
Heru menggandeng tangan Alina dan menuntunnya masuk ke dalam paviliun. Paviliun yang sempat ditinggalinya beberapa waktu yang lalu dan kini akan ditinggalinya bersama Alina yang sudah resmi menjadi istrinya.
Begitu membuka pintu, Heru langsung merasa takjub melihat kamarnya dihias dengan begitu indah.
Heru berbaring di tempat tidur, sementara Alina berjalan menuju kamar mandi.
Heru menatap langit-langit kamar dan pikirannya melayang jauh. Betapa Tuhan menjawab doa hambanya dengan cara yang paling tidak terduga.
Heru masih ingat jelas. Dulu ketika masih remaja, ketika hatinya ditumbuhi bunga-bunga cinta untuk Alina, sementara gadis itu begitu jauh dan tak terjangkau baginya, Heru sempat berdoa dengan khusyuk. Betapa suatu saat nanti Heru ingin Alinalah yang menjadi istri dan pendamping hidupnya. Kini doa-doanya benar-benar terkabul, meski dengan jalan yang berliku. Dan Heru tetap bersyukur.
"Mas Heru, mau mandi dulu, sudah kusiapkan air hangat untuk Mas mandi..."
Sapaan Alina membuyarkan lamunannya.
"Ah ya, terimakasih..."
Hati Heru menghangat. Ternyata begini rasanya diperhatikan dan dilayani isteri.
Heru menyempatkan mengecup kening Alina sebelum melangkah ke kamar mandi. Dan Alina menjadi tersipu dengan tingkah manis suaminya.
Alina keluar dari kamar dan mendapati Bi Siti sedang sibuk di dapur. Bi Siti memang ditugaskan untuk membantu Alina dan Heru di paviliun. Dan nantinya Mbak Sitha juga akan ikut untuk membantu Alina merawat Ghazi.
"Bi Siti masak apa?"
"Masak sayur asem sama ikan goreng non, sebentar lagi selesai...Non Alina istirahat dulu saja, nanti saya panggil kalau sudah siap..."
"Saya mau ke rumah utama sebentar, mau mengantarkan asi sekalian menengok Ghazi, tolong beritahu Mas Heru ya Bi kalau dia keluar..."
"Baik Non..."
Alina mencuri waktu untuk memompa asi saat di kamar mandi dan saat menungggu Heru mandi. Hasilnya cukup banyak karena sejak pagi Alina belum memompa atau menyusui Ghazi, lagi pula Alina sudah merindukan putranya itu.
Alina melangkah ke rumah utama dan langsung menuju ke kamarnya yang sekarang ditempati Mama dan Mbak Sitha untuk mengasuh Ghazi.
Alina mengetuk pintu pelan dan membuka pintu kamar perlahan.
Terlihat Mama sedang tertidur sambil memeluk Ghazi yang juga sedang tidur. Alina hanya menatap Ghazi dari kejauhan tak mau menganggu tidur nyenyaknya. Alina melatakkan asi perahnya di kulkas dan berpesan pada Mbak Sitha untuk memberikannya pada Ghazi nanti.
Alina lalu kembali ke paviliun dan mendapati Heru sudah duduk di meja makan.
"Kalau khawatir dengan Ghazi, kamu bisa membawanya kesini dan biarkan dia tinggal bersama kita, aku tidak keberatan...."
"Tidak Mas, tidak apa-apa, biarkan Ghazi beberapa hari bersama Mama, tadi aku hanya ingin menengoknya saja, nantinya dia juga akan tinggal di sini bersama kita..."
__ADS_1
Alina sadar pernikahan mereka tidaklah biasa. Ghazi sudah lahir sebelum mereke menikah. Kehadiran Ghazi sedikit banyak akan menganggu keintiman mereka sebagai suami istri. Alina merasa dilema. Tidak tega untuk meninggalkan Ghazi tapi juga merasa tidak enak pada Heru. Tapi kemarin sebelum hari pernikahan Mama menasehatinya.
"Alina, kuatkanlah hatimu, layanilah suamimu sebaik-baiknya setidaknya di awal pernikahan nanti, semoga hal itu akan menjadi berkesan dan melanggengkan hubungan kalian kedepan. Biar bagaimapun Heru sudah banyak berkorban. Dia berhak atas dirimu dan nikmatilah madu pernikahan tanpa gangguan Ghazi. Hanya beberapa hari saja Ghazi akan aman bersama Mama..."
Meski berat, Alina menuruti nasehat Mama. Heru tidak keberatan dengan kehadiran Ghazi, tapi inilah yang terbaik.
"Baiklah kalau itu maumu, mari kita makan...kamu harus makan dengan baik dan jangan terlambat..."
Mereka akhirnya menikmati makan siang bersama. Bi Siti yang merasa canggung berada di antara pengantin baru itu memilih untuk pamit, meski Heru dan Alina mengajaknya ikut makan.
"Maaf ya Mas Heru, aku belum bisa memasak..."
Tiba-tiba Alina bicara ditengah acara makan siang mereka.
"Tidak apa-apa, aku sudah tahu..."
Heru sungguh tidak mempermasalahkan hal semacam itu, sejak dari awal Heru sudah tahu kalau Alina dibesarkan bak putri di dalam istananya.
Tapi Alina justru merasa semakin kecil dengan jawabab Heru, betapa dirinya penuh dengan kekurangan dan Heru selalu menerimanya dengan lapang dada.
Selesai makan, mereka kembali masuk ke kamar.
Perasaan gugup tak bisa disembunyikan keduanya. Meski sudah begitu lama saling mengenal, tapi berada dalam satu ruangan berdua saja membuat keduanya salah tingkah.
Alina berjalan dengan kikiuk menuju tempat tidur. Lalu merebahkam tubuhnya di ranjang.
Heru pun melakukan hal yang sama, berbaring di samping Alina yang tengah berbaring membelakanginya.
Sebenarnya tadi Heru merasa lelah dan Heru juga mengerti kalau Alina juga pasti lelah. Siang ini, Heru benar-benar ingin beristirahat.
Tapi entah mengapa melihat leher putih Alina yang tengah berbaring membelakanginya membuatnya tidak bisa tenang.
Padahal biasanya Heru selalu bisa menahan diri sekalipun sedang berdekatan dengan Alina. Tapi entah mengapa kali ini daya tarik Alina begitu kuat.
Alina menyibakkan rambutnya ke atas dan itu membuat leher putih jenjangnya terlihat semakin jelas.
Heru tidak bisa lagi menahan diri. Dan lagi pula, mereka sudah sah sebagai suami isteri. Tidak ada yang salah dengan keinginannya bukan?
Heru meraih pinggang Alina dan merapatkan tubuhnya ke arah Alina.
Alina hanya diam tanpa sedikitpun perlawanan. Heru menganggapnya sebagai lampu hijau.
Heru memeluk Alina dari belakang dengan erat.
__ADS_1
Heru bisa merasakan hembusan nafas Alina yang semakin cepat. Dan jantungnya berpacu, semakin menginginkan Alina lebih dekat.
"Alina, apa kamu lelah?"
Bisik Heru di telinga Alina.
Alina tidak menjawab.
"Aku ingin melakukannya sekarang, berada sedekat ini denganmu ternyata membuatku lemah...bolehkah?"
Heru menggenggam tangan Alina. Alina masih diam dan kepalanya semakin menunduk.
Heru lalu menuntun tubuh Alina agar berbalik menghadapnya. Alina menurut.
Heru memegang kepala Alina.
"Lihat aku Alina..."
Alina membuka matanya perlahan dan langsung mendapati Heru sedang menatapnya dalam-dalam. Pandangan mereka bertemu, seolah tatapan itu sedang berbicara.
"Aku mencintaimu Alina..."
Heru masih menangkup wajah Alina dengan telapak tangannya. Dan Heru mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Alina.
"Aku juga mencintaimu Mas Heru..."
Alina memberanikan diri membalas, dan kembali memejamkan matanya karena malu.
"Aku sangat bahagia akhirnya kita bisa menikah..."
Heru semakin gemas melihat wajah cantik Alina dengan wajah terpejam.
Heru pun mendaratkan satu kecupan di pipi.
Dan seperti candu, keinginan Heru semakin kuat untuk mencium Alina lagi dan lagi. Kecupan bertubi-tubi mendarat di pipi dan kening Alina. Dan berlanjut dengan ciuman di bibir. Awalnya hanya kecupan ringan yang mendarat di bibir Alina. Lalu Heru kembali mengecup bibir Alina dengan rakusnya dan menjelajah sampai ke dalam. Alina pun membiarkan Heru mengekspliasi bibirnya.
Setelah beberapa saat barulah Heru berhenti dengan nafas terengah-engah.
Heru tersenyum menatap wajah Alina yang terlihat begitu cantik dan menggairahkan di dalam pelukannya. Saatnya melakukan aksi selanjutnya. Tatapan Heru terpaku pada d*da Alina. Heru lalu menyentuh kancing baju Alina yang paling atas, berniat untuk membukanya.
Tapi tiba-tiba tangan Alina menahannya.
"Jangan Mas Heru, aku belum siap..."
__ADS_1