Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 48


__ADS_3

Jangan pernah berfikir untuk mengganti nomor ponselmu karena itu akan percuma, aku bisa saja datang ke rumahmu, tapi aku belum akan melakukannya. Jadi mari kita bertemu di luar dan selesaikan masalah ini baik-baik Alina


Alina sudah merasa sangat geram dengan teror-teror yang diterimanya. Sepertinya dia harus melakulan sesuatu.


Kali ini Alina memilih menyimpan nomer orang asing itu sebelum menghapus pesannya.


Alina memyelesaikan makan siangnya dengan cepat dan pamit lebih dulu kepada suaminya.


"Aku naik duluan ya Mas, masih banyak berkas yang harus aku periksa....."


Pamit Alina beralasan.


"Ya, silahkan, hati-hati Alina..."


Meski kecewa tak bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan istrinya, tapi Heru tidak menahan langkah Alina.


Sampai di ruangannya, Alina segera mengirim pesan balasan pada orang asing itu.


Tolong jangan ganggu aku lagi, aku bisa melaporkanmu dan aku tidak main-main.


Hanya berselang beberapa saat orang itu malah menelpon Alina.


Meski ragu-ragu, Alina memberanikan diri mengangkatnya.


"Hallo Alina, apa kabar? Lama tidak mendengar kabarmu..."


Sapa seorang pria dari ujung telepon.


"Siapa kamu?"

__ADS_1


"Jangan pura-pura, kamu pasti tahu siapa aku..."


"Dirga?"


"Tepat sekali, lagi pula mana mungkin kamu sanggup melupakanku bukan?"


Dirga bicara dengan nada mengejek.


"Untuk apa kamu mengangguku lagi? Kita sudah tidak ada urusan apapun!", jawab Alina dengan tegas


"Mana mungkin kita tidak ada urusan? Apa kamu lupa aku pernah menitipkan sesuatu mikikku yang amat berharga. Bibit unggul yang sempat bersemayam di rahimmu, bagaimana kabar putraku sekarang?"


Mendengar bualan Dirga membuat Alina ingin muntah.


"Jaga bicaramu! Dulu kamu bahkan tidak mau mengakuinya. Jadi untuk apa sekarang kamu menanyakannya?"


Jawab Alina dengan tegas.


Dirga kembali berbicara dengan nada mengejek.


"Tidak ada satupun bukti yang mengarah bahwa dia adalah putramu, lagi pula, sebenarnya apa yang sekarkmang membuatmu peduli padanya?"


"Itu bukan urusanmu, tapi mudah bagiku untuk membuktikannya. Kebenaran tetaplah kebenaran, tak perduli bagaimana kamu menyangkalnya kebenaran akan tetap menemukan jalannya..."


Cuih, bagaimana bisa orang semacam Dirga bicara tentang kebenaran? Cibir Alina di dalam hati.


Tapi belum sempat Alina menjawab, panggilan itu sudah dimatikan secara sepihak.


Alina hanya bisa mendengus kesal.

__ADS_1


Jam istirahat telah berakhir, Alina harus kembali fokus melakukan pekerjaannya. Tapi sebelum itu, Alina tidak lupa untuk menghapus sumua riwayat telepon dan pesan yang berhubungan dengan Dirga.


Hati Alina semakin tidak tenang. Ancaman dari Dirga terus membayangi benaknya. Ada rasa cemas dan ketakutan yang tak bisa dia abaikan begitu saja. Apa yang akan dilakukan Dirga? Bagaimana kalau Dirga tega mengambil Ghazi darinya? Ah tidak-tidak. Hal itu tidak mungkin terjadi.


Kedatangan pasien demi pasien akhirnya mengalihkan perhatian Alina. Alina terus sibuk melayani pasien hingga jam kerjanya berakhir. Dan waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga.


Alina tersenyum sambil mengusap peluhnya. Hari yang panjang telah usai, sekarang waktunya pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga.


Heru mengetuk pintu ruang kerja Alina, berniat mengajaknya pulang bersama.


"Sudah selesai sayang?"


"Sudah Mas, ayo kita pulang..."


Merekapun berjalan beriringan menuju tempat parkir mobil.


Seperti biasa dalam perjalanan pulang, Alina memanfaatkan waktunya untuk bersandar dan memejamkan mata. Sebab sesampainya dirumah anak-anak sudah menantinya.


Alina terbangun saat mobil yang di kemudikan Heru berhenti di depan rumah mereka. Alina menggeliat dan membuka matanya perlahan.


"Sudah sampai Mas?"


"Sudah sayang, ayo turun! Atau perlu kugendong?"


Alina beranjak turun mengikuti langkah suaminya.


Firasat Alina mengatakan ada sesuatu yang tak beres dengan mobil asing yang terparkir di depan rumahnya. Mobil itu melaju begitu Alina dan Heru turun dan masuk ke dalam rumah.


Alina masuk ke dalam dan segera mengganti pakaiannya. Dan saat mengecek ponselnya, sebuah pesan dari Dirga kembali masuk.

__ADS_1


Tadi aku lewat depan rumahmu dan mampir untuk melihat Ghazi dari kejauhan, tapi tenang saja, aku tak akan bertindak lebih jauh asalkan kau mau bekerja sama.


Pesan itu disertai foto Ghazi yang sedang bermain di halaman.


__ADS_2