
Sore itu, Heru mengajak Alina dan Ghazi pergi ke taman kota. Sekedar menghirup udara segar sambil menikmati jajanan kaki lima yang lezat.
Ghazi pun terlihat menikmati suasana baru, terus menoleh kekikiri dan ke kanan dalam gendongan Ibunya.
"Aku ingin makan itu Mas...", Kata Alina sambil menunjuk sebuah gerobak batagor.
"Baiklah..."
Heru memesan satu untuk Alina.
"Makanlah, Ghazi biar kugendong dulu..."
"Mas nggak makan juga?"
"Nanti saja, aku mau bakso yang disana..."
Alina akhirnya makan, sementara Heru mengajak Ghazi berkeliling ke sana kemari.
Alina mengunyah makanannya sambil sesekali matanya mencari-cari keberadaan Heru dan Ghazi. Sudah lumayan jauh ternyata. Alina menyelesaikan makannya dengan cepat dan segera menyusul Heru.
"Sudah selesai? cepat sekali..."
"Ya, sekarang gantian Mas Heru yang makan..."
Alina mengulurkan tangannya, mengambil Ghazi dari gendongan Heru.
Setelah selesai makan bergantian, mereka akhirnya kemilih duduk di bawah pohon yang rindang. Kali ini Ghazi sudah tertidur dan Alina meletakkannya di kasur kecil diatas rumput.
Heru dan Alina mengobrol sambil memandangi matahari yang hampir tenggelam.
"Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya sayang? bagaimana dengan kuliahmu?"
"Aku ingin melanjutkan kuliah semester depan Mas, tapi apa Mas Heru mengizinkan?'
Sudah satu semester lebih Alina cuti dari kuliahnya sejak mengandung dan melahirkan Ghazi. Mungkin Alina akan menggenapkan cutinya dua semester dan kembali mulai kuliah sekitar tiga bulan lagi, itupun jika suaminya mengizinkan.
"Tentu saja Alina, aku tidak akan menghalangimu sayang...lanjutkanlah pendidikanmu, lagipula di rumah ada Mbak Sitha dan Bi Siti, juga Mama yang bisa membantu mengasuh Ghazi. Lanjutkan pendidikanmu dan kejarlah cita-citamu, Ghazi juga akan bangga jika memiliki Ibu yang cerdas."
"Terimkasih banyak Mas Heru atas pengertiannya, aku akan tetap berusaha melaksanakan kewajibanku sebagai isteri..."
"Tentu saja, terutama kamu harus selalu ingat kewajibanmu di malam hari...", kata Heru sambil tersenyum menggoda.
Dan saat sadar apa maksud dari perkataan suaminya, Alina langsung mencubit perut Heru dengan gemas. Ternyata, sejak menikah Heru jadi suka menggodanya dengan hal-hal yang menjurus.
"Sudah hampir malam, sebaiknya kita segera pulang...kasihan Ghazi kalau terlalu lama kena angin malam..."
"Ya Mas, ayo kita pulang..."
Mereka pun akhirnya pulang ke rumah. Dan ternyata di rumah Mama sudah menunggu kedatangan Ghazi.
"Dari mana saja kalian? Mama sudah kangen sama cucu Mama ini..."
__ADS_1
Mama meraih Ghazi dari gendongan Alina.
"Hanya jalan-jalan di taman saja Ma...Oh ya Ma besok Mas Heru sudah mulai berangkat kerja, jadi Ghazi biar sama aku lagi ya Ma, terimakasih banyak sudah membantu menjaga Ghazi..."
"Kenapa buru-buru Alina, harusnya kalian menikmati masa-masa bulan madu lebih lama kan...Mama nggak papa kok jagain Ghazi..."
Tampaknya Mama yang tak rela melepas cucu kesayangannya.
"Nggak Papa Ma, Ghazi tidak akan menganggu, lagi pula cepat atau lambat Ghazi memang harus tinggal bersama kami kan? Dan Mama tetap bisa bertemu cucu Mama setiap hari..."
Heru ikut bicara menenangkan Mama.
Mereka pun kembali ke paviliun setelah menitipkan Ghazi pada Mama.
Di pavilun, ternyata Bi Siti sedang sibuk menyiapkan makan malam di atas meja makan.
"Makan dulu Non..Den...saya permisi dulu..."
"Ya Bi, terimakasih banyak..."
Sepeninggal Bi Siti, Alina dan Heru saling memandang.
"Makan terus kita Mas?"
"Hahaha, nggak papa, sudah disiapkan nanti mubadzir, kamu kan memang harus banyak makan Alina..."
Alina mengambil sedikt nasi dan menyantapnya sambil setengah melamun.
Heru yang melihat Alina hanya diam sambil menatap nasi di piring, mencubit pipi Alina dengam gemas.
Alina segera tersadar dan tersenyum pada suaminya.
"Mas, kayaknya aku pengen ambil khursus masak sebelum mulai nerusin kuliah, masih ada waktu tiga bulan kan?"
"Begitu juga bagus, supaya kamu tidak bosan, tapi ingat jangan terlalu memaksakan diri kalau lelah...dan Ghazi tetap harus jadi prioritas yang pertama..."
"Tentu saja Mas, terimakasih banyak..."
Setelah selesai makan, mereka berdua masuk ke kamar.
Alina menyempatkan diri ke kamar mandi dan membersihkan diri sebelum tidur malam itu.
Tapi sepertinya Heru belum ingin tidur.
Heru menatap Alina dengan penuh arti.
"Ini adalah malam terakhir kita tanpa Ghazi..."
Heru mulai mendekat dan meraih pinggang Alina.
"Lalu?"
__ADS_1
Tanya Alina pura-pura polos.
"Kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya malam ini sayang..."
Tangan Heru mulai bermain di balik pakaian Alina.
"Argh..."
Alina mulai mengerang saat tangan Heru menyentuh bagian sensitifnya.
Alina merasa tidak siap, sebab dirinya hanya memakai pakaian seadanya dan belum berdandan.
"Sebentar Mas...'
Alina menahan tangan Heru, bersiap beranjak dari tempat tidur tapi Heru menahannya.
"Mau kemana sayang?"
"Aku mau ganti baju dulu Mas..."
"Tidak perlu sayang, pakaian apapun sama saja, nanti juga semua akan kulepaskan..."
Heru menarik tangan Alina hingga tubuh Alina jatuh ke pelukannya.
"Mas..."
Alina ingin bicara, tapi Heru sudah membubgkam mulutnya dengan ciuman lembut yang lama.
Heru kemudian membaringkan tubuh Alina di tempat tidur dan mulai membimbing Alina untuk ibadah bersama.
Alina sebenarnya merasa kurang percaya diri dengan penampilannya malam ini.
Tapi seolah mengerti apa yang dirasakan Alina, Heru memeluknya dengan erat dan mrnatap wajah Alina lekat-lekat.
"Kamu terlihat sangat cantik Alina ..."
Heru semakin tidak bisa menahan diri. Di kecupnya bibir Alina dengan penuh hasr*t dan tangannya berpetualang memyusuri setiap lekukan yang selama ini membuatnya penasaran.
Malam itu mereka saling mengeksplorasi, mengenal diri dan tubuh pasangan dengan cara yang paling intim hingga menyatukan jiwa dan raga dengan irama yang paling merdu. Menyesap dan meresapi kenikmatan surgawi, yang telah halal untuk mereka reguk berdua. Kenikmatan yang di anugrahkan Tuhan dan penuh berkah dalam ikatan suci pernikahan.
Bahkan setelah satu putaram selesai, sepertinya Heru belum mau melepaskan isterinya itu.
"Sudah Mas..."
Alina mencoba melepaskan diri, tapi Heru menahannua.
"Sekali lagi sayang, aku tidak akan melepaskanmu malam ini..."
Dan Heru pun kembali mengulangi permainannya dari awal. Alina yang semula sudah mengantuk pun kembali segar kerena ulah suaminya.
Tangan Heru kembali bergerilya, berpetualang menyusuri setiap lekukan, lembah dan bukit di seluruh tubuh istrinya. Menyesap manisnya madu dengan bibirnya yang panas membara.
__ADS_1
Alina yang semula hanya pasrah, perlahan-lahan mulai berani mmgekspresikan rasa cintanya. Membalas setiap perlakuan Heru dengan dekapan dan pelukan erat, hingga keduanya menyadari mereka sama-sama menginginkan satu sama lain. Perlahan namun pasti, akhirnya terjadi lagi penyatuan jiwa dan raga itu. Penyatuan yang penuh dengan kerelaan. Kali ini terasa lebih dalam dan intim. Merekapun terlena hingga rasanya tak ingin saling melepaskan.
Tanpa terasa satu malam telah berlalu tanpa sempat mereka berdua memejamkan mata.