Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 33


__ADS_3

Keesokan harinya, Alina terbangun dalam keadaan yang lebih segar. Alina segera mandi dan berdandan sebelum menemui suaminya.


Dan hari ini Alina telah memutuskan untuk mengubah penampilannya sebagai bentuk kesungguhannya bertaubat dan menjalankan perintah agamanya. Alina memutuskan untuk mengenakan hijab. Walau tidak banyak, Alina punya beberapa baju panjang dan koleksi hijab yang dipakainya untuk acara tertentu. Mungkin kedepannya Alina akan membeli lebih banyak lagi agar bisa dipakai setiap hari.


Alina mematut-matut wajahnya dicermin. Rasa-rasanya penampilannya jauh lebih baik dan Alina merasa lebih percaya diri dengan dirinya yang baru. Setelah memastikan semuanya sempurna, Alina melangkah keluar dari kamarnya.


Ada sesuatu yang ingin dilakukannya dan Alina sudah memikirkannya sejak tadi malam. Susah payah Alina mengumpulkan keberanian dan menekan egonya. Alina akan menghampiri Heru untuk meminta maaf.


Hari ini Heru masih cuti. Meski mereka menikah diam-diam, tapi Heru tetap mengajukan cuti tiga hari dan dengan mudah permohonan cuti itu dikabulkan. Alina tidak ingin waktu cuti Heru sia-sia karena kesalahan konyol yang dilakukannya.


Alina melangkah dengan hati-hati dan memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar yang ditempati Heru. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Heru membukakan pintu.


Heru terkejut melihat Alina yang berdiri di depannya sepagi ini.


"Alina?", tanya Heru memastikan.


"Ya Mas, aku Alina, boleh aku masuk ke dalam, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan..."


"Ya, tentu saja, silahkan..."


Heru pun membuka pintunya lebih lebar untuk mempersilahkan Alina.


"Ada apa pagi-pagi begini Alina?"


Heru duduk di atas tempat tidur dan mempersilahkan Alina untuk ikut duduk.


Tapi tiba-tiba, Alina justru bersimpuh di pangkuannya.


"Mas Heru...maafkan aku...maafkan aku..."


Alina meraih tangan Heru dan menciumnya dengan khidmad. Apapun akan dilakukan Alina agar suaminya kembali ridho akan dirinya.


Heru yang terkejut reflek menarik tangannya, tapi Alina tetap menahannya.


"Alina ada apa ini? Ada apa denganmu?"


"Mas Heru, aku benar-benar minta maaf atas perbuatanku kemarin. Aku tidak bermaksud seperti itu...tapi entah mengapa alam bawah sadarku membuatku takut hingga melakukan tindakan itu..."


Heru mulai bisa mencerna maksud Alina.


"Tenanglah Alina...aku sudah memaafkanmu, tidak perlu terlalu dipikirkan..."


"Mas Heru, tolong kembalilah ke kamar kita, tolong jangan hukum aku seperti ini, aku berjanji akan berusaha jadi isteri yang baik..."


"Alina bukan seperti itu maksudku, aku pindah kesini bukan karena marah atau bermaksud menghukummu, aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak nyaman. Mungkin kita perlu waktu untuk saling menyesuaikan diri...baiklah kalau itu maumu, aku akan kembali ke kamar kita"


Heru segera mengemasi barang-barangnya dan membawanya ke kamar yang semula ditempati dirinya dan Alina.

__ADS_1


Alina memgikuti Heru masuk ke kamar mereka.


"Nah, sekarang aku sudah kembali kesini, jadi kamu tidak perlu khawatir Alina, aku tidak marah..."


Heru masih sibuk menata barang-barangnya ke tempat yang seharusnya.


Alina mendekat, bermaksud membantu Heru dan melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Tapi Heru yang tidak menyadari kehadiran Alina justru menyenggol tubuh istrinya, hingga Alina nyaris terjatuh.


Reflek Heru menahan tubuh Alina yang limbung dan hal itu membuat jarak diantara mereka hanya tersisa beberapa centi saja. Heru menatap wajah Alina lekat-lekat, baru saja menyadari ada yang berbeda dari penampilan Alina.


"Mau pergi kemana? Apa ada acara?"


Heru bertanya, sebab tidak biasanya Alina mengenakan pakaian seperti itu.


Alina lalu bangkit dan memperbaiki posisinya, melangkah untuk memberi jarak dengan Heru yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


"Tidak mau kemana-mana Mas, mulai sekarang aku ingin mengenakan hijab, bagaimana menurut Mas Heru?"


Heru kembali mendekat dan meraih wajah Alina, lalu dipandanginya dari segala sisi. Hal itu membuat Alina merasa rikuh. Tapi Heru malah semakin senang menggoda istrinya itu.


"Kamu terlihat cantik seperti ini. Dan rasanya semakin sejuk dipandang..."


Alina tampak tersipu dengan pujian suaminya.


Beberapa saat pandangan mereka bertemu dan timbul getaran hebat di hati keduanya.


"Maaf Non, sarapannya sudah siap..."


Teriak Bi Siti dari luar.


Heru menyudahi ciuman itu lu tersenyum.


"Ayo kita sarapan dulu, setelah itu kita temui Ghazi bersama, aku juga ingin bertemu dengannya..."


Mereka akhirnya keluar dari kamar untuk sarapan bersama.


Menu sarapan kali ini ada sayur bayam, ayam goreng, dan tahu tempe. Untuk Alina juga Bi Siti sudah membuatkan susu khusus untuk Ibu memyusui.


Alina menyendokkan nasi dan lauk pauk ke piring suaminya lebih dulu, sebelum mengambil untuk dirinya sendiri.


"Terimakasih..."


Merekapun mulai makan bersama.


"Apa rencanamu hari ini?"


Tanya Heru di sela-sela kegiatan makan mereka.

__ADS_1


"Hmm, maksud mas? Aku belum ada rencana apapun, hanya dirumah saja seperti biasa..."


"Bagaimana kalau kita pergi ke puncak dan menginap di sana?"


Alina terlihat berfikir sejenak.


"Apa kamu memikirkan Ghazi?"


Alina lalu ingat kalau dirinya harus patuh dan menuruti suaminya.


"Hmm sepertinya tidak apa-apa, Ghazi sudah ada Mama dan Mbak Sitha, ayo kita pergi..."


"Baiklah, setelah sarapan kita akan berpamitan pada Ghazi sebelum berangkat. Aku ingin menghabiskan waktu yang lebih berkesan denganmu hari dan besok, mari kita ajak Ghazi jalan-jalan bersama, bagaimana?"


"Ya Mas, terimakasih banyak sudah selalu memikirkan aku dan Ghazi..."


Setelah sarapan Alina dan Heru mengemasi barang-barang bersama. Setelah itu mereka pergi ke rumah utama untuk menengok Ghazi dan berpamitan pada Mama.


Ternyata pagi itu Ghazi sedang berjemur di halaman depan bersama Mama.


"Ma, hari ini kami ingin pergi kepuncak berdua, mungkin besok pagi baru kembali ke rumah..."


Pamit Heru pada Ibu mertuanya setelah mereka puas bermain-main dengan Ghazi.


"Ya tentu saja, pergilah dan nikmatilah waktu kalian, Ghazi akan baik-baik saja bersama Mama..."


"Terimakasih banyak Ma..."


Alina lalu menitipkan beberapa botol asi pada Mama.


"Terimkasih banyak Ma, apa stok asi untuk Ghazi masih aman?"


"Tentu saja, asalkan kamu memompa dengan rutin Ghazi tidak akan kekurangan asi...berangkatlah dan nikmatilah waktu bersama suamimu..."


"Ya Ma, kami pamit dulu..."


Akhirnya mereka benar-benar berangkat menuju puncak. Anggap saja ini adalah bulan madu mereka walau pun sederhana. Maklum, Alina masih harus memikirkan Ghazi. Dan kondisi pernikahan mereka pun masih penuh dengan keterbatasan.


Perjalanan ke puncak lancar tanpa kendala yang berarti. Tadinya Mama menyarankan untuk menginap saja di villa milik keluarga. Tapi Heru menolaknya, sebab Heru ingin dirinya sebagai suami yang menyiapkan segalanya untuk sang istri.


Sebelumnya Heru telah melakukan reservasi khusus di villa tersebut. Begitu datang, para pelayan villa sudah menyambut mereka di depan dengan membawa kue bertuliskan happy wedding dan happy birthday, juga beberapa buah kado. Ya hari ini adalah hari ulang tahun Alina. Alina sendiri tidak mengingatnya karena terlalu sibuk memikirkan Ghazi dan segala persoalan pernikahannya. Tapi Heru tidak akan melupakan hari spesial Alina begitu saja. Heru sudah menyiapkan kejutan ini sejak jauh-jauh hari.


Setelah meniup lilin, Alina lalu di hujani bungkusan kado yang dibawakan para pelayan villa. Alina sangat terharu dengan surprise yang diberikan suaminya hingga meneteskan air mata.


"Terimakasih banyak Mas Heru, aku pasti akan jadi wanita paling bahagia karena menikahi pria sepertimu..."


Alina berucap dalam hati dan benar-benar bersyukur akan kehadiran Heri di hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2