
Heru terbangun dengan terkejut saat mendengar suara tangisan bayi ada di dekatnya. Heru membuka matanya dan mendapati Gazhi ada di depannya. Di gendongan Alina bayi kecil itu menggapai-gapai, seolah tangan kecilnya mencari sesuatu. Alina terlihat berusaha menimang-nimangnya, tapi Ghazi tak berhenti menangis. Sebenarnya Alina sedang merasa kesal, sebab seharian ini Gazhi agak rewel dan membuatnya lelah. Hanya jika Gazhi sedang tidur nyenyak, Alina bisa sedikit mengambil nafas, itupun Gazhi sering terbangun minta asi, walau setelah itu tidur lagi. Alina bahkan belum sempat tidur, sebab tadi saat Gazhi tidur lumayan nyenyak, Alina malah memanfaatkan waktunya untuk mandi dan berdandan.
Heru lalu mengusap matanya, kantuk yang masih tersisa berusaha di tepisnya. Heru segera bangkit berdiri dan menghampiri Alina.
"Coba biar aku gendong..."
Dengan ragu-ragu Alina menyerahkan bayinya pada Heru. Heru lalu menggendong dan menimang-nimang Gazhi sambil berjalan kesana kemari. Perlahan-lahan tangis bayi itu pun mereda dan kemudian Gazhi kembali tertidur nyenyak.
"Alina, kamu terlihat lelah, istirahatlah atau lakukanlah hal-hal yang membuatmu lebih rileks...mengasuh bayi butuh energi yang prima dan hati yang gembira, karena bayi juga akan bisa ikut merasakan emosimu, kalau kamu sedang bersedih bayimu akan lebih mudah rewel..."
"Ya, terimakasih banyak...ternyata menjadi Ibu tidak semudah yang kupikirkan..."
Alina berniat mengambil Gazhi dari gendongam Heru, tapi Heru mencegahnya.
"Kamu bisa meninggalkannya bersamaku, aku masih ingin menggendongnya, biasanya bayi akan tidur lebih nyaman di gendongan..oh ya, tadi aku mampir membeli es krim coklat dan puding saat pulang, ambilah di kulkas, makanlah sambil bersantai sejenak..."
Alina merasa sungkan, tapi tak urung Alina menuruti saran Heru. Alina mengambil puding dan es krim coklat dalam mangkuk kecil dan kembali duduk disamping Heru.
"Terimakasih banyak, Mas Heru mau kuambilkan juga?"
__ADS_1
"Tidak usah, aku nanti saja...kamu makanlah dulu..."
Heru menatap lamat-lamat ke arah Gazhi yang tengah terlelap diatas pangkuannya. Lalu pandangannya beralih pada Alina yang sedang duduk di sampingnya sambil menikmati es krim.
Dalam pikirannya Heru sempat terbersit, andaikan ini nyata dan mereka adalah keluarga kecilnya. Tapi Heru segera menepis pikiran itu sebab Heru sadar, kehadiran dirinya disini tak lebih dari sekedar pemeran sandiwara.
Heru lalu kembali menatap Gazhi yang terlihat nyaman di pangkuannya. Tiba-tiba Heru teringat akan masa lalunya. Siapakah dulu yang menimang dan menggendongnya disaat dia masih bayi merah sekecil Ghazi? Terkadang terbersit pertanyaan kecil itu dibenaknya, meski Heru tahu dia takkan menemukan jawabannya.
Gazhi terlihat amat kecil, tampan, sekaligus menggemaskan. Bagaimana mungkin bayi manis ini tidak diinginkan oleh ayahnya? Perasaan senasib membuat Heru begitu bersimpati pada Gazhi. Heru tidak rela jika ada bayi-bayi bernasib sama seperti masa lalunya. Heru tahu benar bagaimana luka batin yang dialami anak-anak seperti dirinya. Perasaan terbuang dan tak diinginkan kerap menghampiri. Dan rasa percaya dirinya harus dia pupuk dengan susah payah hingga dia berhasil menggapai kesuksesannya. Bahkan hingga kini, Heru masih merasakan ada lubang kecil di hatinya yang mungkin tidak pernah tertutup. Dirinya bagaikan manusia yang tak lengkap. Dan Heru sungguh tak ingin Ghazi mengalami dan merasakan apa yang pernah terjadi pada dirinya dulu.
Alina akhirnya menyantap es krim coklat yang terasa meleleh di mulutnya dan puding coklat yang lezat. Dan seketika suasana hatinya menjadi lebih baik.
Alina menoleh kesamping dan mendapati Heru sedang memangku Gazhi dengan mata terpejam. Hati Alina menghangat. Tapi perasaan bersalah itu masih dominan. Dan Alina sungguh menyesal telah menjadi penyebab dari semua kekacauan ini.
Di hari-hari selanjutnya Alina sudah merasa lebih baik dan lebih tenang saat mengasuh Ghazi. Mungkin karena kondisi kesehatannya yang sudah semakin baik dan juga karena terbiasa. Tapi selain itu, kehadiran Heru yang selalu ada untuk Ghazi dan menyemangatinya menjadikan Alina punya motivasi lebih untuk jadi Ibu yang lebih baik. Sebelum berangkat bekerja Heru selalu menghampiri dan menggendong Ghazi. Diajaknya Ghazi bermain-main sebentar di taman depan, sebelum kemudian Heru berpamitan dan berpesan pada Alina agar menjaga Ghazi dengan baik. Padahal Alina merasa Ghazi r adalah tanggung jawabnya. Tanpa diminta pun sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga Ghazi.
Sepulang bekerja, Heru selalu langsung mandi dan berganti baju bersih. Heru lalu mencari Ghazi dan menimang-nimangnya. Jika Ghazi sedang tidak tidur, Heru akan mengajaknya bercakap-cakap seolah bayi itu bisa mengerti. Kadang Heru juga mengajak Gazhi menyanyi atau membacakan buku dongeng. Tidak jarang juga Heru ikut memandikan Gazhi saat sedang libur. Alina merasa kehadiran Heru persis selayaknya seorang Ayah bagi Ghazi. Tapi disisi lain ada kekhawatiran tersendiri yang dirasakan Alina.
"Mas Heru, kamu tidak perlu memperlakukan Ghazi dengan berlebihan begini, kejarlah kebahagianmu dan masa depanmu sendiri, kami sudah terlalu banyak membebanimu..."
__ADS_1
Suatu hari Alina memilih mengungkapkan kegundahannya pada Heru.
"Aku hanya ingin Ghazi mendapatkan kasih sayang sebagaimana mestinya, lagi pula aku senang bisa melakukannya dan menghabiskan waktu dengan Ghazi, dia anak yang menggemaskan...", Heru menjawab Alina dengan jujur, karena sungguh dia melakukan semuanya dengan ikhlas tanpa paksaan.
"Tapi apa yang bisa kamu berikan hanyalah sementara, suatu saat dia akan merasa kehilangan dan mungkin sulit baginya untuk beradaptasi tanpa kehadiranmu..."
Alina berusaha menjelaskan maksudnya. Heru pun tersadar, kemana sebenarnya arah pembicaraan Alina.
Tanpa menjawab perkataan Alina lagi, Heru pun memilih beranjak masuk ke kamarnya.
Di dalam kamarnya Heru mencoba merenungi maksud dari perkataan Alina. Heru memang menyadari arti dirinya bagi Alina yang hanya sementara, tapi sepertinya Heru lupa menyadari bahwa bagi Ghazi pun dirinya hanya sementara. Mungkin karena rasa simpati atau memang pesona bayi mungil itu begitu kuat hingga membuat dirinya terlena. Heru terus memikirkamnya sampai kemudian terdengar ketukan pintu dari luar. Dengan malas Heru beranjak untuk membuka pintu. Ternyata Alshad yang berdiri di balik pintu.
"Ada apa?", tanya Heru tak ingin berbasa-basi.
"Belum tidur bro? Papa pengen ngobrol sama lo sekarang, bisa?"
"Sebentar, gue ganti baju dulu..."
"Ok, Papa udah nungguin lo di ruang kerja..."
__ADS_1
"Ok, tar gue kesana..."
Dalam hati Heru bertanya-tanya, ada apakah gerangan Ayah mertuanya memanggilnya untuo bicara malam-malam begini. Heru segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih pantas, lalu bergegas untuk menemui Ayah mertuanya yang telah menunggunya.