
"Assalamulaikum..."
Suara salam Heru di depan pintu menyadarkan Alina. Alina tergeragap dan buru-buru menghapus pesan dari orang asing itu.
"Walaikum salam..."
Kompak anak-anak menjawab salam dari Ayahnya, sementara Alina masih membisu dengan tatapan kosong.
Heru mendekat dan mengangkat anak-anaknya satu persatu, lalu menciumi mereka dengan gemas.
"Wah, anak ayah belepotan, habis makan apa sayang?"
"Makan donat Ayah, ayah mau?"
Celoteh fatih sambil menyodorkan donat yang sudah hilang cream coklatnya.
"Terimakasih sayang..."
Heru pun melangkah ke kamar g
Untuk ganti baju, lalu cuci tangan sebelum kemudian bergabung bersama buah hatinya sambil menyantap donat pemberian fatih tadi.
Heru kemudian memandang Alina dan baru menyadari bahwa semenjak kedatangannya tadi Alina hanya diam dengan tatapan kosong.
Heru kemudian mendekati istrinya, merangkul dan mencium keningnya.
"Ada apa sayang?"
__ADS_1
Alina hanya menggeleng sambil tersenyum. Alina baru tersadar kalau sedari tadi dirinya mengabaikan suaminya.
"Nggak papa Mas, biar aku buatkan kopi dulu, sekalian siapkan air untuk mandinya..."
Alina beranjak untuk membuat kopi dan menyiapkan air mandi untuk Heru.
Sepanjang sisa hari itu Alina berusaha menjalani rutinitasnya seperti biasa. Menikmati waktu kebersamaan bersama keluarga tercinta dan melupakan hal-hal yang menganggu pikirannya.
Bahkan Alina memilih memasak makan malam sendiri untuk mengalihkan perhatiannya.
Sup ayam yang hangat dan tempe goreng menjadi pilihan menu di malam yang dingin itu.
Alina mengambilkan makan ke piring suaminya kemudian menyuapi si kecil Fatih. Sedangkan Ghazi sudah pintar makan sendiri.
"Sup buatan Ibu lebih enak, besok aku mau makan kayak gini lagi ya bu?"
"Tentu saja sayang, besok biar Ibu suruh Bi Siti belanja sayuran sama ayamnya dulu ya..."
Lelah Alina terbayarkan saat melihat semua naggota keluarganya makan dengan lahap.
Selesai makan, Bi Siti yang membereskan peralatan makan.
Sementara Heru dan Alina menemani anak-anak belajar dan bermain.
Pukul delapan malam, anak-anak sudah harus masuk ke kamar dan bersiap untuk tidur. Setelah terlebih dulu cuci tangan, kaki, dan gosok gigi mereka naik ketempat tidur. Alina bersama dengan Heru membacakan dongeng bergantian untuk menidurkan anak-anak.
Selesai membaca dongeng dan anak-anak sudah tertidur Alina dan Heru beranjak ke kamar mereka yang berada tepat di samping kamar anak-anak. Malam-malam sebelum tidur begini adalah moment mereka untuk merekatkan kembali hubungan setelah seharian sama-sama sibuk dengan aktifitas masing-masing. Sambil berpelukan dan sesekali mencuri ciuman, Heru bercerita tentang para pasiennya. Setelah mendengarkan cerita suaminya dengan antusias, Alina lalu mengajak Heru berdiskusi tentang pilihan sekolah anak-anaknya.
__ADS_1
Di tengah momen intim tersebut, tiba-tiba ponsel Alina bergetar. Alina malah menyingkirkan ponselnya ke atas meja, karena tak ingin pembahasan mereka terganggu. Tapi Heru malah menyurh Alina melihatnya.
"Dibuka dulu sayang, siapa tahu pesan dari Mama atau ada sesuatu yang penting..."
Alina menurut dan meraih kembali ponselnya.
Ternyata lagi-lagi itu adalah ponsel dari nomer asing sama seperti tadi sore.
Selamat malam Alina, selamat tidur...
Apa kamu merindukanku? Aku janji akan menemui sesegera mungkin..
ssstt...jangan bilang-bilang pada suamimu yang bodoh itu ya...
"Ada apa Alina?"
Heru menyadari mimik wajah istrinya berubah setelah membuka ponselnya.
"Nggak papa Mas, sepertinya orang salah kirim..."
Alina segera menghapus pesan diponselnya.
"Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kamu tidur sekarang, istirahatlah yang cukup, besok kan masih harus menghrus keperluan anak-anak dan berangkat kerja..."
"Ya Mas..."
Alina pun menyandarkan kepalanya di pelukan Heru.
__ADS_1
Heru merasa curiga, seperti ada sesuatu yang janggal dengan istrinya. Tapi Heru memilih untuk memejamkan mata dan mengabaikannya. Sebab dirinya merasa lelah dan benar-benar butuh istirahat.