Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 25


__ADS_3

Heru mengetuk ruang kerja Dokter Hendra dan mengucap salam.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam, masuk..."


Heru mendoring pintu dan melangkahkan kakinya ke dalam ruangan yang dipenuhi buku-buku itu. Disana tampak Dokter Hendra.sedang duduk sambil memyesap kopinya.


"Selamat malam Pa..."


Sapa Heru sambil setengah membungkuk lalu menyalami ayah mertuanya.


"Ya malam, duduklah ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu..."


Heru menurut dan duduk tepat di hadapan Dokter Hendra.


"Minumlah dulu, kamu akan butuh kopi sebab aku ingin nerbincang agak panjang malam ini.."


Heru menurut, mengambil cangkir lalu meneguk isinya hingga setengah.


"Tentu saja Pa, sebuah kehormatan bisa berbincang secara pribadi dengan Anda..."

__ADS_1


Kedudukan Dokter Hendra sebagai Dokter senior sekaligus pemilik rumah sakit, menjadikannya disegani banyak orang namun tidak mudah untuk bertemu dan berdiskusi secara langsung karena jadwal dokter Hendra yang sangat padat.


"Jangan bicara begitu, aku ingin berbincang denganmu sebagai keluarga dan kali ini akulah yang punya kepentingan denganmu. Setinggi-tingginya manusia pastilah tetap membutuhkan pertolongan orang lain, karena itu tak pantas kita melebih-lebihkan atau merendahkan sesama..."


"Tentu saja Pa, aku juga berfikir demikian...jadi apa sebenarnya yang ingin Papa bicarakan denganku?"


"Ah, kau sudah tidak sabar rupanya. Anak muda zaman sekarang sukanya yang serba instan. Tidak sukakah kamu menemaniku menghabiskan barang beberapa menit berbasa-basi? Tapi baiklah mari kita bicarakan langsung ke inti persoaalan..."


"Maaf Pa, bukan begitu maksudku...terserah Papa saja ingin bagaimana, aku akan mengikuti..."


"Haha...jangan begitu, rileks saja, jangan tegang, aku ingin kita mengobrol sesantai mungkin...baiklah aku akan mulai ke inti persoalan. Yang pertama aku ingin mengucapkan terimakasih kepadamu karena kamu telah menunaikan amanah yang kami berikan dengam sangat baik dan menjaga kepercayaan yang kami berikan, terimakasih telah menjaga Alina, menjadi teman dan menyemangatinya hingga kami lihat Alina jauh lebih baik sejak kamu datang ke rumah ini, terimakasih untuk tetap menghormati Alina tanpa menyentuhnya meski status kalian di mata hukum adalah suami isteri yang sah...dan juga terimakasih sudah melakukan peran yang baik sebagai Ayah meski kamu bukanlah Ayah kandung bagi Gazhi, terimakasih sudah selalu ada untuknya sejak masih dalam kandungan sampai Gazhi lahir ke dunia..."


"Itu sudah sepantasnya saya lakukan dan itu tidaklah seberapa dibandingkan jasa keluarga anda dalam hidup saya..."


"Jangan seperti itu, kami menolongmu dengan tulus tanpa mengharap imbalan. Dan keadaan Alina adalah sesuatu di luar prediksi kami dan dengan terpaksa kami meminta tolong, bukan karena berharap akan balas budi..."


"Tentu saja Pa, aku tahu..."


"Sekarang Alina sudah melahirkan bayinya dan perlahan-lahan, aku melihat Alina sudah baik-baik saja dan mulai bisa beradaprasi dengan kehidupan dan status barunya sebagai seorang Ibu, jadi kurasa sudah cukup pertolongan yang kamu berikan untuk keluarga ini. Kami sangat mengerti kalau kamu punya kehidupan dan impian yang ingin kamu kejar. Kami tidak akan menahanmu lagi. Jadi mulai hari ini aku serahkan keputusan ada di tanganmu, kamu bisa pergi kapanpun kamu mau dan kapanpun kamu siap, kami akan membantumu mengurus proses perceraian tanpa merugikanmu. Tentang pekerjaan, kamu bisa melanjutkan karirmu di karya medika, bukan sekedar karena rumah sakit itu milikku, tapi secara obyektif aku bisa melihat bahwa kamu mampu. Dan selain itu, kami akan memberimu tempat tinggal di kota sebagai kompensasi atas jasa yang telah kamu lakukan. Ya perjanjian ini memang telah berakhir. Cepat atau lambat aku menyadari ini akan berakhir dan kami harus melepasmu, meski begitu ingatlah bahwa kamu sudah kami anggap seperti anak sendiri, baik sebelum atau sesudah kamu menikahi Alina. Jadi setelah ini, aku harap kita tetap menjalin silaturahmi sebagai keluarga. Tetaplah anggap Alina dan Alshad sebagai adik, dan anggaplah Gazhi sebagai keponakanmu, kapanpun kamu mau kamu boleh datang kesini dan jangan lupa, kalau kau sudah menemukan belahan jiwamu nanti, kau harus juga memperkenalkan dan membawanya ke rumah ini..."


Selama mertuanya berbicara panjang lebar, Heru hanya diam sambil mencerna semua kata-kata yang terucap. Meski dari awal Heru sudah diberitahu, tetap saja hal ini mengejutkannya.

__ADS_1


"Tentu saja Pa...kalianlah satu-satunya keluargaku, tanpa kalian aku hanyalah lelaki miskin sebatang kara, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan kalian....Dan tentang masalah perceraian, aku mohon waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu...terimakasih sudah memperlakukanku dengan sangat baik selama aku tinggal disini, aku benar-benar merasakan punya keluarga utuh yang hangat seperti yang selama ini kuimpikan..."


"Tentu saja, sepenuhnya kami serahkan keputusan ini padamu, baik waktu dan bagaimana caranya...bicarakanlah baik-baik pula dengan Alina...mungkin dia juga telah terbiasa dengan kehadiran dan kebaikanmu.."


"Tentu saja Pa, aku akan membicarakannya dengan Alina perlahan. Bagaimanapun juga Alina sedang menyusui dan perasaannya snagat sensitif..."


"Sepertinya kamu lebih tahu dia daripada aku, sepertinya sudah cukup...kamu boleh keluar...usiaku tak muda lagi, aku sudah ingin istirahat...kembalilah ke kamarmu dan kita bicarakan lagi hal ini lain kali..."


"Baik Pa, terimakasih banyak...Assalamualaikum...."


Heru melangkah keluar meninggalkan ruang kerja Dokter Hendra menuju kamarnya.


Heru merebahkan diri di tempat tidurnya tapi matanya belum ingin terpejam. Percakapannya dengan Dokter Hendra membuat hatinya gundah. Begitu cepat waktu berlalu, sepertinya baru kemarin Alshad datang ke kontrakannya untuk meminta pertolongan. Tapi sekarang dirinya sudah di 'usir' dengan cara halus. Kehadirannya sudah tidak dibutuhkan .Dan Heru harus sadar diri untuk segera pergi. Tak perduli bagaimana kata-kata itu terdengar manis dan penuh pujian, tetap saja dirinya sedang disingkirkan.


Tiba-tiba Heru merasa sia-sia dan apa yang dilakukannya tidaklah berguna.


Tapi kemudian di benak Heru kembali terlintas wajah polos Gazhi. Wajah seorang bayi mungil yang belum mengenal kejamnya dunia. Heru teringat kembali akan penggalan-penggalan momen kebersamaan dengan bayi mungil itu.


Gazhi memang bukanlah darah dagingnya, tapi dirinyalah yang pertama kali melihat Gazhi lahir ke dunia. Bahkan sebelum Alina sempat menimangnya. Dia mungkin bukan ayah kandungnya, tapi dirinyalah yang dipercayai untuk melantunkan adzan di telinga Gazhi sesaat setelah bayi mungil itu hadir di dunia.


Heru begitu hafal dengan suara tangis itu. Suara yang lantang dan keras. Seperti nama yang disematkan Heru untuknya, mungkin kelak Gazhi akan jadi pejuang yang tangguh. Sungguh belakangan ini Heru telah banyak mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk bayi itu. Heru mungkin bisa berbesar hati untuk melepas Alina. Namun untuk melepas Gazhi, entah mengapa dirinya sungguh tidak tega. Heru selalu merasa bayi kecil itu membutuhkan perlindungannya. Meski Heru tahu di rumah keluarga Dokter Hendra, Gazhi telah menjelma menjadi pangeran yang dicintai semua orang.

__ADS_1


__ADS_2