Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 35


__ADS_3

Setelah pergulatan panas yang menguras energi, Alina dan Heru tidur dengan lelap dalam satu selimut yang menutupi tubuh telanj*ng keduanya.


Ternyata begitu nyamannya tidur dalam pelukan suami. Sangat berbeda saat melakukan pebuatan terlarang itu dulu, selalu diliputi perasaan was-was dan ketakutan. Begitulah bedanya antara yang halal dan yang haram.


Alina terbangun lebih dahulu dan buru-buru beranjak karena merasa malu jika Heru melihatnya seperti ini. Tapi baru mau bangkit, sebuah tangan besar menarik tubuhnya hingga kembali jatuh ke temoat tidur.


"Sebentar saja sayang..."


Heru menarik tubuh Alina ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat.


"Sudah hampir subuh Mas..."


Tapi Alina juga membalas dekapan itu dengan menarik tangan Heru agar memeluknya lebih erat. Beberapa saat mereka menikmati momen itu.


"Sudah...mandilah dengan air hangat..."


Heru akhirnya melepaskan pelukannya.


Alina menarik selimut yang semula menutupi tubuh mereka berdua untuk menutupi tubuhnya. Alina berjalan sambil memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai, lalu menuju kamar mandi.


Heru tertawa geli menyaksikan tingkah lucu Alina.


Setelah Alina masuk ke kamar mandi, Heru pun segera memungut pakaiannya dan mengenakannya lagi.


Heru lalu iseng mengetuk pintu kamar mandi, dimana Alina sedang mandi di dalamnya.


"Kenapa Mas? aku belum selesai..."


"Kenapa harus gantian? Kan kita bisa berendam bareng?"


Dalam sekejap pintu kamar mandi kembali tertutup.


Heru hanya terkekeh sambil garuk-garuk kepala. Sepertinya Alina masih terlalu malu.


Setelah selesai mandi secara bergantian, mereka lalu menunaikan shalat subuh secara berjamaah. Dan ini menjadi kali pertama mereka shalat bersama setelah hari pernikahan. Dan suasana subuh itupun terasa begitu syahdu.


Usai menunaikan shalat, Alina mencium punggung tangan Heru, dan Heru pun mengecup kening Alina. Dan momen sederhana itu dirasakan Alina sebagai momen paling romantis yang pernah dirasakannya bersama seorang pria.


Setelah adegan saling mencium yang syahdu, keduanya lalu berdoa dengan khusyuk. Dan meski tak saling tahu mereka melafalkan doa yang sama. Doa agar pernikahan mereka selalu diberkahi dan menjadi keluarga yang sakinah.


Pagi itu, Heru mengajak Alina jalan-jalan sebentar di perkebunan. Mereka memetik sayuran dan buah-buahan segar untuk dobawa sebagai oleh-oleh untuk Mama nantinya. Sakinh senangnya Alina melihat aneka sayur dan buah-buahan yang negitu segar, hingga tanpa sadar dirinya memetik banyak sekali.


"Mobil kita akan berubah menjadi mobil pengangkut buah dan sayur saat pulang nanti..."


Gurau Heru pada Alina.

__ADS_1


Tapi Alina tidak perduli dan masih meneruskan kesenangannya memegik strawberi sambil sesekali mencicipi buah berwarna merah itu.


Selesai panen, mereka kembali ke villa untuk sarapan. Ini akan menjadi acara makan mereka yang terakhir disini.


"Kenapa rasanya cepat sekali ya Mas Heru? Rasanya baru saja sampai, tapi sekarang sidah mau pulang saja...", keluh Alina sambil menungggu sarapannya diantar.


"Bilang saja kamu ingin lebih lama berduaan denganku disini sayang?", Heru mencubit pipi Alina dengan gemas.


"Ya...aku memang masih ingin lebih lama disini, apalagi kalau ada Ghazi..."


Tiba-tiba Alina teringat akan putranya.


"Tentu saja, lain kali kita akan kesini lagi dengan mengajak Ghazi...."


"Benarkah Mas?"


"Tentu saja sayang...."


Alina memilih bubur ayam yang hangat sebagai menu sarapannya di pagi yang dingin itu.


Sedangkan Heru lebih memilih nasi uduk, sebab menurutnya makan bubur hanya akan membuatnya cepat lapar.


Selelah makan akhirnya mereka berkemas-kemas untuk pulang ke rumah.


Bulan madu mereka memang sederhana dan amat singkat. Tapi Alina sangat bersyukur akhirnya bisa menunaikan kewajibannya sebagai isteri.


Heru menyetir dengan kecepatan sedang sambil terus bersenandung. Hatinya sedang bahagia. Kini hidupnya telah lengkap dan dirinya telah memiliki keluarga seperti yang selama ini diimpikannya. Dalam hati Heru berjanji akan selalu menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya.


Tanpa terasa mereka sudah sampai kembali di jakarta. Alina terbangun dan mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Sudah sampai mana ini Mas? Berapa lama aku tidur? Kenapa tidak dibangunkan Mas?"


Padahal Alina ingin menikmati perjalanan pulang mereka sambil melihat pemandangan.


"Kamu tidur nyenyak sekali, sepertinya semalam aku membuatmu lelah..."


Alina masih saja malu-malu saat Heru menggodanya seperti itu.


"Bagaimana kalau nanti sore kita mengajak Ghazi jalan-jalan?"


Heru segera mengalihkan topik pembicaraan agar Alina tidak terlalu salah tingkah.


"Apa tidak merepotkan Mas Heru?"


"Tentu saja tidak Alina, Ghazi kan anakku juga...besok aku sudah mulai bekerja, lebih baik besok Ghazi sudah mulai tinggal bersama kita agar kamu tidak kesepian..."

__ADS_1


"Terimakasih banyak Mas, sudah mau menerima aku dan Ghazi..."


Tulus Alina berucap, karena sungguh Alina merasa beruntung bisa menikah dengan laki-laki sebaik Heru.


"Tentu saja, kamu ini bicara apa sih, sudah semestinya aku melakukannya..."


Tanpa terasa akhirnya mereka sudah sampai dirumah.


Heru membantu Alina mengeluarkan sayur dan buah-buahan yang memenuhi mobil mereka.


"Apa ini tidak terlalu banyak Alina?"


"Tidak apa-apa, biasanya Mama suka membagikannya ke tetangga...."


"Sebabaiknya kamu masuk dan istirahat saja, biar aku yang mengantarkannya ke rumah utama..."


"Ya Mas..."


Alina lalu masuk dan menyiapkan kopi untuk Heru. Setelah selesai dengan buah dan sayur mayur, Heru pun menyusul Alina masuk ke dalam kamar.


"Diminum dulu Mas kopinya, pasti lelah kan?"


Alina memberanikan diri mendekat dan memijat-mijat bahu Heru. Mereka duduk berdampingan di temoat tidur.


Heru memimum sedikit kopinya yang ada di nakas. Tapi konsentrasinya buyar saat merasakan gundukan kenyal Alina yang menempel di punggungnya.


Tiba-tiba Heru berbalik dan menatap Alina lekat-lekat.


Alina yang tengah memijat dobuat kaget.


"Ada apa Mas, apa aku salah memijat?"


"Ya, tentu saja salah, kamu membangunkan singa yang sedang tidur..."


Alina tidak mengerti kata-kata suaminya. Tapi secepat kilat Heru sudah mendekapnya dan mrnciumi wajahnya dengan rakus, meski Alina masih berpakaian lengkap dan mengenakan hijabnya.


"Sayang...sepertinya dirimu lebih menggiurkan dibandingkan kopi itu..."


Heru membuka hijab yang dikenakan Alina dengan perlahan, lalu membaringkan tubuh Alina di tempat tidur.


"Alina aku memginginkanmu sekarang, bolehkah?"


Ditengah gair*h yang melanda jiwanya, Heru tetap meminta persetujuan istrinya. Alina mengangguk samar, dan itu cukup sebagai jawaban. Meski terkejut dengan keinginan suaminya di siang bolong, tapi Alina memilih pasrah dan membiarkan Heru melakukan apa yang ingin dilakukannya.


Diawali dengan kecupan-kecupan kecil yang lembut. Perlahan Alina pun turut menikmati permainan suaminya. Alina mengusap kepala Heru dengan penuh rasa sayang, membiarkan dan mempersilahkan lelaki itu menyentuh dan mengecup setiap inci tubuhnya. Ya, dialah Heru suaminya, lelaki yang paling berhak atas diri dan tubuhnya.

__ADS_1


Di luar matahari tengah bersinar dengan teriknya, sementara di dalam kamar itu, suasana pun tak kalah panas.


__ADS_2