Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 16


__ADS_3

Heru masuk ke dalam kamarnya dan segera mandi untuk membersihkan diri. Apa yang terjadi seharian ini sungguh menguras energi dan emosinya.


Selesai mandi, Heru memilih langsung merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran king size yang ada di kamarnya. Hidupnya kini seolah sempurna. Satu persatu impiannya telah menjadi kenyataan. Siapa menyangka bahwa bocah yatim piatu yang dulu sebatang kara sekarang telah menjadi seorang dokter dan hidup di tengah-tengah keluarga Dokter Hendra yang terhormat? Tapi entah mengapa Heru tetap merasa hidupnya hampa dan kesepian? Seolah semua yang dimilikinya saat ini tak lebih dari fatamorgana. Harga dirinya telah tergadai. Hanya karena sebuah hutang budi yang sampai kapanpun takkan pernah sanggup dibayarkannya. Tapi semua ikhlas dilakukannya, demi sang pujaan hati, satu-satunya wanita yang dia cintai dalam hidupnya.


Flashback.

__ADS_1


Sejak kecil Heru hidup dan tumbuh di lingkungan panti asuhan. Dirinya tidak tahu siapa orang tua dan keluarganya. Hingga Heru meyakini bahwa dirinya benar-benar sebatang kara. Yang Heru tahu keluarganya hanyalah ibu-ibu pengasuh di panti dan saudaranya adalah teman-temannya senasib sepenanggungan di panti itu. Sampai kemudian ada seorang wanita muda yang datang ke panti itu. Wanita muda itu memeluknya sambil menangis, meminta maaf dan berlutut di depan Heru. Wanita muda itu menyesal, terpaksa harus menitipkankan Heru di panti itu. Heru tidak mengerti akan perasaannya saat itu. Perasaan marah dan kecewa sungguh menguasai dirinya, hingga dia tak sudi menerima permintaan maaf wanita itu. Tanpa Heru tahu, bahwa itu adalah pertemuam pertama sekaligus terakhirnya dengan Wina, wanita muda yang tak lain adalah ibu kandungnya. Ibu yang langsung menitipkannya di panti asuhan, hanya selang beberapa jam setelah beliau melahirkannya.


Berselang sebulan setelah kunjungan itu, Bu Darmi, salah satu pengasuh di panti, mengajak heru pergi keluar dari lingkungan panti. Heru sangat senang pada mulanya, karena bagi anak-anak panti seusianya, pergi keluar dari lingkungan panti adalah sebuah kemewahan yang amat jarang mereka dapatkan. Tapi kesenangan itu hancur begitu Heru sampai dintempat tujuan. Sebuah tempat pemakaman umum di mana sebuah makam masih basah dan beberapa orang pelayat masih tersisa disana. Wina, Ibu kandung yang baru menemuinya sekali saja telah berpulang ke rahmatullah. Heru berdiri mematung di depan tanah makam yang masih basah itu. Berbagai perasaan bercampur di dadanya. Kebencian yang selama ini dipupuk kepada Ibu dan Ayah yang telah meninggalkannya mendadak sirna berganti dengan rasa kehilangan dan kesedihan yang tak mampu dia ungkapkan dengan kata-kata. Memiliki Ibu adalah impiannya, tapi kini semua sudah hancur tak bersisa.


Heru pulang ke panti dalam keadaan murung. Saat itu, Bu Darmi akhirnya menceritakan pada Heru tentang asal usulnya yang sebenarnya. Ibunya yang bernama Wina tinggal sebatang kara di perantauan. Wina hamil dan lelaki yang menghamili menolak untuk bertanggung jawab. Wina akhirnya memilih menitipkan Heru di panti asuhan karena dirinya sendiri sedang sakit keras. Wina bekerja di sebuah pabrik, tapi kemudian berhenti karena sakitnya.

__ADS_1


Begitu banyak pertanyaan mengambang di benak Heru yang saat itu baru berusia tujuh tahun. Mengapa dirinya harus ada di dunia kalau hanya ditinggalkan? Apakah Ibunya tidak menginginkannya atau karena keadaan Ibunya harus menitipkannya di panti? Kenapa Ibunya tidak menjenguknya atau jika memang Ibu sakit kenapa tidak membiarkan dirinya menjenguknya selama ini? Kemana ayahnya pergi dan apakah ayahnya lelaki br*ngsek yang hanya mempermainkan ibunya. Heru hidup dengan banyak pertanyaan yang tak pernah dia temukan jawabannya. Hingga kemudian perlahan-lahan Heru belajar menerima takdirnya. Di panti itu, bermacam-macam kisah hidup menyedihkan berkumpul dari anak-anak yang terbuang dan ditinggalkan. Heru tidak berhak untuk merasa paling sedih sebab teman-temannya pun sama bahkan banyak yang lebih menyedihkan. Mereka hidup bersama, saling menguatkan, dan rasa senasib sepenanggungan membuat hubungan diantara anak-anak pandi dekat selayaknya saudara. Di panti itu, mereka cepat tumbuh dewasa lebih daripada umurnya sebab kepahitan hidup sudah menjadi garis takdir yang tak bisa dipungkiri. Di panti itu, mereka belajar untuk bahagia dari hal-hal sederhana, mensyukuri rezeki dan tetap bermain, belajar dan tertawa dalam segala keterbatasan selayaknya anak-anak pada umumnya.


Dalam segala keterbatasan itu, ternyata Heru tumbuh menjadi anak yang cerdas. Kecerdasan Heru bahkan melebihi anak-anak lain yang seusianya dengannya. Kecerdasan Heru yang menonjol akhirnya.menarik perhatian Dokter Hendra, salah satu donatur tetap di panti asuhan mutiara hati sekaligus pemilik rumah sakit karya medika. Dulu karya medika belumlah sebesar dan secanggih sekarang. Tapi tetap saja Dokter Hendra sudah di kenal sebagai seorang Dokter yang kaya raya sekaligus dermawan.


Dokter Hendr lantas meminta Heru untuk menjadi anak asuhnya. Melihat potensi besar yang dimiliki Heru, membuat Dokter Hendra berambisi untuk mengembangkan kepintaran dan bakat yang Heru miliki. Dokter Hendra pun akhirnya membiayai pendidikan Heru di sebuah sekolah swasta mahal, berbeda dengan anak-anak panti yang lain. Berbagai macam lea dan khursus pun harus.diikuti Heru sesuai dengan keinginanan Dokter Hendra. Hendra tentu merasa sangat senang dengan semua fasilitas dan akses yang di dapatkan. Dia tahu benar bahwa tidak mudaj bagi seorang anak yang tinggal di panti untuk mendapatkan semua fasilitas nomor satu. Karena itu Heru bertekad untuk memanfaatkan fasilitas itu dengan sebaik-baiknya agar kelak dirinya bisa jadi orang sukses dan mengubah nasibnya.

__ADS_1


Tanpa Heru sadari, bahwa segela kebaikan dan keistimewaan yang diterimanya akan berubah menjadi hutang budi yang akan ditanggungnya seumur hidup.


Tidak hanya sampai disitu, posisi sebagai anak asuh dengan segala keistimewaannya ternyata juga membawa Heru bergaul lebih dekat dengan keluarga kecil Dokter Hendra. Pembawaan Heru yang ramah dan mudah bergaul membuatnya mudah diterima. Sesekali Dokter Heru dan Istri suka mengajak Heru bermalam di rumah mereka. Bahkan pada acara-acara penting keluarga Heru selalu diajak untuk bergabung bersama. Seperti pada acara ulang tahun setiap anggota keluarga, acara ulang tahun perkawinan, sampai saat liburan bersama atau sekedar makan malam keluarga. Dokter Heru dan istri tidak pernah membedakan perlakuannya pada Heru dan pada dua anak mereka yang lain, Alshad dan Alina. Dan kedua anak Dokter Hendra dan istri pun selalu diajarkan untuk rendah hati sehingga mereka bisa dengan tangan terbuka menerima kehadiran Heru selayaknya saudara. Dari sanalah semuanya bermula. Dimana Heru bisa dekat dengan Alshad selayaknya sahabat dan diam-diam menaruh hati pada Alina.


__ADS_2