
"Jangan pergi dulu bro, ada yang pengen gue bahas sama lo..."
Heru pun mengurungkan niatnya untuk melangkah pergi.
"Ada apa kakak ipar?"
Sapaan Heru entah mengapa terdengar lucu dan membuat Alshad yang semula ingin bicara serius jadi tertawa.
"Kenapa? apa ada yang salah?"
"Jangan panggil seperti itu, panggil saja seperti biasa, panggilan itu terdengar menggelikan..."
"Baiklah, gue kan cuma harus patuh pada perintah kalian..."
"Jangan bicara begitu, kita melakukan ini semua demi Alina..."
"Ya gue mengerti, tapi seharusnya kalian juga peduli pada kondisi Alina bukan hanya mementingkan nama baik semata. Gue lihat Alina sekarang selalu nampak murung dan kurang bersemangat, gue khawatir hal itu bisa mempengaruhi kesehatan dan kehamilannya..."
"Ya lo benar, kita juga mengkhawatirkan hal itu, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan karena Alina masih menutup diri dan hanya bicara seperlunya saja sama kita. Gue harap sama lo dia bisa sedikit lebih terbuka dan berbagi bebannya...tapi ingat jangan sekalipun coba menyentuhnya!"
Alshad sengaja memberi penekanan pada kalimat terakhirnya.
"Apa dimata lo gue terlihat seperti itu? Jangan samakan gue dengan lelaki brengs*k itu!"
"Bukan begitu bro, gue cuma khawatir kalau kalian terbuai dan melewati batas. Gue tahu sejak dulu lo mencintai Alina dengan tulus. Bersabarlah sedikit dan lo boleh berusaha meraih hatinya. Jika nanti setelah Alina melahirkan kalian sepakat untuk menikah ulang, tentu kami akan merestui dan turut berbahagia untuknya..."
"Terimakasih, gue akan mempertimbangkannya nanti..."
"Oh ya sebenernya gue pengen minta tolong sesuatu sama lo, seharusnya Alina ada jadwal kontrol ke dokter kandungan minggu depan, tapi nggak tahu kenapa Alina ngotot minta diantar kontrol besok, lo bisa kan anterin Alina? Jadwal praktek Dokter Erika jam empat sore, beliau udah tahu kalau Alina hamil sejak sebelum nikah sama lo, tapi kita udah wanti-wanti sama beliau buat jaga rahasia. Kita butuh lo yang anterin Alina karena sekarang lo adalah suami Alina. Disana banyak kolega dan pegawai Papa, kita harus jaga nama baik Papa disana, lo ngerti kan apa maksud gue?"
"Ya gue ngerti, gue bakal anterin Alina dan bakal berperan dengan baik sebagai suami siaga untuk Alina, jadi lo nggak perlu khawatir..."
"Thanks bro, gue tahu lo selalu bisa diandalin, tolong jaga Alina baik-baik..."
"Yoi bro.."
Setelah mengatakan itu Alshad kembali masuk ke rumah sedangkan Heru kembali ke paviliunnya.
__ADS_1
Di waktu yang dijanjikan, Heru sudah duduk di ruang tamu rumah Dokter Hendra, menunggu Alina bersiap dan keluar dari kamarnya. Ini adalah untuk pertama kalinya mereka akan pergi keluar berdua saja. Ya Dokter Hendra memberinya izin untuk menggunakan salah satu mobilnya untuk operasionalnya sehari-hari sekaligus untuk mengantar jemput Alina jika diperlukan.
"Maaf sudah menunggu lama..."
Suara lembut itu menyadarkan Heru dari lamunannya. Alina berdiri didepannya dengan mengenakan dress selutut berwarna biru muda dengan motif bunga kecil yang terlihat amat manis. Sayangnya wajah Alina yang manis nampak sedikit pucat sore itu.
"Tidak apa-apa, Alina apa kamu baik-baik saja?", Heru bertanya sungguh-sungguh khawatir.
"Ya, ayo kita berangkat..."
Alina melangkah mendahului Heru menuju sebuah mobil yang terparkir di halaman. Heru segera menyusul dan mensejajari langkah Alina.
"Hati-hati, pelan-pelan jalannya..."
Entah mengapa Heru merasa Alina sedikit ceroboh. Heru dengan sigap membukakan pintu mobil dan menunggu Alina masuk.
"Terimakasih, aku bisa sendiri..."
Heru segera beranjak menuju tempatnya.
Heru ingin sekali memulai percakapan tapi entah mengapa semua yang terlintas di otaknya tiba-tiba menguap. Bersama Alina membuatnya menjadi orang bodoh. Heru akhirnya memilih menyalakan musik untuk sedikit mencairkan suasana. Perlahan lagu all of me milik john legend mengalun menemani perjalalanan mereka yang terasa panjang.
Dan tiba-tiba saja di tengah perjalanan Alina mendadak berujar dengan panik.
"Mas Heru, tolong berhenti sebentar..."
Heru tidak mengerti apa maksud Alina.
"Berhenti dimana? mau apa? kamu perlu sesuatu...", tanya Heru dengan bingung.
"Tolong berhenti secepatnya, dimana saja..."
Ucap Alima dengan suara parau. Wajah Alina terlihat memerah menahan sesuatu.
Saat melihat minimarket di sisi kiri jalan, Heru akhirnya memilih menepikan mobilnya disana. Begitu mobil berhenti Alina buru-buru keluar dari mobil. Alina berjalan cepat menuju lahan kosong yang ditumbuhi rumput-rumput tinggi yang ada di samping minimarket itu. Heru menyusul Alina dan masih tak mengerti ada apa sebenarnya terjadi dengan Alina.
Ternyata di sana Alina sedang terbatuk-batuk, memuntahkan isi perutnya dalam jumlah yang lumayan banyak. Heru baru mengerti arti kepanikan dan wajah Alina yang memerah. Ternyata ada-ada saja kesulitan yang harus di alami wanita hamil.
__ADS_1
Heru membantu menepuk-nepuk tengkuk Alina.
Begitu selesai Alina langsung melangkah menjauh.
"Maaf jadi begini, harusnya Mas Heru tidak perlu mengikutiku...", ucap Alina dengan sungkan.
"Tidak apa-apa, sudah selesai? apa kamu merasa lebih baik sekarang?"
"Ya, aku sudah tidak apa-apa...ayo kita teruskan perjalanan..."
Alina melangkah menuju mobil. Sementara Heru memilih masuk ke minimarket untuk membeli sesuatu. Heru mengambil tissu, air mineral dan beberapa macam camilan lalu membayarnya di kasir. Setelah selesai Heru memyusul Alina masuk ke mobil. Heru pun memberikan semua belanjaannya kepada Alina.
"Makanlah sedikit, aku lihat tadi semua makananmu keluar..."
"Terimakasih banyak..."
Kali ini Alina menurut. Alina meneguk air mineral dan memakan roti isi coklat yang diberikan Heru.
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit Karya medika. Heru membantu Alina turun. Tidak perlu menunggu lama, begitu datang Alina langsung dipanggil untuk masuk ke ruang dokter Erika. Alina memang sudah melakukan reservasi sebelumnya.
"Selamat sore Dok..."
"Selamat sore Nyonya Alina dan suami, wah akhirnya kedatangan pengantin baru..."
Dokter Erika tersenyum ramah menyambut pasiennya.
"Bagaimana kondisimu Alina, apa ada keluhan dengan kehamilan pertama ini?"
Alina lalu bercerita bahwa dirinya sempat mengalami flek beberapa hari terakhir. Alina juga mengeluhkan dirinya yang kerap merasa mual dan muntah hingga sulit sekali menyantap makanan dalam porsi yang cukup.
Setelah mendengarkan keluhan Alina, Dokter Erika melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Heru terus mendampingi dan mendengarkan baik-baik apa yang di katakan Dokter Erika. Heru benar-benar ingin tahu bagaimana kondisi Alina dan bayi yang dikandungnya.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dokter Erika meminta Heru dan Alina kembali duduk.
"Kandungan Nyonya Alina sedikit lemah, sementara saya akan berikan obat penguat kandungan, jika flek masih terjadi silahkan segera datang ke rumah sakit. Oh ya, dalam dua minggu ke depan Nyonya Alina harus bedrest. Setelah itu silahkan kontrol kembali. Saya akan mengevaluasi perkembangan Ibu dan Bayi. Dan ingat untuk sementara waktu hubungan suami isteri tiidak diperbolehkan..."
Mendengar penjelasan dokter Erika membuat Heru khawatir, meski begitu kalimat terakhir Dokter Erika justru membuat pikiran Heru berkelana.
__ADS_1