
Alina akhirnya memutuskan segera pulang kerumah dengan menggunakan taksi online. Sepanjang perjalanan pikirannya terus gelisah. Bagaimana bisa Dirga benar-benar senekat itu?
Meski begitu Alina yakin benar bahwa saat berada di hotel bersama Dirga tidak ada kejadian apapun. Dirinya tersadar masih dalam keadaan berpakaian lengkap dan dalam video yang direkam Dirga pun sama sekali tidak menunjukkan aktivitas yang mencurigakan. Meski begitu, akankah Heru bisa percaya kepadanya?
Setelah melewati lalu lintas yang macet, akhirnya sampai juga Alina dirumah. Teriakan anak-anak langsung menyambutnya dengan suka cita.
"Ibu pulang...Ibu pulang...hore...."
Meski tengah dilanda gelisah, namun celoteh anak-anak yang riang selalu mampu mengukir senyum di bibirnya.
"Ayah mana Bu? Kanapa nggak pulang bareng Ayah?"
Pertanyaan anak-anak, sontak kembali membuatnya gelisah.
"Oh, ayah masih ada pasien di rumah sakit, jadi belum bisa pulang....", Jawab Alina, terpaksa berdusta.
Alina meninggalkan anak-anaknya di depan televisi dan mencari Mbak Sitha.
"Mas Heru apa belum sampai rumah Mbak?"
__ADS_1
Alina hanya ingin memastikan, sebab di rumah sakit tadi Alina melihat Heru keluar lebih dulu.
"Belum Ibu, dari tadi anak-anak sudah nungguin Bapak dan Ibu, tapi baru Ibu saja yang datang..."
"Ya sudah, tolong temani anak-anak dulu, saya mau mandi..."
"Baik Bu..."
Kemana Mas Heru pergi? Alina terus bertanya dalam hati.
Di dalam kamar, berkali-kali Alina mencoba menghubungi suaminya. Tapi tidak satupun panggilannya yang dijawab. Terakhir malah nomor Heru sudah tidak aktif. Sepertinya Heru sengaja mematikan ponselnya.
Dengan putus asa, Alina melangkah ke kamar mandi. Alina berdiri di bawah shower dan membiarkan air mendinginkan kepalanya yang hampir meledak.
"Ibu...Ibu..."
Suara anak-anak yang berteriak sambil menggedor pintu membuyarkan lamunan Alina.
Alina segera menyudahi acara mandinya dan keluar menemani anak-anak. Dalam hatinya boleh saja gelisah, tapi di depan anak-anaknya Alina tidak akan menampakkannya. Alina tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa, menemani anak-anak bermain, makan, lalu mengantarkan mereka tidur di kamarnya.
__ADS_1
Setelah semua selesai barulah Alina kembali ke kamarnya sendiri. Malam terasa dingin dan mencekam tanpa kehadiran Heru disisinya. Berkali-kali Alina mencoba kembali menelpon suaminya, tapi hasilnya nihil.
Alina kemudian memberanikan diri menelpon ke rumah sakit, kalau-kalau Heru kembali ke sana dan menyibukkan diri, tapi ternyata Heru tidak berada disana.
Alina dilanda bingung. Alina ingin mencari, tapi tidak tahu kemana harus mencari. Sedangkan dirumah ada anak-anak yang membutuhkannya. Akhirnya Alina memilih untuk menunggu sambil terkantuk-kantuk.
Dari kamarnya Alina berjalan keruang tamu. Setiap terdengar suara mobil, Alina segera mengintip jendela. Berharap bahwa itu adalah suaminya, tapi ternyata bukan. Berkali-kali Alina mengulangi adegan yang sama. Sampai kakinya lelah. Matanya mengantuk, tapi tak kuasa untuk terpejam. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya di luar sana? Pikiran buruk mulai membayangi benaknya.
Hingga akhirnya Alina benar-benar sudah tidak kuat dan tertidur di ruang tamu.
Namun tidak lama berselang, suara engsel pintu mengagetkannya. Alina segera tersadar dari tidur ayamnya.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari.
Dilihatnya Heru masuk ke dalam rumah dengan langkah sempoyongan, langsung menuju ke kamar.
Alina langsung mengikuti suaminya. Diperhatikannya Heru yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Bajunya kusut, rambutnya berantakan.
Tapi yang membuat Alina terkejut, ada noda lipstik di kemeja suaminya, juga banyak tanda merah di leher dan dada Heru yang terlihat karena kancing kemejanya yang terbuka.
__ADS_1
"Astaghfirullahal adzim, dari mana saja kamu Mas?"
"Tentu saja aku habis bersenang-senang, memangnya cuma kamu saja yang bisa?"