
"Pergi kau dari hadapanku dan jangan ganggu hidupku lagi!"
Alina berteriak mengusir Dirga, karena sudah muak dengan kehadiran pria itu di hidupnya.
Dirga hanya tertawa mengejek.
"Aku akan pergi sekarang, tapi kupastikan kita masih akan bertemu lagi..."
Setelah mengucapkan itu, Dirga benar-benar melangkah pergi.
Sementara itu Alina yang terpekur sendiri di tempat parkir, akhirnya memilih untuk menepi dan berteduh di bawah pohon.
Alina mulai menduga-duga, bisa saja Heru pergi karena bertemu Dirga dan mungkin Dirga mengatakan hal yang tidak-tidak.
Alina ingin segera pulang untuk bertemu Heru dan memastikan semuanya. Namun saat ingin memesan taksi online, jarinya malah tanpa sengaja membuka pesan dari Dirga di mana terdapat kiriman video di dalamnya. Mata Alina terbelalak melihat rekaman dalam video tersebut.
Jadi ini yang membuat Mas Heru berubah sikapnya padaku?
Alina mencoba menyimpulkan.
Flashback
Alina ditidurkan di ranjang hotel berukuran king size. Selesai melaksanakan tugasnya, dua orang suruhan Dirga beranjak pergi. Tinggalah di kamar itu Dirga berdua saja dengan Alina. Dirga memandangi wajah Alina yang tak sadarkan diri. Ada terbersit penyesalan di dalam hatinya.
'Seharusnya aku dulu tidak melepaskanmu begitu saja, seharusnya dulu aku memilihmu, lalu kita akan bahagia hidup bersama Ghazi...tapi dulu aku begitu bodoh, tidak menyadari betapa berartinya dirimu...'
Dirga lalu mengulurkan tangannya ke arah Alina, berniat untuk membuka kerudung yang di kenakan wanita itu.
__ADS_1
Tapi hal itu urung dilakukannya. Akhirnya Dirga memilih merekam video, yang mungkin bisa mengabadikan kebersamaan mereka yang tak lama. Mungkin bisa menjadi sesuatu yang dikenangnya saat merindukan Alina atau....
Tiba-tiba sebuah ide terbersit di benak Dirga. Namun bersamaan dengan itu Alina terbangun.
Alina membuka mata dan mengerjap-ngerjap. Alina menoleh kekiri dan kenan, lalu mendapati Dirga berada di depannya.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa aku bisa berada disini?"
Tanya Alina pada Dirga.
Dirga sudah mematikan kameramya begitu melihat Alina terbangun.
"Menurutmu? Tentu saja aku ingin menghabiskan malam denganmu..."
Setengah bercanda Dirga menjawab, kemudian tertawa.
"Aku mau pulang!"
Ucap Alina akhirnya.
"Hey, kenapa buru-buru, kita bahkan belum melakukan apapun..."
Dirga mendekatkan tubuhnya, hingga wajahnya hanya berjarak sejengkal dari wajah Alina.
"Jangan macam-macam atau aku akan teriak!"
"Teriak saja kalau berani!"
__ADS_1
"Tolong....tolong...tolong...."
Teriakan Alina membuat Dirga kaget, lalu reflek membekap mulut Alina.
Meski teriakan itu tidak akan terdengar dari luar, tapi hal itu sempat membuat Dirga panik.
"Berhenti, tenang saja aku tidak akan melakukan apapun padamu!"
Setelah Alina sudah kembali tenang, barulah Dirga melepaskan tangannya.
"Ini sudah larut malam, terlalu beresiko kalau kamu memaksa pulang sendirian, dan pasti kamu akan menolak untuk ku antar bukan?"
Alina hanya diam dan menatap Arya penuh curiga.
Q
"Tidurlah disini, lalu pulanglah besok pagi, aku akan pergi..."
Alina hampir tak percaya dengan apa yang diucapkan Dirga. Tapi kemudian lelaki itu benar-benar melangkah pergi, meninggalkan dirinya sendirian.
Di dalam kamar hotel yang mewah itu, Alina tak kunjung bisa memejamkan mata. Lebih tepatnya Alina memang tidak mau.
Alina tidak berani pulang, sebab hari sudah tengah malam.
Alina akhirnya memilih untuk tetap terjaga sambil terus berdoa. Alina ingin memastikan bahwa tidak ada yang terjadi pada dirinya, sebab dirinya tidak bisa sepenuhnya percaya pada Dirga.
Ketika matahari sudah mulai menampakkan sinarnya, barulah Alina memutuskan untuk pulang.
__ADS_1