
Alina divonis mengalami preeklamsia pada kehamilannya. Selama di rawat di rumah sakit Alina di berikan obat-obatan untuk menurunkan tensinya, juga untuk menguatkan paru-paru calon bayinya. Setelah tiga hari menjalanani perawatan, Alina diperbolehkan untuk pulang ke rumah, namun kondisinya harus selalu dipantau. Alina juga masih harus menjalani bedrest dan dianjurkan makan makanan tinggi protein dan kalori untuk menaikkan berat badan bayi, sebab ada kemungkinan bayi di dalam kandungan Alina harus dilahirkan lebih cepat untuk menghindari komplikasi preeklamsia.
Alina merasakan kehamilannya semakin berat dari hari ke hari. Vonis dari dokter tentang kondisi kesehatannya, membuat Alina mengkhawatirkan calon bayinya. Sesekali Alina juga tanpa sengaja melihat berita di infotainment tentang pernikahan Dirga dengan kekasih barunya yang seorang artis. Meski berusaha merelakan, tetap saja hati Alina terasa sakit. Tidak ada lagi harapan bagi bayinya untuk diakui oleh ayah kandungnya. Dan Alina sangat menyesali kebodohannya. Bagaimana bisa dirinya masuk dalam perangkap Dirga dan menyerahkan segalanya? Padahal jelas-jelas Alina tidak mencintai lelaki itu. Alina hanya selalu merasa kasihan dan tidak punya cukup keberanian untuk pergi dari pria manipulatif dan hubungan toxic yang mereka jalani. Dan sekarang bayi di dalam rahimnya yang harus menanggung akibatnya. Tapi satu hal yang membuat Alina sedikit lega, dari hasil USG, Dokter Erika bilang bahwa bayinya berjenis kelamin laki-laki. Itu artinya kelak putranya tidak membutuhkan wali untuk menikah. Entah bagaimana nanti Alina harus menerangkan semua ini pada putranya. Alina sama sekali tidak memiliki bayangan.
Alina sedang mengganti-ganti chanel televisi. Dan lagi-lagi pilihannya jatuh pada siaran infotainment yang tengah menampilkan pernikahan mewah antara Dirga dan seorang artist cantik. Hati Alina sudah mati rasa, tapi tetap Alina memandang televisi dengan tatapan kosong menerawang. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamarnya dan menghampirinya. Heru merebut remote dari tangannya dan mematikan televisi.
"Sudah cukup Alina! Jangan jadi Ibu yang egois. Dengan atau tanpa Ayah, anak ini tetap akan tumbuh dengan baik. Tidak penting apapun yang dilakukan Dirga, itu tidak ada hubungannya denganmu lagi, yang terpenting sekarang kamu harus menjaga hati dan pikiranmu, itu akan sangat berpengaruh pada kesehatan dan janin yang ada di dalam kandunganmu..."
Kali ini Heru memilih untuk bersikap tegas, meskipun untuk itu dia harus menguatkan hatinya dan membentak Alina. Heru sudah muak dengan tingkah Alina yang begitu bodohnya meratapi laki-laki seperti Dirga.
"Maafkan aku..."
Lirih Alina berucap, sebelum kemudian tangisannya pecah. Alina tidak tahan lagi untuk memendam semuanya. Alina merasa takut, sedih, frustasi, dan hampir putus asa. Alina benar-benar merasa dirinya bodoh. Dan Alina benar-benar merasa bersalah pada calon bayinya.
Melihat Alina menangis seperti itu membuat hati Heru serasa tersayat sembilu.
Nalurinya menuntun Heru untuk mendekat, lalu menarik Alina ke dalam pelukannya. Alina tidak menolak, justru menyandarkan kepalanya di dada Heru yang bidang. Sejenak mereka menikmati momen itu tanpa saling bicara. Heru pun mengelus kepala Alina dengan lembut.
"Menangislah...menangislah sepuasmu agar hatimu lega...percayalah, Tuhan tidak menciptakan air mata untuk membuat manusia terus bersedih, Tuhan menciptakan air mata agar manusia bisa melepaskan kesedihannya..."
__ADS_1
Alina menarik diri dari pelukan Heru lalu mengusap sisa air matanya. Entah bagaimana wajahnya kini, pastilah sangat berantakan. Dan tiba-tiba Alina merasa sangat malu Heru melihatnya dalam keadaan seperti itu.
"Alina, percayalah, semua akan baik-baik saja, fokuslah pada kesehatanmu...yakinlah setelah badai akan ada pelangi yang menantimu..."
"Terimakasih banyak Mas Heru, aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang...tolong keluarlah, aku ingin sendirian..."
Heru menyempatkan diri mengacak-acak rambut Alina, sebelum kemudian berjalan keluar. Betapa, dia masih sangat menyayangi wanita di depannya itu.
Sepeninggal Heru, Alina sudah merasa jauh lebih tenang. Alina akhirnya memutuskan untuk merelakan semua dan berserah pada takdir. Dirinya telah melakukan kesalahan besar. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Waktu tidak bisa diputar ulang, dan masa lalu tidak bisa kembali. Alina mengucap istighfar sebanyak-banyaknya lalu berdoa kepada Tuhan agar memberikan perlindungan dan kebahagian untuk putranya kelak. Alina begitu hanyut dalam doanya hingga air matanya kembali menetes. Alina terus mengucap istighfar berulang kali sampai merasa lelah dan akhirnya tertidur dengan pulas.
Keesokan harinya, Alina bangun dalam keadaan segar. Alina sudah menemukan kembali semangat hidupnya dan berjanji akan menjalani hidupnya sebaik mungkin tanpa berharap pada manusia lagi.
Alina menikmati sarapannya di kamar dengan di temani Heru. Alina terlihat sudah lebih ceria dan sudah banyak bicara. Alina bercerita pada Heru tentang keinginannya untuk pergi bermain di pantai sebagaimana yang mereka lakukan tempo hari.
"Sebenarnya, aku tidak terlalu suka ke pantai. Lebih tepatnya sejak aku hampir tenggelam saat kecil dulu, aku jadi tidak begitu suka dengan pantai. Tapi entah mengapa, baru saat hamil ini aku jadi punya keinginan untuk bermain di pantai..."
"Jadi itu yang dinamakan ngidam ya? Semacam keinginan unik bawaan bayi,", Tanya Heru dengan antusias.
"Ya, begitulah...untunglah kemarin aku sudah puas bermain di pantai, karena sekarang aku tidak mungkin melakukannya lagi walaupun ingin..."
__ADS_1
Alina sadar dia harus menahan keinginannya demi kesehatan dan calon bayinya.
Heru kemudian berinisiatif mengeluarkan ponselnya dan mencari sesuatu untuk ditunjukkan pada Alina.
"Coba lihat ini, meskipun tidak pergi langsung, paling tidak kamu bisa membayangkan suasananya..."
Alina mendekat dan melihat layar ponsel Heru. Heru menunjukkan sebuah video saat dirinya sedang asyik bermain di pantai. Ternyata diam-diam Heru merekamnya saat mereka pergi ke pantai tempo hari.
"Kau merekamku tanpa izin!"
Alina pura-pura merajuk, meski dalam hatinya Alina merasa senang diperhatikan sedemikian rupa oleh Heru.
"Ya, aku memang merekammu, akan kukirimkan ke ponselmu supaya kamu bisa melihatnya lagi nanti, kalau kamu keberatan aku bisa menghapus video yang ada diponselku.."
"Tidak perlu, memori ponselku sudah penuh, tolong simpan disini saja dan aku akan melihatnya lagi jika ingin, boleh kan?"
"Tentu saja..."
Setelah memastikan Alina dalam keadaan baik-baik saja, barulah Heru bisa pergi bekerja dengan tenang.
__ADS_1
Begitulah Alina menjalani hari-harinya sebelum persalinan. Meskipun Alina masih harus bedrest dan hanya boleh menghabiskan waktunya dirumah saja, tapi Alina tidak merasa bosan. Hal itu karena ada Heru yang selalu berada disampingnya dan berusaha untuk menghiburnya. Bahkan saat Heru pergi bekerja pun, Heru selalu memastikan agar Alina punya kegiatan yang menarik untuk dikerjakan.
Hingga pada suatu malam Alina merasakan kepalanya begitu pusing. Tanpa pikir panjang, pihak keluarga langsung membawa Alina ke rumah sakit. Setelah diperiksa ternyata tekanan darah Alina kembali tinggi. Dan kali ini harus segera dilakukan tindakan operaso cesar agar tidak membahayakan keselamatan ibu dan bayi.