Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 37


__ADS_3

Alina sedang menikmati peran barunya sebagai seorang istri dan Ibu. Ada rutunitas baru yang harus dijalaninya. Hal yang dulu terasa berat, kini dijalani dengan antusias. Setiap hari Alina bangun pagi-pagi sekali. Selagi Ghazi masih tidur, Alina menyiapkan segala keperluan suaminya sebelum pergi bekerja. Jika Ghazi sudah bangun Alina lalu memandikan Ghazi dan mengajaknya ikut serta menemani Heru sarapan.


Meski ada Mbak Sitha dan Bi Siti yang selalu siap sedia membantunya, tapi untuk urusan tertentu Alina tetap akan melakukannya sendiri. Terutama jika hal itu berhubungan dengan suami dan buah hatinya.


Menggendong, memandikan dan menyuapi Ghazi juga dilakukannya sendiri. Alina menitipkan Ghazi hanya jika dirinya melakukan keperluan pribadi atau sedang pergi keluar. Sementara meskipun ada Bi Siti yang menangani segala pekerjaan rumah tangga, tapi Alina lah yang selalu menghidangkan makanan dan membuatkan kopi untuk Heru.


Seperti pagi itu, selesai menemani Heru sarapan Alina kembawakan tas kerja Heru dan mengantarkan Heru sampai ke depan pintu.


"Terimakasih sayang..."


Heru mengecup kening Alina dan Ghazi secara bergantian, lalu Alina mencium pungggung tangan Heru sebelum melepas suaminya pergi bekerja.


"Sama-sama...hati-hati di jalan Mas..."


Begitulah rutinitas mereka di pagi hari, kecuali jika Heru sedang dinas malam. Alina juga harus menyesuaikan rutinitas itu dengan jam kerja suaminya.


Sebagai seorang istri, Alina menyadari dirinya masih punya banyak kekurangan dalam melayani suami. Bahkan dalam hal memasakpun Alina masih kalah jauh dibandingkan Heru yang memang sudah terbiasa memasak dan hidup mandiri sedari kecil. Karena itu mulai minggu depan Alina mengambil khursus memasak. Setidaknya Alina ingin belajar untuk memasak ke menu-menu rumahan yang menjadi makanan favorite Heru.


Maka dimulailah rutinitas baru Alina. Alina mengikuti khursus memasak dengan seorang chef yang cukup terkenal. Setiap hari Alina harus datang ke tempat khursus dari jam sembilan sampai jam sebelas. Dan selama itu pula Alina harus rela menitipkan Ghazi pada Mbak Sitha. Tak jarang pula dengan sukarela Mama ikut mengasuh cucu kesayangannya itu.


Dan ternyata usaha yang dilakukan Alina tidaklah sia-sia. Sedikit demi sedikit Alina sudah bisa memanfaatkan ilmunya untuk keluarganya.


"Enak sekali sayur asemnya Bi, beda dari yang biasanya..."


Kata Heru pada Bi Siti sambil menyuap makanan dengan lahap. Ya, pagi itu Alina meminta Bi Siti ikut sarapan bersama sambil mencicipi masakannya.


"Bukan saya yang masak Den, ini semua masakan Non Alina, lebih enak dari masakan saya ya Den?"


"Masa sih?"


Heru menatap Alina dengan tak percaya.


Alina tersenyum malu-malu, sebab secara tak langsung suaminya telah mengakui hasil masakannya. Tak sia-sia usaha Alina untuk bisa menyenangkan suaminya.

__ADS_1


"Ternyata selain cantik istriku sekarang sudah pintar memasak..."


"Sudah...sudah, buruan dimakan Mas, nanti terlambat..."


"Iya sayang, tapi aku mau nambah dulu makannya..."


Ternyata hal kecil semacam ini bisa membuat Alina merasa amat bahagia. Dan Alina jadi semakin bersemangat untuk belajar memasak.


Alina merasa bahagia dengan kehidupan pernikahannya. Begitupun dengan Heru, hidupnya terasa lengkap dan lebih bermakna dengan kehadiran keluarga kecilnya. Hari-harinya terasa berwarna dan dipenuhi keceriaan dengan celoteh Ghazi.


Tapi sayang hal itu tak berlangsung lama, sebab ketentraman itu berubah, begitu Alina mulai kembali kuliah.


Ya, Alina telah menyelesaikan khursus memasaknya dengan baik dan berhasil menguasai berbagai resep masakan favorit Heru. Tapi hal itu seakan sia-sia, saat Alina kembali harus menyelesaikan tanggung jawabnya di bangku kuliah. Alina butuh pikiran yang fokus untuk menyelesaikan tugas-tugas dan mempelajari materi perkuliahan yang tidak mudah. Apalagi setelah sekian lama cuti, Alina butuh untuk menyesuaikan diri lagi.


Sementara itu banyak tugas dan pekerjaan rumah yang jadi terbengkalai karena kesibukannya. Bahkan tidak jarang Heru yang harus turun tangan untuk menidurkan atau menyuapi Ghazi saat Alina sedang duduk serius didepan laptopnya.


Heru berusaha mengerti posisi isterinya yang sedang berjuang. Tapi di sisi lain Heru juga terkadang merasa khawatir dengan Ghazi yang semakin jauh dengan Ibunya.


Hingga puncaknya pada suatu hari, Ghazi mengalami demam yang cukup tinggi dan terus menangis sepanjang malam. Alina yang sudah lelah seharian berjuang mengerjakan skripsinya menjadi lebih sensitif saat menghadapi Ghazi yang rewel.


Heru yang sedang tidur lelap setelah seharian lelah bekerja, terkejut dan langsung terbangun saat mendengar teriakan Alina. Heru menghampiri Alina yang tengah menatap Ghazi yang terus menangis di atas strollernya.


Melihat Ghazi yang menangis meronta-ronta, Heru langsung mengangkat dan menggendongnya.


Dan begitu digendong Ayahnya, Ghazi berangsur-angsur menjadi tenang.


"Kenapa kamu diam saja melihat Ghazi menangis? Apa kamu tidak kasihan Alina? Lihatlah, Ghazi sedang demam, sementara kamu hanya sibuk dengan skripsimu saja..."


Hati Alina seperti tertusuk sembilu mendengar kata-kata suaminya. Padahal sedari tadi dia terus menggendong Ghazi, bahkan belum sempat memejamkan mata barang sejenak seharian ini. Baru sebentar Alina meletakkan Ghazi karena putus asa, tapi Heru justru menuduhnya seperti itu.


Ghazi akhirnya tertidur dalam gendongan Heru setelah kelelahan menangis. Heru pun meletakkan Ghazi secara perlahan ke tempat tidur. Heru ingin kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Tapi samar-samar Heru mendengar suara isakan dari luar kamar.


Rasa penasaran membawa Heru keluar untuk mengecek sumber suara. Dan ternyata Alina sedang bersimpuh di sofa sambil terisak.

__ADS_1


Heru langsung mendekat dan memeluk istrinya dari belakang.


"Ada apa Alina?"


Menyadari kehadiran suaminya, Alina malah menepis rengkuhan Heru dan menangis semakin kencang.


Heru bingung menghadapi tingkah istrinya. Sungguh Heru tidak mengerti ada apa dengan Alina.


"Ada apa Alina? Tolong bicara padaku? Aku benar-benar tidak mengerti, apa yang membuatmu bersedih sampai menangis begini? Apa karena Ghazi sedang sakit?"


Alina tetap tidak menjawab.


"Tenanglah, Ghazi akan baik-baik saja. Aku sudah memberinya paracetamol tadi...kalau besok pagi Ghazi masih demam aku akan membawanya ke rumah sakit..."


Alina mengangkat kepalanya dan memandang Heru yang masih sabar duduk di depannya sambil terus menenangkannya. Nampaknya Heru sudah benar-benar lupa kalau tadi sudah membentaknya.


Alina merasa terenyuh. Memang dirinya lah yang salah, bukan suaminya. Heru bahkan berhasil menenangkan Ghazi, dibandingkan dirinya, Ibu kandung Ghazi.


"Maaf ya Mas, aku belum bisa jadi Ibu yang baik untuk Ghazi dan juga belum jadi istri yang baik buat Mas..."


Heru baru menyadari kesalahannya.


Heru langsung memeluk Alina erat-erat.


"Bukan begitu Alina, maafkan aku. Tadi aku hanya panik saat melihat Ghazi menangis....kamu tetaplah Ibu yang terbaik untuk Ghazi...."


Alina masih terus menangis.


Sampai kemudian terdengar suara tangisan Ghazi dari dalam kamar. Alina bergegas menghampiri Ghazi dan menyusuinya, hingga Ghazi kembali tenang dan tertidur. Alina menyentuh kening Ghazi dengan lembut. Ternyata demam Ghazi sudah turun perlahan. Alina bisa sedikit bernafas lega.


Heru berbaring disamping Alina dan memeluknya dari belakang.


"Tenanglah Alina, semua akan baik-baik saja. Kamu tetap seorang Ibu yang terbaik untuk Ghazi dan istri yang tebaik untukku. Akan selalu ada hal yang harus dikorbankan saat kita sedang berjuang, tapi percayalah itu tidak akan sia-sia. Teruskan perjuanganmu sampai tercapai semua mimpimu. Kelak Ghazi akan mengerti dan akan bangga punya Ibu sepertimu..."

__ADS_1


Heru mencium kepala Alina dari belakang. Alina menarik tangan Heru agar mengeratkan pelukannya. Rasanya begitu nyaman, hingga Alina sedikit demi sedikit melupakan kegundahannya. Malam itu akhirnya mereka bertiga bisa tidur dengan lelap setelah drama panjang yang menguras emosi.


__ADS_2