
Setelah selesai memeriksakan kandungannya, Heru langsung mengajak Alina pulang. Penjelasan dokter tentang kondisi Alina membuat Heru lebih berhati-hati memperlakukan Alina.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau mengalami flek?"
Heru sedikit kesal dengan sikap Alina yang suka menutupi sesuatu. Padahal hal semacam itu harus cepat ditangani kalau tidak bisa berbahaya.
"Fleknya tidak banyak, aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir berlebihan, karena itu aku menyampaikannya langsung pada Dokter Erika, maaf sudah merepotkanmu..."
"Aku sama sekali tidak merasa repot Alina, aku hanya mengkhawatirkanmu dan bayi yang ada di kandunganmu...."
Tidak mau berdebat lebih jauh dan takut hal itu malah membuat Alina tertekan, Heru akhirnya mengganti topik pembicaraan.
"Kamu ingin makan apa? Kamu baru makan sedikit camilan setelah muntah tadi, sebaiknya perutmu segera diisi, kasian bayi di perutmu kalau kamu terlambat makan...."
Alina terdiam sejenak, sebelum kemudian bicara dengan ragu-ragu.
"Sebenarnya aku ingin sekali makan kwetiau goreng di restoran selera rasa, tapi tidak usah restoran itu lumayan jauh dari sini, nanti membuang waktumu..."
Alina merasa sungkan untuk meminta sesuatu yang tidak begitu penting pada Heru, tapi disisi lain entah mengapa Alina benar-benar menginginkannya.
"Baiklah, ayo kita kesana, aku juga sudah lama tidak makan disana, memang kwetiau disana enak sekali, aku jadi ikut lapar..."
Heru segera mengemudikan mobilnya ke arah restoran selera rasa. Restoran selera rasa adalah rumah makan legend yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Rumah makan itu kwetiau goreng disana adalah yang terenak yang pernah dicobanya. Rumah makan itu adalah rumah makan langganan dan favorit keluarga Dr.Hendra. Heru pernah diajak makan disana oleh keluarga Dr Hendra saat masih duduk di bangku SMP. Heru kecil langsung takjub dan mengklaim bahwa itulah makanan terenak yang pernah disantapnya waktu itu. Jadi sekarang rasanya tidak ada salahnya kalau dirinya sedikit bernosnalgia bersama Alina untuk menyantap hidangan spesial itu.
Dalam perjalanan yang cukup memakan waktu itu ternyata Alina sampai jatuh tertidur. Heru menurunkan sandaran kursi agar Alina merasa lebih nyaman. Dan sampailah mereka di tempat yang dituju. Alina langsung terbangun begitu mobil berhenti.
"Kamu tunggu disini saja, biar aku yang turun..."
Heru langsung beranjak tanpa menunggu jawaban Alina yang masih mengerjap-ngerjapkan matanya.
Heru memesan sepuluh bungkus kwetiau goreng spesial agar bisa dimakan semua anggota keluarga dan juga para pegawai di rumah Dr Hendra. Untunglah pelayanannya cukup cepat dan tidak terlalu banyak pengunjung malam itu. Mungkin karena harga kwetiau disana lumayan mahal untuk makanan sejenisnya. Hanya menunggu dua puluh menit semua pesanan sudah siap.
"Kamu makan di mobil saja ya? Terlalu lama kalau menunggu sampai di rumah..sedang kalau makan disini aku takut kita pulang terlalu larut lagi pula kan kamu butuh beristirahat..."
Heru segera sibuk membuka kwetiau dalam wadah plastik tahan panas dan menghidangkannya untuk Alina.
"Terimakasih banyak, lagi-lagi aku merepotkanmu..."
Heru segera memacu mobilnya untuk pulang ke rumah dokter Hendra.
__ADS_1
Melihat disampingnya Alina sedang makan dengan begitu lahap membuat Heru merasa puas. Tidak sia-sia dirinya jauh-jauh mengemudi ke selera rasa.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat. Dan sampailah mereka di depan rumah Dokter Hendra. Tanpa aba-aba sudah ada satpam yang bergegas membukakan pintu pagar untuk mereka.
Heru menurunkan Alina tepat di depan pintu rumah utama. Dan disana ternyata ada Bi Siti yang sedang berdiri menunggu kedatangan mereka.
"Dari mana saja Non? Tuan dan Nyonya khawatir menunggu Non Alina sejak tadi..."
"Mas Heru langsung saja parkirkan mobil lalu istirahat di paviliun, biar aku yang bicara sama Papa dan Mama..."
Alina langsung membuka pintu dan melangkah keluar.
"Tunggu!"
Alina menoleh ke arah Heru.
"Ini bagaimana?"
Tanya Heru sambil mengacungkan bungkusan kwetiau goreng yang tadi dibelinya.
Alina langsung menyambar bungkusan makanan itu lalu memberikannya pada Bi Siti.
"Kamu juga Alina, ingat kamu harus bedrest total!"
Tapi Alina sudah keburu melangkah masuk ke dalam rumah. Mau tidak mau Heru beranjak untuk memarkirkan mobil lalu masuk ke paviliun yang kini menjadi tempat tinggalnya.
Hari yang cukup melelahkan. Akhirnya Heru memilih tidur lebih awal.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Bi Siti sudah bertandang ke paviliun Heru.
"Maaf Den, pagi ini disuruh Tuan dan Nyonya untuk sarapan di rumah utama, sudah ditunggu di meja makan..."
"Wah Bi kenapa memberi tahunya mendadak?"
Heru baru saja selesai mandi dan akan berganti pakaian. Pagi itu dia bangun agak kesiangan dan rencananya dia mau sarapan di jalan saja.
"Tidak tahu Den, saya juga baru saja dapat perintah..."
"Baiklah, saya ganti baju sebentar, Bibi duluan saja..."
__ADS_1
"Baik Den..."
Heru segera ganti pakaian secepat kilat lalu melangkahkan kaki ke rumah utama. Benar saja semua anggota keluarga Dr Hendra sudah menunggunya.
"Maaf saya terlambat bergabung untuk sarapan bersama..."
"Tidak apa-apa, saya yang lupa memberitahumu...oh ya mulai sekarang, sebaiknya kamu selalu sarapan dan makan malam di rumah bersama kami, bagaimanapun kamu sudah kami anggap sebagai keluarga kami sendiri..kecuali jika memang kamu sedang ada acara di luar..."
"Baiklah Dr Hendra, terimakasih banyak untuk tawarannya..."
"Dan ingat mulai sekarang kamu harus memanggilku Papa dan juga memanggil istriku Mama. Aku tidak ingin kita melakukan kesalahan yang membuat orang luar curiga..."
"Baik Pa.."
"Oh ya, saya ingin mengucapkan terimakasih karena kemarin kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik, mengantarkan Alina pergi kontrol kerumah sakit, meskipun kalian pulang terlalu malam..."
"Maaf..."
"Tidak perlu minta maaf, justru saya yang harus berterimakasih lagi karena kamu terlambat mengantar Alina pulang demi membeli kwetiau goreng kesukaan kami semua, sepertinya lain kali kita harus pergi kesana bersama, hahahaha..."
Heru pun ikut tertawa mengimbangi Dokter Hendra.
"Oh ya, satu lagi, hari ini saya ingin kita berangkat ke rumah sakit bersama-sama, saya ingin memperkenalkanmu secara resmi sebagai menantu kepada semua pejabat dan pegawai rumah sakit Karya Medika, kamu tidak keberatan kan?"
"Tentu saja tidak Pa..."
Setelah selesai berbasa-basi, mereka mulai menikmati hidangan yang berjejer di meja makan.
Di tengah acara sarapan yang nikmat itu, tiba-tiba saja Alina datang dan bergabung di meja makan. Tanpa merasa sungkan Alina langsung duduk dan mengambil nasi beserta lauk pauk lalu mulai menyantap makanannya seperti yang lainnya. Semua bersikap biasa, memaklumi tingkah Alina yang seperti itu. Tapi tidak dengan Heru.
"Alina, kenapa kamu ikut sarapan disini?"
Tanya Heru dengan curiga.
"Ada apa memangnya? ini rumahku dan sudah semestinya aku disini kan?"
"Bukan begitu, bukankah Dr Erika menyarankan agar kami bedrest total, alangkah baiknya kalau kamu juga sarapan di kamar saja..."
Semua terpengarah mendengar ucapan Heru. Sepertinya Alina belum bercerita dengan jujur mengenai keadaannya.
__ADS_1