Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 13


__ADS_3

Mia, besok aku akan menemui Dirga, tolong bantu aku ya..


Alina mengirim pesan kepada Mia. Mia adalah teman satu SMA nya, dan kemarin Tiara lah yang memberikan nomor Mia, agar Alina bisa berkomunikasi secara langsung. Alina mengenal Mia sebagai teman yang baik dan bisa dipercaya, meskipun mereka sempat hilang kontak karena kesibukan masing-masing. Alina pun sudah menceritakan kepada Mia tentang musibah yang di alaminya.


Tidak lama berselang, masuk pesan balasan dari Mia.


Apa kamu yakin Alina? Aku dengar Dirga sudah punya kekasih baru...


Membaca pesan itu hati Alina terasa tertusuk. Sepertinya bagi Dirga dirinya tak lebih hanya mainan, yang kini telah rusak dan dibuangnya begitu saja. Tapi biar bagaimanapun juga keputusan Alina sudah bulat. Alina akan tetap menemui Dirga dan berbicara langsung dengan pria yang pernah jadi kekasihnya itu.


Ya, aku yakin Mia...aku tetap ingin bertemu dengan Dirga apapun yang akan terjadi nanti, tolong awasi Dirga dan beritahu keberadaannya padaku.


Kebetulan sekali, Mia bekerja di firma hukum yang sama dengan Dirga


Meski posisi Mia hanya sebagai pegawai biasa, setidaknya setiap hari Mia bertemu Dirga dan tidak sulit bagi Mia untuk mengikuti dengan diam-diam kemana Dirga pergi selama masih di sekitar kantor.


Baiklah kalau itu maumu, kamu memang keras kepala, Alina! Aku pasti akan membantumu sebisaku, tapi kamu juga tetap berhati-hati dan jaga diri baik-baik..


Ya, aku mengerti, terimakasih banyak Mia..


Akhirnya malam itu Alina bisa tidur dengan tenang.


Keesokan harinya, akhirnya Alina bisa ikut sarapan bersama di meja makan. Alina bercerita dengan antusias kepada semua anggota keluarganya bahwa kondisinya sudah membaik dan sudah diizinkan untuk beraktivitas seperti biasa. Semua anggota keluarga tentu saja sangat senang mendengar kabar gembira itu. Tapi ternyata ada hal lain yang lebih membuat mereka bahagia, yaitu raut wajah Alina yang terlihat lebih ceria dan sudah kembali bersemangat. Sepertinya kehadiran Heru di rumah ini sedikit banyak telah membawa perubahan yang positif pada diri Alina. Semoga saja keadaan Alina terus membaik dan Alina bisa segera pulih dari traumanya.


Tanpa ada yang menyadari Alina sebenarnya sedang berusaha mencari celah agar bisa keluar.


"Papa, hari ini aku ingin pergi keluar sendiri, boleh kan?"


"Tentu saja Alina, kebetulan hari ini Heru sedang libur, jadi dia bisa menemanimu..."


"Tapi aku ingin pergi sendiri Pa...tidak perlu ditemani siapapun..."


"Tapi kamu sedang hamil sayang, Papa khawatir padamu..."

__ADS_1


"Aku bukan anak kecil Pa, aku bisa menjaga diriku sendiri, lagi pula aku hanya ingin pergi nongkrong di cafe dan bertemu Tiara dan Mia sahabatku, kami tidak akan bebas berbincang kalau ada Mas Heru. Lagi pula Mas Heru juga pasti akan merasa tidak nyaman kalau hanya diabaikan..."


Alina terus berusaha mencari alasan.


Dokter Hendra berfikir sebentar sebelum akhirnya menyerah.


"Baiklah, kamu boleh pergi


sendirian, tapi jangan terlalu lama..."


"Asyik, terimakasih Papa..."


Alina terlihat semakin bersemangat. Akhirnya dirinya berhasil membujuk Papanya.


Setelah selesai sarapan Alina segera kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Rencananya, Alina akan menemui Dirga saat jam makan siang nanti. Menurut informasi yang diberikan Mia, biasanya Dirga sering makan siang di coffe shop yang berada di lantai dasar gedung astana. Jika tidak ada disana, opsi kedua biasanya Dirga pergi ke kafetaria saat jam makan siang. Tapi akan terlalu ramai jika mereka harus bertemu di cafetaria. Jadi pagi itu Alina berdoa semoga saja nanti Dirga benar-benar pergi ke coffe shop.


Alina pergi keluar saat rumah telah sepi. Alina berjalan dengan mengendap-endap seperti tahanan yang akan kabur. Kamar Heru terlihat sepi. Entah apa yang dilakukan laki-laki itu di dalam. Akhirnya Alina sampai di depan rumah dengan aman. Setelah itu barulah Alina memesan taksi online. Sebenarnya Alina terbiasa membawa mobil sendiri, tapi kali ini Alina sedang malas. Dan lagi pula sepertinya pergi dengan taksi online akan lebih aman baginya.


Alina sengaja datang lebih awal. Saat sampai di gedung yang dimaksud, Alina langsung masuk ke dalam coffe shop yang ada di lantai dasar. Alina memilih duduk di satu sudut tersembunyi. Alina lalu memesan minuman dan sepotong cake. Strawberry cheesecake di gerai itu memang sangat lezat dan menjadi favorite Alina sejak dulu. Alina lalu duduk menunggu sambil terus berkomunikasi dengan Mia. Sampai kemudian Mia bilang bahwa Dirga sidah turun, jantung Alina mulai berdetak lebih kencang.


Dirga memilih duduk di sofa bagian tengah. Dari tempatnya Alina bisa mengamati Dirga dengan jelas. Dirga hanya seorang diri disana. Itu artinya Alina bisa lebih leluasa berbicara berdua saja dengan Dirga.


Alina melangkah dengan yakin menuju tempat Dirga berada. Alina lalu duduk disofa tepat di depan Dirga. Dirga nampak terkejut dengan kehadiran Alina.


"Selamat siang Dirga...", Sapa Alina.


Dirga terlihat panik dengan kehadiran Alina yang tiba-tiba.


"Ngapain lo ada disini?", tanya Dirga dengan ekspresi bingung.


"Gue sengaja datang kesini buat nyariin lo!"


"Ngapain lo masih nyariin gue? Kita udah nggak ada urusan", ucap Dirga dengan paniknya.

__ADS_1


"Kita bahkan belum pernah bilang kata putus, tapi lo tiba-tiba ngilang nggak ada kabar!"


"Kalau lo pinter harusnya lo tahu kalu itu artinya kita udah putus!"


Plak. Satu tamparan mendarat di wajah Dirga.


"Hey, jangan main tampar seenaknya ya! Gue nggak akan bales karena lo cewek, tapi gue bisa laporin perbuatan lo ini karena melanggar hukum!"


"Laporin aja kalau berani? dasar cowok cemen!"


Dirga terlihat menahan kesal dan malu. Beberapa pengunjung sudah mulai memperhatikan mereka. Karena itu Dirga berusaha sabar dan berbicara baik-baik pada Alina.


"Jadi sebenarnya, mau apa lo datang kesini nyariin gue?"


"Gue mau minta pertanggung jawaban atas anak yang gue kandung..."Alina bicara dengan tegas.


"Nggak bisa, gue nggak percaya kalau itu anak gue. Lagian bukannya lo udah nikah sama si dokter oon itu?"


Alina menampar Dirga untuk yang kedua kalinya.


"Jaga mulut lo! Kalau emang bener ini bukan anak lo? ayo kita buktiin sama-sama, kita tes DNA..."


Jawab Alina menantang Dirga. Baik Alina maupun Dirga sudah sama-sama emosi.


"Ngapain gue repot-repot buktiin segala!", Ucap Dirga dengan santainya yang membuat Alina habis kesabaran.


"Bilang aja kalau lo takut!"


"Gue nggak takut, tanggung jawab apa yang kamu minta? Berapa yang harus gue bayar sama lo?"


Alina melayangkan tangan, bersiap menampar Dirga untuk ketiga kalinya. Tapi tiba-tina ada tangan kekar yang menahan tangannya.


"Sudah Alina, ayo kita pulang..."

__ADS_1


Lelaki itu memegang erat tangan Alina dan menuntunnya untuk melangkah pergi.


__ADS_2