
Alina sempat berfikir bahwa masalahnya telah selesai dengan menjelaskan semuanya kepada Heru. Tapi entah mengapa, begitu mereka berdua berada di dalam mobil, sikap Heru kembali menjadi dingin. Tak ada sepatah katapun terucap dari bibir suaminya, membuat suasana sepanjang perjalanan terasa kaku dan mencekam. Bahkan ketika Alina mencoba membuka percakapan, tanggapan suaminya hanya sepatah dua patah kata saja, bahkan tak sedikitpun menoleh ke arah Alina.
"Mas aku tahu kesalahan yang kulakukan sangatlah besar, aku benar-benar minta maaf Mas....tolong jangan seperti ini, Mas boleh memarahi bahkan memukulku, tapi tolong jangan diamkan aku..."
"Apa kamu pikir aku adalah seorang lelaki pecundang yang akan dengan mudah memukul wanita? Aku butuh waktu untuk sendiri dan berfikir, jadi tolong jangan ganggu aku..."
Setelah mengucapkan itu, Heru kembali fokus mengemudi tanpa sedikitpun memperdulikan Alina.
__ADS_1
Alina melemparkan pandangannya keluar jendela. Ya, harusnya dia sadar jika memang ini hukuman yang harus diterimanya. Dia pantas menerima hukuman dan suaminya berhak merasa marah. Namun, sejujurnya saat ini Alina sedang sangat membutuhkan suaminya. Untuk berdiskusi dan berkeluh kesah. Sebab Alina masih khawatir dengan keberadaan Dirga dengan segala ancamannya. Namun sepertinya Heru belum bisa kembali sepenuhnya percaya padanya. Akhirnya Alina hanya bisa pasrah. Mungkin dengan berjalannya waktu sikap Heru akan melunak dengan sendirinya. Begitulah harapan Alina di dalam hati.
Namun tanpa Alina sadari, di sampingnya suaminya sedang memikirkan hal yang berbeda. Memang pada awalnya Heru merasa marah dan terpancing dengan provokasi yang dilakukan Dirga terhadap dirinya. Tapi entah mengapa sekarang Heru sudah tidak terlalu perduli. Heru sudah tidak merasa marah, pun Heru tidak tahu apakah dia bisa percaya pada Alina atau tidak. Heru hanya merasa bahwa masalah itu tidaklah begitu penting dan tidak menganggu pikirannya. Sebab kini ada hal lain yang tengah menganggu pikiran Heru, bahkan membuat dirinya selalu terbayang-bayang siang dan malam. Kehadiran Anya, yang semula hanya menjadi pelampiasannya di kala kalut, kini justru memenuhi pikirannya.
Yah, Anya yang hanyalah seorang pelac*r yang pernah disewanya untuk melupakan kesedihan dan sakit hatinya kala itu. Anya memang cantik. Dan Heru memang tertarik pada pandangan pertama saat melihatnya di club waktu itu. Tapi saat tahu bahwa Anya bisa 'dipakai', Heru berfikir bahwa dirinya hanya akan bersenang-senang sekali saja lalu melupakannya. Namun ternyata dirinya salah. Sebab pada pertemuan pertama malam itu, Heru merasa nyaman. Anya adalah pendengar yang baik. Meski hanya diam, Heru merasa lega setelah bercerita tentang segala masalahnya pada Anya. Pun ketika akhirnya mereka berc*nta, Heru sampai mencapai puncak berkali-kali karena permainan Anya. Bagaikan candu, Heru akhirnya datang kembali dan selalu memilih Anya untuk melayaninya. Sebab Heru sudah merasa nyaman dan tak bisa berpindah ke lain hati.
Tanpa terasa mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Heru segera mengusir fantasi-fantasi liarnya tentang Anya. Dia harus kembali fokus untuk bekerja. Begitupun dengan Alina. Dia tidak ingin terlalu larut dengan rasa bersalahnya pada Heru.
__ADS_1
Mereka bekerja dan melupakan sejenak masalah-masalah yang ada.
Namun di tengah jadwal prakteknya yang padat dengan antrian pasien yang menunggunya, tiba-tiba Alina mendapatkan telepon dari Mbak Sitha. Padahal selama ini Mvak Sitha hampir tidak pernah menelponnya saat dia sedang bekerja.
"Maaf Bu, sejak dua jam yang lalu Ghazi menghilang, saya sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak menemukannya..."
Informasi itu langsung membuat Alina terduduk lemas.
__ADS_1