Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 57


__ADS_3

"Ada apa denganmu Mas?",


Tanya Alina di dalam hatinya. Tapi Alina tidak punya keberanian untuk membangunkan Heru yang terlihat nyenyak dalam tidurnya.


Alina akhirnya memilih untuk menyiapkan segala keperluan anak dan suaminya sambil menunggu Heru bangun.


Namun begitu bangun, Heru hanya melewatinya tanpa bicara satu patah katapun.


Dan hal itu membuat hati Alina semakin kalut. Berkali-kali, setiap ada kesempatan, Alina membuka mulutnya, bersiap untuk menanyakan, kemanakah sebenarnya suaminya pergi sebenarnya. Tapi nyalinya mendadak ciut saat berhadapan dengan raut dingin Heru, yang baru kali ini dilihatnya dan terlihat begitu menakutkan.


Akhirnya Alina memilih menyibukkan diri menyiapkan sarapan dan menyuapi anak-anaknya. Tak lupa Alina juga menyajikan secangkir teh hangat dan mengambilkan nasi beserta lauk pauknya ke piring Heru. Dengan begitu, Alina berharap hati suaminya bisa sedikit luluh. Namun apapun usaha yang dilakukan Alina, nampaknya tidak berpengaruh pada raut wajah suaminya yang tetap dingin dan datar.


Akhirnya Alina memilih untuk mengesampingkan rasa penasarannya dan kembali fokus pada keluarga juga bersiap untuk pergi bekerja.


Alina nampak bingung untuk mengambil sikap. Hari ini jadwalnya dengan Heru hampir sama. Tapi raut dingin Heru membuatnya segan.


"Kita berangkat bersama kan?", Ucapan Heru dengan nada datar yang terdengar asing membuyarkan Alina dari lamunan.


"Ya Mas, aku sudah selesai kok...",jawab Alina dengan kikuk.

__ADS_1


Alina bergegas mengambil tas kerjanya. Lalu keduanya berpamitan pada anak-anak. Tanpa ada perjanjian, keduanya kompak tersenyum manis saat bersalaman dan melambaikan tangan pada dua buah hatinya. Insting alami orang tua untuk melindungi buah hatinya, termasuk dari pertikaian dan perang dingin yang tengah terjadi diantara mereka sendiri.


Namun begitu masuk ke dalam mobil, suasana tegang itu lembali dirasakan Alina. Heru langsung melajukan mobilnya dengan pandangan lurus ke depan, seolah Alina yang tengah duduk disampingnya tak kasat mata.


Alina yang merasa lelah akhirnya memilih melemparkan pandanganya ke luar jendela. Sesekali Alina mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil menutup mata.


Beberapa waktu mobil terus melaju dan hanya hening yang menemani perjalanan itu. Tidak seperti biasa dimana obrolan hangat selalu tercipta, bahkan mereka kerap memanfaatkan momen berdua itu untuk saling memberi perhatian kecil dan menciptakan romantisme.


"Alina.."


Tiba-tiba Heru memanggil nama istrinya. Membuat Alina reflek menoleh dan mendapati Heru tengah menyetir dengan pandangan menerawang.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?"


Alina tersentak mendengar pertanyaan suaminya. Meskipun sedang marah, ternyata Heru masih memperhatikan dan sangat memahaminya. Heru pastilah menyadari tingkahnya yang sedari tadi ingin bicara sesuatu, tapi selalu diurungkannya.


"Ya Mas, aku memang dari tadi ingin bicara padamu, namun melihatmu yang sepertinya masih marah, aku jadi tak berani....", ucap Alina, menjelaskan dengan jujur.


"Katakan saja, jangan ragu-ragu..."

__ADS_1


Heru bicara karena tidak sabar dengan penjelasan istrinya.


"Aku ingin bertanya, sebenarnya kemana Mas pergi semalaman?", akhirnya Alina tanpa ragu menanyakan hal yang sejak semalam membuatnya khawatir dan penasaran.


Mendengar pertanyaan Alina, membuat Heru kecewa dan kesal. Sebab bukanlah pertanyaan konyol seperti itu yang ingin di dengar dari istrinya, melainkan sebuah pengakuan.


"Alina, sampai kapan kamu akan terus menggapku bodoh dan terus membohongiku!"


Heru berteriak dengan nada tinggi saat mobil mereka tengah berhenti di lampu merah.


Alina merasa sangat terkejut sekaligus takut dengan perangai suaminya.


"Apa maksudmu Mas?"


Namun Alina benar-benar tidak mengerti, apa maksud perkataan suaminya yang terkesan menuduh dan memojokkannya.


Astaghfirullahaladzim....


Berulang kali Alina mengucap istighfar sambil berusaha menyabarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2