Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 69


__ADS_3

Meski berusaha untuk menyangkalnya, namun tetap saja Alina merasa gusar. Logikanya tidak ingin mempercayai pesan itu, tidak mungkin kan Mas Heru pergi ke tempat seperti itu? Sebab sejauh dia mengenal suaminya, Heru adalah tipe lelaki yang lurus hidupnya. Tapi entah mengapa instingnya sebagai istri merasa khawatir. Bukan hanya karena pesan yang baru saja dikirimkan Dirga, namun sejak beberapa hari yang lalu Alina sudah merasa banyak sikap suaminya yang janggal.


Pada jam istirahat, Alina memilih menghabiskan waktu di ruangannya saja. Alina hanya meminta tolong pada rekan perawatnya untuk membelikan makan siang untuknya. Alina mengambil ponselnya dan membuka kembali foto yang dikirimkan Dirga. Foto suaminya yang tengah merangkul mesra seorang perempuan muda di tempat yang remang-remang. Meski gambar itu kurang begitu jelas, Alina bisa mengenali bahwa itu memang suaminya.


Alina mencoba mengabaikan masalah itu sementara waktu dan kembali bekerja. Namun begitu Alina selesai dan keluar dari rumah sakit, ternyata Dirga sudah menunggunya.


"Ayo ikut denganku..."


Kata Dirga sambil berjalan disamping Alina.


Alina terkejut, tapi berusaha bersikap wajar.


"Bagaimana bisa kau tiba-tiba muncul, aku tidak mau!"


"Ayolah, aku hanya ingin bicara sedikit saja..."


Alina diam sambil tetap berjalan. Alina tidak ingin pertemuannya dengan Dirga akan menambah masalah bagi hubungannya dengan Heru.


"Apa kamu tidak ingin tahu kemana suamimu pergi dan menghabiskan malamnya?"


Alina tertegun, bagaimana Dirga bisa tahu?

__ADS_1


"Ayo kita bicara, aku akan memperlihatkan padamu lebih banyak bukti!"


"Tidak, aku lebih tahu bagaimana suamiku, aku tidak percaya padamu!"


"Jangan keras kepala, ikut aku sekarang, kalau tidak aku akan membuat keributan yang membuatmu malu!"


Tiba-tiba, Dirga sudah mencengkram tangan Alina dan menariknya.


Alina ingin berontak, tapi di sekitarnya ramai orang berlalu lalang. Apa lagi dirinya masih mengenakan pakaian dokternya. Berbuat keributan di lingkungan rumah sakit bisa mencemarkan nama baik tempatnya bekerja. Alina tidak punya pilihan selain mengikuti Dirga dan masuk ke dalam mobil lelaki itu.


Dirga melihat disampingnya Alina terus bergerak karena gelisah.


Setelah beberapa saat berada di jalan, akhirnya Dirga menepikan mobilnya ke sebuah cafe.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan, cepatlah waktuku tak banyak..."


Alina berucap setelah mereka berdua duduk. Seolah tidak memperdulikan Alina, Dirga malah memanggil pelayan dan memesan sejumlah makanan dan minuman.


"Alina, kamu mau pesan apa?"


Dirga bertanya setelah selesai dengan pesanannya. Karena perutnya terasa lapar, akhirnya Alina memesan pasta dan orange juice.

__ADS_1


"Maaf, tempo hari aku mengajak Ghazi pergi tanpa memberitahumu...pasti itu membuatmu kebingungan mencarinya..."


"Mudah sekali kamu bilang maaf?",


"Ah ya, aku akan menceritakannya sedikit padamu...kau tidak perlu terlalu khawatir, sepertinya Ghazi cukup menyukaiku dan kami menghabiskan waktu bersama dengan banyak hal menyenangkan..."


"Apa maksudmu dengan melakukan semua ini?"


"Tentu saja, aku hanya ingin memperkenalkan diri, sebelum nantinya kita akan hidup bersama sebagai satu keluarga yang utuh..."


"Jangan bermimpi, itu tidak mungkin terjadi..."


"Benarkah? Apa kau masih akan berpikiran sama kalau melihat ini?"


Dirga meletakkan banyak foto dimeja. Semuanya adalah potret adegan mesra antara seorang lelaki dan perempuan muda.


"Tidak mungkin...", ucap Alina dengan bibir gemetar.


"Apa masih kurang bukti yang kutunjukkan?"


Dirga lalu menyodorkan ponselnya dimana sebuah rekaman video tengah diputar.

__ADS_1


__ADS_2