar, sampai terdengar suara rem berdecit.


"Aku ingin mendengar pengakuan dan penjelasan dari mulutmu sendiri Alina. Meskipun aku sudah tahu dan bukti itu telah sampai kepadaku..."


Heru segera keluar dari mobil, tanpa perduli dengan istrinya yang masih terdiam dengan raut bingungnya.


Sejujurnya, setelah pikirannya kembali jernih, Heru mulai berfikir, bahwa mungkin saja yang terjadi sebenarnya tidak seperti yang dipikirkannya. Namun bagaimana pun juga, jelas terlihat di dalam video, Alina dan Dirga berada dalam satu tempat yang sama. Dan itu adalah di dalam sebuah kamar. Karena itulah dia ingin sekali mendengar penjelasan dari Alina secara langsung, sebelum menunjukkan video kiriman dari Dirga sebagai bukti. Tapi entah mengapa sulit sekali bagi Alina untuk bicara jujur padanya? Padahal selama ini Heru selalu bersikap baik dan mendukung apapun yang dilakukan istrinya.


Karena itulah akhirnya Heru memilih memberi jarak diantara mereka, untuk memberi Alina pelajaran sambil menunggu kejujuran terucap dari mulut istrinya.


Sementara itu Alina yang semakin bingung dengan sikap aneh suaminya, mulai sibuk menerka-nerka. Kemudian pikirannya teringat akan ancaman Dirga tempo hari. Apa mungkin Dirga telah melakukan sesuatu hingga Heru bersikap seperti ini? Meski begitu Alina tak bisa menerka-nerka hal apa yang telah dilakukan Dirga.


Alina kemudian memilih fokus pada pekerjaan. Mungkin nanti malam, saat ada kesempatan dirinya akan memberanikan diri mengajak Mas Heru bicara. Begitu pikir Alina.

__ADS_1


Sore harinya, Heru keluar dari rumah sakit lebih dulu dari Alina. Namun kemudian seseorang tiba-tiba muncul mengagetkannya.


"Apa kabar Pak Dokter?", sapa seorang pria sambil mendekati Heru.


Heru menajamkan pandangannya dan tertegun melihat sosok yang sudah lama tidak ditemuinya itu.


"Kau?", Heru berusaha menahan emosi sebisanya, sebab tangannya hampir saja melayang menampar lelaki itu.


"Bagaimana? Kau sudah menerima pesanku kan? Kenapa tidak membalasnya?"


"Jangan kurang ajar! Aku bisa saja melaporkan tidakan tidak bermoralmu itu ke polisi!"


Tantang Dirga seolah tanpa rasa takut.


"Lalu bagaimana dengan istrimu? Apa kau sudah bertanya, mengapa dia tidak puas saat bersamamu dan memilih kembali padaku?"


Plak.

__ADS_1


Satu tamparan telak mengenai wajah Dirga.


Namun pria itu hanya terkekeh.


"Aku tidak akan membalasmu pengecut, disini ada CCTV yang merekam kejadian ini, mungkin aku bisa membawanya sebagai bukti kalau seorang dokter di rumah sakit ini telah melakukan tindak kekerasan kepada orang awam sepertiku..."


Heru semakin muak mendengar ocehan Dirga yang terus saja memprovokasinya.


Heru memilih masuk ke dalam mobil, dan melajukannya dengan pikiran kalut.


Sementara itu, Dirga masih berdiri santai di tempat parkir itu, dan menepi di bawah pohon rindang sambil sesekali menikmati rokoknya. Hingga kemudian seseorang yang ditunggunya nampak melangkah mendekat.


Alina menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari mobil dan keberadaan suaminya, namun tidak menemukan apa yang dicarinya.


Namun kemudian, seseorang yang paling tidak ingin dilihatnya justru tiba-tiba muncul di depannya.


"Selamat sore Alina, suamimu baru saja pergi tadi...apa kamu butuh tumpangan?"

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan pada suamiku?", Tanya Alina sambil menatap tajam ke arah Dirga. Kesabarannya sudah mulai habis, apalagi Dirga sudah berani mengusik keluarganya.


"Tidak ada, aku hanya mengirimkan sebuah video, kamu bisa juga melihatnya di ponselmu sekarang!"


__ADS_2