
"Dari mana saja kamu Alina?"
Tanya Heru dengan Heran. Heru mengumpulkan kesadarannya dan berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin. Alina pergi tanpa pamit dan tanpa kabar. Membuatnya kebingungan dan takut luar biasa. Bahkan setelah mencari ke sana kemari Alina tak kunjung ditemukan. Tapi pagi ini tiba-tiba saja Alina sudah berada di depannya seolah tidak terjadi apapun.
"Sabar Mas, nanti aku akan jelaskan semuanya..."
"Sekarang sebaiknya Mas minum tehnya dulu, Mas demam. Aku sudah pamitkan ke rumah sakit kalau Mas izin hari ini..."
Heru menyentuh keningnya dan baru menyadari bahwa dirinya demam. Pantas saja kepalanya terasa berat.
Heru mengambil cangkir teh yang telah tersedia di meja di dekatnya dan meminumnya sedikit. Heru lalu menatap Alina yang duduk di depannya, menuntut penjelasan.
"Sebaiknya Mas sarapan dulu, baru setelah itu mandi, aku sudah siapkan semuanya. Anak-anak juga sudah mandi dan sarapan. Nanti mereka ke sekolah seperti biasa diantar Mbak Sitha. Mas istirahat saja di rumah. Maaf Mas, aku tinggal dulu ya, aku sudah terlambat..."
Namun Alina justru berbicara kesana kemari.
"Alina, kamu belum menjawab pertanyaanku, dari mana saja kamu kemarin? Dan jam berapa kamu pulang?"
"Maaf Mas ceritanya panjang, aku janji akan menjelaskannya nanti sepulang bekerja, aku sudah terlambat sekarang, aku berangkat dulu Mas..."
Alina meraih tangan Heru dan menciumnya, lalu segera bergegas berangkat ke rumah sakit.
Meninggalkan Heru yang tengah tak berdaya dengan sejuta pertanyaan di benaknya.
__ADS_1
Heru hanya bisa mendengus dengan pasrah. Kemudian Heru mengecek ponselnya dan mendapati pesan dari Alshad.
Bagaimana, apa Alina sudah ditemukan? Apa perlu bantuanku?
Heru segera mengetik balasan untuk saudara iparnya itu.
Sudah, Alina sudah kembali dan semua baik-baik saja. Terimakasih untuk bantuannya.
Tidak berselang lama balasan kembali masuk ke ponselnya.
Syukurlah kalau begitu, tolong jaga adikku baik-baik...semoga semuanya baik-baik saja...
Heru kemudian mematikan ponselnya dan memilih kembali memejamkan matanya, kepalanya kembali terasa berat.
Setelah anak-anak pulang dari sekolah dan bangun dari tidur siangnya, barulah Heru keluar dari kamar dan memilih menghabiskan waktu bersama mereka.
"Ayah kenapa hari ini nggak masuk kerja?"
"Ayah sakit sayang, makanya nggak masuk kerja..."
"Kalau Ayah sakit harus ke dokter dong? Tapi kan Ayah sendiri dokter? Aduh aku jadi bingung deh...kalau sakit Ayah harus banyak makan, sini biar aku suapin..."
Ghazi dan Fatih lalu mengambil snack favorite mereka dan berebutan menyuapi Ayahnya.
__ADS_1
Heru memilih menikmati momen langka itu dan menyadari bahwa dirinya telah banyak melewatkan perkembangan buah hatinya. Waktu berjalan cepat dan kini tanpa terasa Ghazi dan Fatih telah tumbuh menjadi anak yang pintar dan manis.
Namun di tengah momen hangat itu, tetap saja Heru merasa tak tenang. Sebab dirinya belum mendapatkan jawaban tentang kemana perginya Alina kemarin malam dan pukul berapa sebenarnya Alina kembali kerumah. Heru tak bisa menyangkal, ada terbersit rasa curiga di hatinya. Apalagi belakangan Heru juga kerap merasa bahwa Alina tengah menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
Sore harinya, saat Alina pulang dari bekerja, seperti biasa Alina menghampiri dan mencium tangannya.
"Sudah baikan Mas?",
Tanya Alina sambil meraba kening suaminya.
Namun entah mengapa perhatian manis dari Alina justru dirasakan Heru sebagai sikap berbelit dan menghindar dari masalah.
"Sekarang kamu sudah pulang, tolong cepat jelaskan, kemana kamu pergi kemarin? Dan jam berapa kamu pulang?"
Alina nampak terkejut dengan sikap keras suaminya. Tapi Alina juga tak bisa mengelak, sebab ini memang kesalahannya.
Alina hanya bisa tertunduk pasrah sambil memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan suaminya dengan jujur.
"Maaf Mas, aku pergi menemui Dirga. Ada urusan yang harus kami selesaikan..."
"Apa?"
Heru benar-benar terkejut dengan jawaban Alina.
__ADS_1