Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 18


__ADS_3

Entah mengapa sejak melihat Alina waktu itu, hati Heru jadi tak tenang. Mereka sudah sangat jarang bertemu atau sekedar bersinggungan. Tapi wajah Alina yang jelita tiba-tiba saja muncul dimana-mana. Saat Heru sedang membaca buku, saat Heru mengangkat tudung saji, tapi yang paling sering adalah menjelang waktu tidurnya, dimana terkadang Heru lupa membaca doa, tapi tak pernah lupa akan raut wajah Alina. Sejak itu pula Alina seperti menjelma menjadi hantu yang selalu membayangi hari-harinya.


Heru tak mengerti mengapa perasaannya tiba-tiba jadi begini. Telah lama Heru mengenal Alina. Bahkan sejak Alina masih berupa gadis ingusan yang belum lancar mengucap namanya.


"Mas Helu mau kemana? Mas Helu kalo pulang kemana? Kenapa nggak disini aja di lumah kita?"


Masih teringat jelas celoteh gadis ingusan yang selalu merengek memintanya untuk tetap tinggal setiap Heru akan kembali ke panti. Bagaimana mungkin dia bisa tertarik pada gadis yang sudah selayaknya dianggapnya adik?


Tapi Heru tak bisa memungkiri kenyataan. Heru tak bisa mengendalikan perasannya. Hingga akhirnya dengan enggan Heru harus mengakui pada dirinya sendiri, dia telah jatuh cinta pada Alina.

__ADS_1


Meski begitu, Heru harus sadar diri. Siapalah dirinya, seorang anak yatim piatu yang sebatang kara. Bahkan Ayahnya pun yang entah masih ada atau tidak, tidak pernah menginginkannya sejak dirinya lahir ke dunia. Sungguh Heru tak pernah berharap dirinya pantas bersanding dengan Alina, seorang putri dari seorang dokter yang terhormat, pemilik sebuah rumah sakit sekaligus seorang dermawan yang menjadi donatur tetap di panti tempat dirinya tinggal.


Jadi, Heru memilih untuk memendam perasaannya dan mengubur dalam-dalam harapannya kepada Alina. Ya, meski sesekali wajah ayu itu masih terlintas tiba-tiba di benaknya. Dan jika, sesekali Heru bertandang ke rumah Dokter Hendra, atas nama hubungan baik yang telah terbina selama ini, sesekali Heru berpapasan dengan Alina. Meski bibirnya tersenyum namun hatinya terasa sakit harus menanggung perasaan yang mustahil untuk berbalas.


Pada akhirnya, Heru memilih untuk menyibukkan diri dengan fokus belajar dan terus belajar. Heru menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan akademis dan semua itu masih di fasilitasi oleh Dokter Hendra yang dermawan. Jadi bagaimana mungkin dirinya punya harga diri untuk mendekati putrinya. Impian Heru adalah untuk menjadi dokter, termotivasi oleh Dokter Hendra, sosok yang selama ini sangat dikaguminya. Untuk itu Heru harus berusaha dan bekerj keras agar bisa dinterima di fakultas kedokteran di sebuah perguruan tinggi negeri. Siang dan malam Heru terus belajar dan belajar. Heru memang terlahir dengan kecerdasan diatas rata-rata. Tapi Heru juga sadar mungkin ada ratusan ribu orang yang bersaing untuk bisa masuk di fakultas kedokteran. Karena itu Heru tidak mau takabbur dan terus berusaha mengerahkan semua kemampuannya. Heru ingin masuk ke perguruan tinggi negeri dengan beasiswa agar tidak terlalu bergantung pada Doker Hendra, meski Dokter Hendra sudah berjanji akan menanggung pendidikannya dimanapun nanti Heru belajar. Heru juga ingin membuktikan kemampuannya sendiri agar Dokter Hendra tak kerasa sia-sia telah memfasilitasinya dengan pendidikan terbaik. Hasil tidak mengkhianati usaha. Heru akhirnya berhasil di terima difakultas kedokteran dengan beasiswa.


Setelah berhasil masuk ke fakultas kedokteran, Heru terus fokus untuk belajar dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan positif. Meski hari-harinya sudah penuh dengan berbagai rutinitas yang terkadang membuat otaknya hampir meledak, tapi entah mengapa di sela-sela waktunya, sesekali wajah Alina masih saja terlintas. Dan entah mengapa meski mulai banyak gadis yang mencoba menarik dan mencari perhatiannya, Heru sama sekali tidak tertarik dan tak berminat untuk membuka hatinya untuk wanita manapun juga. Heru hanya terus fokus pada impian dan masa depannya. Sampai kemudian, empat tahun berselang, Alina masuk kejurusan dan fakultas yang sama, sebagai juniornya.


Berbekal semua itu Heru pun menjadi oercaya diri. Heru yang sudah menyimpan perasannnya sekian lama akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Alina secara perlahan-lahan. Waktu pun ternyata mengubah Alina menjadi sosok yang berbeda dalam setiap fase pertumbuhannya. Di masa kecil, Heru melihat sosok Alina yang ceria, manja dan ingin selalu jadi pusat perhatian. Di masa remajanya Alina cenderung jutek dan sok sibuk dengan kehidupannya diluar rumah, hingga Heru seperti tidak mengenal Alina. Namun disaat dewasanya, Alina dimata Heru menjelma menjadi sosok wanita lembut yang cerdas dan santun, persis seperti Ibunya, namun tetap Alina tak kehilangan sifat manjanya. Dan hal itu membuat Heru semakin terpesona dan menjadi yakin bahwa Alina memang wanita impiannya.

__ADS_1


Alina pun terlihat menyambut baik pendekatan Heru. Alina tidak menolak saat Heru mengantarnya atau mengajaknya makan bersama. Alina pun selalu bersikap baik dan sopan kepadanya. Heru mengira semua itu adalah sinyal lampu hujau. Tapi Alina, ternyata hanyalah makhluk seperti kebanyakan perempuan lainnya. Isi hatinya tak mudah untuk di tebak. Dibalik semua sikapnya yang terbuka, entah apa sebenarnya yang ada di dalam hati dan pikirannya.


Dan saat Heru memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya, Alina menolaknya. Perasaan Heru saat itu hancur tak terkira. Harapan yang dipupuknya sekian lama telah porak poranda. Namun begitu, Heru tetap berusaha tampil tenang. Heru berusaha tetap berbesar hati dengan keputusan Alina. Hati tak bisa dipaksakan. Dan bukankah cinta tak harus memiliki? Begitu Heru mencoba menghibur dirinya sendiri? Heru tetap bersikap selayaknya kakak sekaligus sahabat untuk Alina.


Tapi kemudian, ada hal lain yang lebih menghancurkan Heru. Hanya sebulan berselang setelah Alina menolak cintanya, Heru mengetahui Alina justru memilih pria lain untuk menjadi pacarnya.


Hati Heru kembali patah untuk ke sekian kalinya karena wanita yang sama. Dan sejak saat itu, Heru lebih memilih untuk menjauh dari Alina.


Heru bukanlah lelaki bodoh yang akan berlarut meratapi kisah cintanya yang menyedihkan. Heru segera bangkit dan mengejar impiannya dengan lebih giat. Heru fokus untuk menyelesaikan pendidikannya dengan lebih cepat karena program beasiswa yang diterimanya punya batas waktu. Heru akhirnya berhasil lulus, lalu dilanjutkan dengan koas, hingga kemudian Heru mengabdi di sebuah rumah sakit daerah. Heru mencoba menikmati setiap proses yang dilaluinya dan perlahan-lahan, Alina bukan lagi menjadi fokus di kehidupannya. Heru belum menemukan wanita yang bisa meluluhkan hatinya seperti Alina. Tapi setidaknya Heru sudah hidup dengan tenang tanpa harus memikirkan percintaan yang hanya akan membuang energinya.

__ADS_1


Dan saat semua telah berjalan sebagaimana mestinya, tiba-tiba Alshad datang dengan membawa berita yang mengejutkan dimana dirinya terpaksa harus berurusan lagi dengan Alina.


__ADS_2