Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 20


__ADS_3

"Tolong...tolong..."


Bu Hendra sangat terkejut melihat Alina tiba-tiba jatuh terkulai saat sedang duduk menonton televisi bersamanya. Padahal belum lama tadi Alina terlihat ceria, bercerita tentang bagaimana keseruannya bermain di pantai bersama Heru. Dan hal itu membuat Bu Hendra langsung berteriak dengan paniknya.


Dari kamarnya, Heru yang semula ingin beristirahat setelah lelah seharian pergi bersama Alina, terkejut mendengar teriakan Ibu mertuanya.


Heru pun segera keluar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa Bu?"


"Ini nak Heru Alina tiba-tiba saja pingsan, tolong Alina..."


"Baik Bu, kita baringkan dulu Alina..."


Heru lalu mengangkat tubuh Alina ke sofa yang berukuran lebih besar dan mengangkat sedikit kaki Alina agar aliran darahnya lebih lancar.


Kebetulan sekali, sore itu semua orang sedang berada di rumah. Dan tidak berselang lama Dokter Hendra dan Alshad juga keluar karena mendengar keributan yang dibuat Bu Hendra.


"Apa apa ini?", tanya Dokter Hendra pada istrinya.


"Ini Pa...Alina tiba-tiba saja pingsan...padahal tadi sedang nonton tv aja sama Mama...", jelas Bu Hendra pada suaminya.


"Alina bukannya habis pergi sama Heru, dari mana saja tadi kalian pergi?"


Dokter Hendra balik bertanya pada Heru.


"Kami tadi pergi ke pantai Pa...", jawab Heru dengan jujur.


"Kalian pergi ke pantai dan baru pulang sore-sore begini? Kamu seharusnya kan tahu Alina sedang hamil dan tidak boleh kelelahan?"


"Maaf Pa..."


"Sudah...sudah Pa, jangan menyalahkan Heru. Alina tadi baik-baik saja kok, bahkan Alina kelihatan senang habis jalan-jalan terus cerita macam-macam sama Mama, cuma nggak tahu kenapa tiba-tiba bisa pingsan..."


Bu Hendra membela Heru di depan suaminya.


"Iya Pa, sudah...yang penting sekarang kita urus Alina, apa nggak sebaiknya kita bawa Alina ke rumah sakit?"


"Ya, ayo kita bawa Alina ke rumah sakit. Kehamilan Alina juga harus diperiksa."


Alshad akhirnya memutuskan untuk menelpon ambulance.


Sambil menunggu ambulance datang, Bu Hendra berinisiatif menyiapkan pakaian dan barang-barang pribadi Alina. Siapa tahu nanti Alina harus menginap di rumah sakit.

__ADS_1


Heru memilih tetap berada di samping Alina untuk menjaganya sambil berusaha membuatnya tersadar. Selang beberapa saat Alina mukai menggerakkan tangannya dan membuka matanya. Begitu matanya terbuka, Alina langsung melihat Heru ada disisinya.


"Mas Heru?"


"Alina, kamu sudah sadar? Apa yang kamu rasakan?"


Alina hanya menggeleng lemah.


"Tunggu sebentar..."


Heru berniat mengambilkan air minum untuk Alina, tapi tiba-tiba Alina memegang tangannya.


"Jangan pergi Mas Heru, kepalaku pusing...", Heru pun urung untuk pergi dan memutuskan untuk memanggil Alshad.


"Alshad, Alina sudah sadar..tolong ambilkan air minum..."


Alshad pun menurut dan mengambilkan air minum untuk Alina.


Papa dan Mama langsung menghampiri begitu tahu Alina sudah sadar.


"Bagaimana Alina? Apa yang kamu rasakan?"


"Hanya pusing sedikit Pa..."


Alina pun meminum air putih yang disodorkan Alshad.


"Mau kemana Pa, aku sudah tidak apa-apa kok, hanya pusing sedikit..."


"Alina, kita harus segera memeriksakan kondisi kehamilanmu, kamu pingsan tiba-tiba dan itu cukup berbahaya..."


Alina pun tidak bisa menolak kehendak keluarganya.


Alina masuk ke dalam ambukance dengan ditemani Papa dan Mama.


Sedangkan Heru dan Alshad menyusul dengan menggunakan mobil pribadi.


"Sebenarnya tadi kalian kemana aja sih?"


Tanya Alshad saat mereka sedang dalam perjalanan.


"Gue ajak Alina ke pantai tadi, dia kelihatan seneng banget, jadi gue biarin aja dia maen sepuasnya, gua nggak tahu bakalan jadi begini..."


Jawab Heru dengan jujur.

__ADS_1


"Its ok bro, thanks udah buat Alina lebih ceria sejak kehadiran lo disini. Belum tentu juga Alina pingsan karena habis jalan...semoga aja Alina baik-baik aja..."


Sebenarnya Alshad curiga ada hal lain yang membuat Alina jadi seperti ini. Tapi Alshad ragu untuk menceritakannya pada Heru.


Alina sudah sampai di rumah sakit dan langsung mendapatkan penanganan di IGD. Mama menceritakan kronologi bagaimana Alina pingsan pada dokter yang berjaga. Kebetulan Dokter Erika masih berada di rumah sakit. Dokter Elsa yang berjaga memutuskan untuk memanggil Dokter Erika yang lebih tahu tentang riwayat kehamilan Alina.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, Dokter Erika menyarankan agar Alina di rawat dirumah sakit.


"Tekanan darah Nyonya Alina cukup tinggi, ada kemungkinan Nyonya Alina mengalami preeklamsia, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan sebaiknya Nonya Alina mendapatkan perawatan intensif untuk memantau tekanan darahnya...."


"Baik Dok, lakukan apapun yang terbaik untuk Alina..."


Akhirnya Alina dirawat di rumah sakit.


Setelah memastikan kondisi Alina cukup stabil, Dokter Hendra dan Alshad berpamitan karena masih ada agenda lain yang harus dikerjakan.


Sedangkan Bu Hendra harus pulang ke rumah untuk mengambil pakaian dan barang-barang pribadinya untuk persiapan menunggui Alina.


"Nak Heru, tolong titip jaga Alina sebentar ya, saya harus pulang mengambil barang-barang dulu...", Bu Hendra bicara pada Heru yang sedang duduk di ruang tunggu


"Baik Ma..."


Bu Hendra oun segera pergi setelah Heru menyanggupi untuk menjaga Alina.


Sementara itu di dalam ruang perawatan, Alina yang merasa bosan selepas ditinggal Mamanya memilih untuk mengambil remote dan menyalakan televisi yang ada di ruang rawatnya.


Begitu televisi menyala, layar langsung menampilkan siaran infotainment yang sedang menyorot sebuah wajah yang amat dikenalnya. Ingatan Alina kembali pada saat dirinya duduk menonton televisi di sofa bersama Mamanya, dengan siaran yang hampir sama. Berita itu adalah tentang rencana pernikahan seorang artis cantik yang sedang viral dengan seorang anak pengacara kondang bernama Dirga.


Hati Alina terasa sakit. Seolah luka yang dia rawat dengan susah payah kembali menganga. Dirga, ayah dari bayi yang di kandungnya, tengah bersenang-senang di atas deritanya. Disaat dirinya tengah berjuang untuk menjaga bayi dalam kandungannya, Dirga yang pengecut justru lari tanggung jawab. Dan entah sejak kapan Dirga menjalin hubungan dengan artis cantik itu


Dirga menolak untuk menikahinya yang tengah mengandung calon buah hati mereka, dan sekarang Dirga justru memilih menikahi wanita lain.


Tanpa terasa air mata Alina telah jatuh. Alina tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Dikhianati, diabaikan dan disia-siakan. Seolah dirinya benar-benar tidak berharga.


Saat sedang terisak, tiba-tiba pintu ruang perawatan Alina di ketuk dari luar. Tanpa menunggu jawaban pintu di buka dan seorang pria masuk menghampiri Alina.


Heru terkejut melihat Alina tengah menangis, lalu Heru mengarahkan pandangannya ke televisi yang sedang menyala, menampilkan sebuah berita tentang rencana pernikahan mewah yang bahagia.


"Jadi ini yang membuatmu bersedih sampai seperti ini?"


Alina hanya diam.


Heru mengusap air mata Alina yang mengalir di pipinya.

__ADS_1


"Menangislah sepuasmu, lalu berhentilah..."


"Sudah cukup kamu terluka dan menangis. Setelah ini lepaskan dan relakan apa yang menyakitimu, dia tidak pantas untuk itu. Lihat aku sebentar saja, Alina, aku berjanji akan ada disampingmu, menemanimu melewati semua ini..."


__ADS_2