
Sejak awal saat Alina meminta izin untuk pergi sendirian, Heru sudah merasa curiga. Entah mengapa Heru merasa khawatir jika nantinya terjadi sesuatu pada Alina. Kebetulan sekali hari itu Heru sedang libur. Dan Heru pun akhirnya memilih untuk mengikuti Alina secara diam-diam. Heru selalu menjaga jarak, agar Alina tidak menyadari kehadirannya.
Dan betapa terkejutnya Heru saat mengetahui bahwa tujuan Alina keluar rumah adalah untuk menemui Dirga, mantan kekasihnya. Heru tidak habis pikir, untuk apa Alina masih harus mencari Dirga? Tapi meski begitu, Heru akhirnya memutuskan untuk membiarkan Alina melakukan apa yang ingin dilakukannya. Heru hanya terus mengamati dari kejauhan untuk berjaga-jaga.
Dari kejauhan Heru bisa melihat Alina mulai menghampiri Dirga. Dari reaksi Dirga yang tampak terkejut, Heru bisa menduga bahwa Dirga tidak siap dengan kedatangan Alina. Alina mungkin sudah mencari informasi tentang keberadaan Dirga dan sengaja menemuinya langsung. Lamat-lamat, Heru berusaha menguping pembiacaraan dua orang itu.
Heru melihat bagaimana mereka berdebat dan bertengkar. Hati Heru merasa sakit melihat Alina diabaikan dan direndahkan, setelah apa yang selama ini terjadi di antara mereka.
Heru melangkah perlahan, mendekat ke tempat Alina.
"Gue nggak takut, tanggung jawab apa yang lo minta? Berapa yang harus gue bayar sama lo?"
Heru bisa mendengar dengan jelas ucapan Dirga yang begitu amat merendahkan Alina. Dan Heru tidak bisa menerimanya.
Heru melihat bagaimana Alina merasa geram dan ingin menampar laki-laki itu lagi. Tapi Heru tak ingin Alina mengotori tangannya lagi.
"Sudah Alina, ayo kita pulang..."
Heru memegang erat tangan Alina dan menuntunnya untuk melangkah pergi. Alina tampak terkejut dengan kedatangan Heru. Tapi Alina tidak ingin pulang, Alina tidak mau kedatangannya kali ini sia-sia.
"Aku belum ingin pulang!"
Alina menarik tangannya dari cengkraman Heru dan berbalik kepada Dirga.
"Kamu harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja! Ingat itu!"
Tapi Dirga justru tertawa mengejek sambil melihat kebarah Heru.
"Bagaimana Pak Dokter, kamu senangkan akhirnya bisa mendapatkan Alina? Aku masih ingat bagaimana dulu dia menolakmu dan akhirnya memilihku sebagai kekasih. Tapi tenang saja, sekarang aku sudah tidak menginginkannya lagi, kamu boleh mengambilnya sekarang? Tapi ingat, yang kamu miliki itu sudah kupakai dan kamu hanya mendapatkan barang bekas, hahahaha..."
Dirga kembali tertawa mengejek. Kali ini, Heru sudah tidak bisa menahan diri. Heru maju dan memukul Dirga di wajahnya, hingga Dirga jatuh terhuyung. Setelah itu Heru langsung menarik tangan Alina agar segera pergi dari tempat itu.
"Ikut aku, jangan membantah!"
Melihat wajah Heru yang merah padam karena amarah, Alina pun tak berani berkutik. Alina menurut saja saat Heru menarik tangannya dengan kencang dan membawanya masuk ke mobil. Heru baru melepaskan genggaman tangannya saat Alina sudah duduk di mobil dan Heru pun segera masuk dan memacu mobilnya pergi meninggalkan tempat dimana Alina menemui mantan kekasihnya.
Beberapa saat mereka hanya saling diam. Lalu tanpa sengaja Heru melihat bekas cengkramannya di pergelangan tangan Alina yang meninggalkan bekas kemerahan.
__ADS_1
"Maaf, tadi aku terlalu kasar padamu...", ucap Heru akhirnya.
Alina hanya diam.
"Tidak seharusnya kamu melakukan hal yang kekanak-kanakan seperti itu, biar bagaimanapun di mata orang luar kita adalah sepasang suami istri yang sah. Apa yang kamu lakukan sangat melukai harga diriku sebagai seorang suami..."
Heru ingin Alina sadar bahwa yang dilakukannya tidaklah benar.
"Maafkan aku...", Alina bicara dengan wajah tertunduk.
"Apa kehadiranku di sisimu tidak cukup sampai-sampai kamu masih mengharapkan laki-laki br*ngsek itu?"
Heru sungguh tidak habis pikir. Dan hatinya terasa sakit. Seolah apa yang dilakukannya tidak ada artinya dan semua pengorbanannya sia-sia.
"Maafkan aku...bagaimanapun dia adalah ayah dari bayiku. Aku tidak ingin membebanimu dengan tanggung jawab yang tidak seharusnya..."
"Tapi bukan berarti kamu harus mengemis seperti tadi!"
"Mas Heru, kamu tidak akan mengerti, apapun akan dilakukan seorang Ibu untuk anaknya, jangankan untuk sekedar mengemis...Mas Heru pernikahan kita hanyalah sementara. Hanya demi nama baik semata, kelak kita bercerai tidak akan ada lagi yang tersisa, anak ini tetap tidak akan memiliki Ayah..."
"Alina, apakah setelah ini kamu masih akan menemuinya lagi?"
"Entahlah, aku belum tahu. Tolong jangan beritahu hal ini pada orang tua dan keluargaku..."
"Baiklah, aku akan merahasiakan hal ini asal kamu mau berjanji satu hal.."
"Apa itu?"
"Berjanjilah untuk selalu jujur dan beritahu aku jika kamu mau menemuinya lagi, aku tidak akan ikut campur apapun urusanmu, tapi aku punya tanggung jawab terhadapmu selama status kita masih suami istri, kamu mengerti kan?"
"Baiklah, aku kan memberitahumu nanti..."
"Biarkan aku mengantar dan menjagamu Alina..."
"Terimakasih banyak, pasti akan beruntung sekali wanita yang akan berjodoh denganmu kelak...maaf aku hanya selalu merepotkanmu sejak kita kecil..."
"Jangan begitu, kamu dan keluargamulah yang telah mengangkat hidup dan derajatku, ini tidaklah seberapa..."
__ADS_1
Heru akhirnya membawa Alina mampir ke festival kuliner sebelumnya.
"Kenapa kita kesini?"
"Lihatlah, wajahmu sembab dan matamu terlihat bengkak, tidak mungkin aku membawamu pulang dalam keadaan seperti ini. Lagi pula aku sudah berjanji akan membawamu kesini lagi kan?"
"Terimakasih banyak...", ucap Alina tak bisa menyembunyikan rasa harunya.
"Pergi ke toilet dan cuci wajahmu dulu, baru setelah itu kita cari makanan..."
"Baiklah, aku pergi dulu.."
"Aku tunggu di bangku sana..."
Setelah Alina selesai mencuci wajahnya, mereka lalu berkeliling mengujungi stand-stand kuliner yang semuanya terlihat menggiurkan. Entah mengapa Heru melihat Alina tidak seceria seperti sebelumnya.
Alina hanya memesan sepiring siomay dan es jeruk. Heru pun akhirnya memilih menu yang sama dan mereka duduk untuk menyantap makanan itu.
"Alina, apapun masakah yang sedang kamu hadapi, ingatlah untuk tetap bahagia dan jaga selalu kesehatanmu, jangan sampai karena masalah ini kehamilanmu jadi terganggu..."
"Tentu saja, aku mengerti, terimakasih sudah mengingatkan..."
Setelah selesai menyantap makanannya mereka akhirnya pulang kerumah. Kondisi Alina sudah terlihat jauh baik sekarang.
Mereka pulang saat hari hampir gelap. Dan ternyata di rumah Papa dan Mama tengah menunggu dengan khawatir. Mereka menjadi lega saat melihat Alina pulang bersama Heru.
"Dari mana saja Alina? Mama mu menunggumu sejak tadi dan terus menanyakanmu..."
Alina terlihat ragu untuk menjawab.
"Alina pergi bersama sahabat-sahabatnya Ma, biasa perempuan kalau sudah bergosip suka lupa waktu. Aku berinisiatif untuk menjemputnya tadi.."
Heru menjelaskan kepada kedua mertuanya.
"Baiklah kalian istirahatlah, Alina pasti lelah seharian di luar.."
"Ya Ma, Pa, Alina ke kamar dulu.."
__ADS_1