Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 43


__ADS_3

Setelah Heru kembali ke rumah, kehidupan mereka semakin membaik dari hari ke hari. Alina merasa semakin tentram dan bahagia. Masalah anak-anak yang dulu harus diselesaikannya sendiri, sekarang bisa berbagi tugas bersama suaminya. Hal itu membuat bebannya terasa lebih ringan dan hatinya pun merasa tenang.


Alina sudah mulai bekerja kembali. Pun Heru juga sudah bekerja kembali sebagai dokter spesialis. Selama keduanya bekerja Fatih dan Ghazi di asuh oleh Mbak Sitha dan Bi Siti dalam pengawasan Mama. Alina bisa tenang meninggalkan kedua buah hatinya karena menitipkannya pada orang terpercaya yang sudah bekerja lama pada keluarganya. Meski begitu, saat pulang bekerja atau di hari-hari libur, Alina kembali melakukan tugasnya sebagai Ibu dan istri. Fatih tetap mendapatkan haknya untuk menyusu dan tidur bersama Alina di malam hari. Dan Heru juga selalu menyempatkan waktunya bermain bersama Ghazi dan Fatih di malam hari.


Kehidupan mereka semakin terasa sempurna saat Heru memutuskan untuk membeli rumah dari hasil tabungannya selama ini. Ya, memiliki rumah sendiri adalah impian Heru sejak lama. Dan kini Heru berhasil mewujudkannya dengan kerja kerasnya. Bukan rumah mewah seperti milik mertuanya. Tapi cukup dan nyaman untuk ditinggali kekuarga kecilnya. Alina pun turut senang dan bangga dengan apa yang dicapai suaminya, sebab Alina tahu benar perjuangan Heru untuk mendapatkan semua itu.


Alina dan Heri bahu membahu menyiapkan kepindahan mereka dan anak-anak. Dan beruntunglah mereka, sebab Mbak Sitha dan Bi Siti setuju untuk ikut pindah dan terus membantu merawat Fatih dan Ghazi. Hanya saja Mama terlihat berat untuk berpisah daru cucu-cucunya.


"Mama tenang saja, kita pasti akan sering mampir kesini, lagi pula rumah kami jauh. Mama masih bisa menemui Ghazi ran Fatih kapan saja..."


Heru bicara menenangkan Ibu mertuanya.


"Ya, kalian hati-hati di jalan, jaga cucu Mama baik-baik..."


"Ya Ma..."

__ADS_1


Mama memandang kepergian putri dan menantunya dengan haru. Dalam hati Mama bersyukur, meski Alina pernah jatuh dan terpuruk, tapi putrinya masih bisa bangkit dan menata hidupnya kembali. Dan semua itu tak lepas dari jasa dan ketulusan Heru.


Alina dan Heru menikmati hari-harinya di rumah baru mereka. Rumah itu tidak kecil dan tidak besar. Tapi sangat nyaman dengan beberapa space bermain anak-anak dan ruangan terbuka hijau. Tentu dalam memilihnya Heru mempertimbangkan kebutuhan anak-anak dan selera Alina.


Suasana baru membuat mereka lebih bersemangat. Alina sedang senang-senangnya memasak aneka menu di dapur cantik barunya. Sedang anak-anak senang sekali berlarian menjelajahi sudut rumah yang baru mereka tinggali.


Sesekali jika merindukan cucu-cucunya, Mama akan datang dan menginap di sana. Begitupun Alina dan Heru, sesekaki mereka masih berkunjung dan menginap di rumah orang tua Alina, agar Mama dan Papa tidak terlalu kehilangan cucu-cucunya.


Kebahagian itu terasa lengkap dan sempurna baik bagi Heru maupun Alina. Mereka merasa bersyukur memiliki satu sama lain.


Tanpa Alina sadari ada seorang pria yang terus mengamatinya dari kejauhan.


Pria itu adalah pemilik dari bakery langganan Alina.


"Apa perempuan itu sering datang kemari?"

__ADS_1


Pria itu bertanya pada pegawai yang baru masuk untuk mengambilkan pesanan Alina.


Pelayan itu tidak mengerti maksud pertanyaan bosnya, tapi segera menjawab pertanyaan itu apa adanya.


"Ya, dia beberapa kali datang kesini untuk membeli donat Pak, lumayan sering..."


Lelaki itu laku mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu disana.


Setelah selesai, lelaki itu memyelipkan note kecil itu ke dalam kotak donat pesanan Alina.


"Gratiskan donat itu untuknya, bilang saja gerai kita sedang berulang tahun dan dia adalah pelanggan yang beruntung..."


"Baik Pak..."


Alina terkejut saat pelayan bilang dirinya tidak perlu membayar untuk sekotak donat itu. Alina menerimanya dengan sungkan, meski begitu Alina tak curiga sebab dirinya memang cukup sering membeli roti dan donat di toko itu.

__ADS_1


__ADS_2