Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 29


__ADS_3

Malam itu, Alina memilih duduk di taman belakang usai Ghazi tertidur. Alina merasa butuh waktu untuk memyendiri dan berfikir, sambil menikmati secangkir coklat hangat dan donat kekinian yang dipesannya lewat aplikasi online. Dan lagi pula, dari tempatnya duduk suara tangis Ghazi masih bisa terdengar dan Alina bisa menghampirinya segera.


Me time. Itulah yang sedang dilakukan Alina sekarang untuk menjaga suasana hatinya yang kerap naik turun. Dan juga, entah mengapa Alina terus saja memikirkan tentang lamaran yang ditanyakan Heru kemarin. Entah apalah jawaban yang harus diberikannya nanti. Alina benar-benar tidak memiliki keyakinan untuk memberikan jawaban. Alina sungguh merasa kotor dan tidak pantas untuk seorang Heru yang sempurna di matanya. Pun Alina terlalu takut untuk menolak, sebab Alina menyadari betapa dirinya dan Ghazi telah terlalu banyak bergantung pada kebaikan Heru yang selama ini memenuhi hari-harinya.


"Sedang apa Alina?"


Sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya. Suara dari pria yang tengah di pikirkannya.


"Ah, Mas Heru...aku hanya sedang menghirup udara segar disini, Mas Heru mau?"


Tanya Alina sambil menyodorkan kotak donat yang ada di depannya. Heru mengambil satu dan langsung menggigitnya.


"Ini enak sekali dan bagus untuk mempetbaiki mood ibu menyusui..."


"Ya, sudah malam, aku masuk ke dalam dulu..."


Alina merasa tidak nyaman dengan kehadiran Heru. Tapi saat akan melangkah masuk, Heru menahan tangan Alina.


"Kamu berhutang jawaban padaku..."


Heru menatapnya tajam, membuat Alina semakin salah tingkah. Alina melepaskan cengkraman tangan Heru di lengannya.


"Maafkan aku Mas Heru, tapi aku merada sangat tidak pantas untukmu, kamu berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku..."


Alina meneruskan langkahnya yang sempat tehenti, tapi Heru kembali menahan tangannya dan kemudian menarik tubuh Alina hingga terjatuh ke dalam pelukannya. Heru memeluk Alina erat-erat.


"Alina jangan bicara seperti itu. Hanya karena pernah melakukan kesalahan, tidak berarti akan membuat dirimu buruk Semua orang adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah dia yang bertaubat. Alina...aku sungguh-sungguh mencintaimu, tolong pertimbangkan ini demi kebaikan dirimu dan Ghazi..."

__ADS_1


Alina menarik diri perlahan dari pelukan Heru. Bersamaan dengan itu terdengar suara tangisan Ghazi dari dalam kamar. Alasan yang tepat bagi Alina untuk pergi dari Heru.


"Aku akan memikirkannya, selamat malam Mas Heru..."


Alina pun melangkah masuk ke dalam kamar.


Alina merasa gelisah dan tak bisa memejamkan mata. Malam itu akhirnya Alina benar-benar menggunakan waktunya untuk memikirkan masa depannya bersama Ghazi. Alina terus melantunkan dzikir agar hatinya menjadi tenang dan pikirannya kembali jernih.


Secara logika, kehadiran Heru di hidupnya adalah keberungan terbesar bagi dirinya dan Ghazi. Heru memperlakukan dirinya dan Ghazi dengan begitu baik. Selalu ada dan menemaninya. Juga berperan sangat baik sebagai seorang Ayah meski Ghazi bukanlah anak kandungnya. Dan sejujurnya Alina juga masih menyimpan perasaan untuk Heru. Tapi secara moral Alina sungguh merasa tidak pantas. Alina merasa bersalah, terus menyeret Heru dan membuatnya harus bertanggung jawab atas segala kekacauan hidupnya.


Malam itu Alina akhirnya melakukan shalat isthikarah, memohon petunjuk kepada Sang pemilik hidup untuk menentukan sebuah keputusan besar di dalam hidupnya. Selesai sholat Alina terus berdoa dan berdoa, sampai kemudian matanya muali mengantuk dan tertidur disajadah. Alina terbangun saat mendengar tangisan Ghazi. Alina berpindah ke tempat tidur untuk menyusui Ghazi, lalu kembali tidur di samping bayinya.


Keesokan harinya Alina bangun dengan hati yang terasa lebih tenang. Waktu berlalu, hari demi hari berganti. Heru tak lagi menagih jawaban. Alina tidak mendapati jawaban atau petunjuk yang spesifik akan doa-doa yang dipanjatkannya. Tapi perlahan hati Alina semakin condong untuk menerima Heru. Akal sehatnya bekerja dan dengan mempertimbangkan berbagai macam hal, Alina sadar menerima Heru sebagai suaminya akan lebih mendatangkan banyak kebaikan dibandingkan menolaknya.


Maka malam itu Alina memberikan diri untuk mengetuk pintu kamar Heru.


"Ada yang ingin aku bicarakan Mas Heru, bisa kita bicara di taman belakang?"


"Tentu saja Alina..."


Alina melangkah ke taman belakang dengan diikuti Heru di belakangnya.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan disini Alina...."


"Aku sudah memikirkan baik-baik lamaran Mas Heru waktu itu dan aku memutuskan untuk memerimanya...."


Alina berbicara dengan wajah menunduk menahan malu. Setelah mengucapkan itu, Alina kembali masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucap satu patah katapun pada Heru. Tapi itu sudah cukup untuk membuat hati Heru lega dan Heru pun terus tersenyum sepanjang sisa malam itu.

__ADS_1


Ya Alina akhirnya memutuskan untuk memerima lamaran Heru dengan segala konsekuensinya. Dalam hati Alina berjanji akan menjadi isteri yang baik saat sudah menikah dengan Heru nanti. Alina berharap dapat membalas semua kebaikannya dengan baktinya kepada suami.


Tak ingin membuang waktu, keesokan harinya saat berpapasan dengan ayah mertuanya, Dr.Hendra di rumah sakit, Heru memberanikan diri untuk bicara.


"Papa, bisa nanti malam kita bicara di ruang kerja? Ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada Papa..."


Ini adalah pertama kalinya Heru mengajak ayah mertuanya bicara terlebih dahulu.


"Tentu saja Heru, sampai bertemu nanti malam di rumah...maaf sekarang aku sedang buru-buru, ada jadwal operasi..."


"Ya Pa..."


Heru sangat lega setelah berhasil membuat janji dengan Papa. Sekarang Heru tinggal menyiapkan mental untuk berbicara nanti malam.


Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Setelah selesai makan malam bersama di meja makan, Dokter Hendra langsung menuju ruang kerjanya dan memberi isyarat pada Heru untuk mengikutinya.


"Jadi apa yang ingin kamu sampaikan Heru? katakan saja, tidak usah sungkan..."


Heru menarik nafas dalam-dalam, sebelum mulai berbicara.


"Papa, aku sudah memikirkannya baik-baik, dan aku sudah meminta langsung pada Alina, dan Alina pun sudah memberiku jawaban. Papa kami memutuskan untuk melanjutkan pernikahan ini. Aku akan menikahi Alina baik secara negara maupun secara agama dan menjadikan Alina istriku yang sesungguhnya, aku sangat berharap Ayah berkenan merestui kami berdua...."


Dokter Hendra sempat terkejut sesaat, tapi kemudian Dokter Hendra sangat terharu atas keberanian dan ketulusan Heru kepada putrinya.


"Nak Heru, aku sudah mengenalmu sejak lama dan tidak sedikitpun kuragukan lagi kebaikan akhlak dan budimu. Terimakasih sudah mencintai Alina dan Ghazi dengan begitu tulus. Kamu tahu Alina memiliki kekurangan, Alina bukan lagi gadis yang suci, aku harap kamu bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri Alina dan membimbingnya ke arah yang lebih baik. Sebagai seorang ayah, aku hanya bisa mendukung apapun yang sudah menjadi keputusan kalian, putra putriku tercinta. Aku merestui kalian, menikahlah dan jagalah putri dan cucuku dengan sebaik-baiknya..."


Setelah memgucapkan itu, Dokter Hendra memeluk Heru dengan perasaan haru.

__ADS_1


"Terimakasih...terimakasih Pa...aku akan menjaga kepercayaanmu dan berusaha membahagiakan Alina dan Ghazi semampuku..."


__ADS_2