
Hari-hari yang Alina lalui terasa semakin berat. Apalagi sejak memasuki masa koas. Semakin banyak waktunya yang harus dihabiskan di luar rumah dan hal itu membuat Alina semakin merasa bersalah. Kemampuan memasaknya seakan tak berguna, sebab Alina sama sekali tak punya waktu untuk pergi ke dapur. Ghazi tumbuh dengan baik dan sehat. Tapi ada terbersit penyesalan di hati Alina sebab Ghazi tumbuh dengan perhatian yang kurang darinya sebagai Ibu.
Tapi Heru selalu menyemangatinya agar tetap semangat. Dan karena itulah Alina terus menguatkan langkahnya dan berusaha keras untuk menyelesaikan pendidikan kedokterannya.
"Sebentar lagi Alina, sebentar lagi...setelah itu kamu bisa menebus semuanya untuk kembali menjadi isteri dan Ibu yang baik..."
Alina selalu berusaha menyemangati dirinya sendiri saat terbersit pikiran untuk menyerah.
Dan setelah perjuangan yang panjang Alina akhirnya berhasil memperoleh gelar dokternya.
Alina sangat bahagia. Akhirnya satu tahap telah terlakui. Meski didepan masih ada jalan panjang yang harus dilaluinya.
Untunglah dengan koneksi yang dimiliki Ayahnya, Alina langsung bisa bekerja di rumah sakit karya medika. Alina merasa bersyukur dengan kemudahan yang dimilikinya, meski di sisi lain Alina juga harus menanggung berbagai macam reaksi dari rekan sejawat maupun para senior. Seperti yang dialami Heru dulu, ada yang menjilatnya karena tahu dirinya puteri kesayangan pemilik rumah sakit, dan ada pula omongan-omongan pedas dari orang-orang yang membicarakannya di belakang. Pantas saja jika Alshad, kakaknya tidak ingin terjun di dunia yang sama dengan Ayahnya. Sebab menanggung beban mental itu memang terasa berat. Tapi Alina sudah memilih jalan ini dengan segala resikonya. Menjadi dokter adalah impian dan pasionnya sejak kecil. Bahkan Alina sempat bercita-cita untuk menjadi dokter spesialis kecantikan yang terkenal.
Tapi sekarang Alina sudah berfikir lebih realistis. Ada hal lain yang kini menjadi prioritasnya selain sekedar mengejar karir dan kebanggaan duniawi. Ada keluarga kecil yang sekarang menjadi tanggung jawabnya. Ada kewajiban dan hak yang harus ditunaikan sebagai isteri dan Ibu. Karena itu Alina sudah merasa cukup dengan apa yang diraihnya sekarang.
Alina memilih fokus menjadi dokter umum. Selebihnya Alina harus bisa membagi waktu dan tenaganya untuk keluarganya dirumah.
Dan benar saja, setelah mulai bekerja sedikit demi sedikit Alina mulai bisa menyesuaikan diri dengan rutinitasnya. Sebisa mungkin saat berada dirumah, Alina meluangkan waktu untuk Ghazi, juga sesekali membuatkan makanan favorite Heru. Alina menikmati perannya dan kepercayaan dirinya telah kembali. Alina harus pandai-pandai membagi waktu dan pikirannya untuk keluarga sekaligus pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Tapi kemudian ada lagi yang berubah dari rutinitas keluarganya, yaitu saat Heru memutuskan untuk mrngambil pendidikan spesialis.
"Sayang, aku ingin menempuh pendidikan spesialis...mungkin sementara waktu aku harus berhenti praktek, aku sudah menyiapkan tabungan, tapi mungkin kita harus lebih berhemat untuk beberapa saat...."
"Tentu saja Mas, tidak apa-apa, lagi pula aku kan juga sudah bekerja Mas, Mas fokuslah pada pendidikan Mas, itu demi masa depan keluarga kita juga..."
__ADS_1
Setelah Alinaa berhasil mendapatkan gelar dokternya, kini gantian Heru yang harus berjuang menempuh pendidikan spesialisnya.
Alina berusaha memberikan dukungan penuh kepada suaminya. Menyemangati di saat Heru merasa lelah dan kesulitan, juga berusaha memenuhi segala kebutuhan Heru. Sesekali Alina juga menyempatkan memasak khusus untuk Heru.
Dan ditengah segala perjuangan itu, Alina tiba-tiba saja drop. Alina merasa lelah dan kepalanya terasa pusing, hingga saat sedang bertugas di rumah sakit, Alina malah pingsan. Tak bisa di pungkiri, belakangan Alina kerap merasa lelah, sebab setelah pulang bekerja, Alina masih harus mengurus Ghazi dan memastikan dua lelaki kesayangannya makan baik. Sebab Heru juga kerap pulang larut atau begadang di malam hari. Jadi Alina khawatir kalau-kalau suaminya jatuh sakit. Namun ternyata akhirnya malah dirinya sendiri yang jatuh sakit.
Karena pingsan di rumah sakit, Alina pun segera mendapatkan pertolongan yang di perlukan. Praktek Alina dihentikan dan dialihan pada dokter lain. Sementara itu Alina segera dibaringkan di ranjang.
Dokter Heni, salah satu rekan Alina yang bertugas hari itu, memeriksa kondisi Alina. Tidak ada hal yang mengkhawatirkan, setelah beberapa saat Alina akhirnya sadar.
Dokter Heni segera memberikan minum untuk Alina.
"Bagaimana? Apa yang kamu rasakan Alina?"
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa sedikit pusing, maaf sudah merepotkanmu Hen..."
"Hmm?"
Sejenak Alina mencerna maksud pertanyaan Dokter Heni, kemudian Alina mengingat-ingat kapan terakhir datang bulannya.
"Sepertinya aku belum mendapatkan tamu bulanan bulan ini...mungkinkah..."
Kata-kata Alina mengambang.
"Sebaiknya kita pastikan saja, supaya kamu lebih tenang dan jika memang hamil kamu bisa menjaganya dengan baik..."
__ADS_1
"Tidak perlu, terimakasih banyak...sepertinya hari ini aku izin dulu, aku ingin beristirahat di rumah saja.."
"Baiklah kalau begitu, pulanglah dan istirahatlah dirumah..."
Alina akhirnya memilih pulang dengan menggunakan taksi online. Alina tidak ingin merepotkan dan keadaannya diketahui Heru atau keluarganya.
Dalam perjalanan Alina minta untuk mampir ke apotek sebentar.
Alina membeli beberapa testpack dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, untungah hanya ada Ghazi yang sedang tidur sambil ditemani Mbak Sitha. Alina merebahkan tubuhnya sebentar di tempat tidur sebelum kemudian pergi ke kamar mandi dan memutuskan untuk melakukan tes kehamilan secara mandiri dengan menggunakan testpack. Alina sempat terkejut saat melihat hasilnya. Ternyata dirinya benar-benar positif hamil. Perasaannya jadi campur aduk. Ada perasaan bahagia karena akhirnya dirinya bisa memberikan kerurunan dari pernikahannya dengan Heru, pria yang dicintainya. Tapi ada pula kekhawatiran. Mampukah dirinya menjalani perannya dengan baik saat tanggung jawabnya bertambah nanti?
Alina menyimpan testpack itu ditempat yang aman sebelum keluar dari kamar mandi. Mungkin nanti dia harus memberitahu Heru tentang kehamilannya. Tapi Alina ingin menunggu waktu yang tetap. Setelah mrmastikan testpacknya tersimpan dengan aman, Alina lalu memilih melanjutkan tidurnya. Biar bagaimanapun juga dia harus beristirahat agar kondisi fisiknya kembali prima dan bisa beraktivitas seperti sedia kala.
Namun kemudian, suara tangisan Ghazi terdengar dari kamar sebelah. Alina baru ingat dirinya belum bertemu Ghazi sejak pulang tadi. Perasaan bersalah tiba-tiba menelusup di hatinya. Sekarang saja Alina merasa kurang memberikan kasih sayang dan waktunya untuk Ghazi. Bagaimana nanti saat buah hatinya bertambah?
Alina menghampiri Ghazi yang sedang menangis dalam gendongan Mbak Sitha
Alina mengambil Ghazi dari pengasuhnya itu.
"Sekarang Mbak Sitha boleh istirahat, Ghazi biar sama saya..."
Alina memeluk Ghazi erat-erat betapa dirinya merindukan anaknya itu. Dan entah mengapa air matanya perlahan menangis.
Ghazi perlahan-lahan menjadi tenang dalam gendongan Ibunya. Dan Alina pun jatuh tertidur sambil memeluk buah hatinya.
__ADS_1
Selang beberapa saat, Heru pulang kerumah dalam keadaan lelah, ada kabar buruk yang harus dia sampaikan pada Alina. Tapi melihat Alina sedang tidur lelap bersama Ghazi membuat Heru tidak tega untuk membangunkannya.