Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 40


__ADS_3

Heru akhirnya benar-benar berangkat bertugas. Dan Alina melepaskan suaminya dengan perasaan campur aduk. Ada perasaan bangga di hatinya, sebab suaminya akan mengabdi, memberi manfaat dan membantu masyarakat di wilayah terpencil yang masih minim dengan fasilitas kesehatan. Namun disisi lain Alina juga merasa sedih, harus berpisah dengan suami dalam waktu yang cukup lama, apa lagi jika mengingat dirinya akan menjalani kehamilan tanpa kehadiran suami disisi. Alina berusaha untuk kuat dan tersenyum melepas suaminya. Alina tidak ingin Heru menjadi bimbang dan mengkhawatirkan dirinya. Alina hanya terus berdoa dalam hati, semoga Tuhan senantiasa menjaga keluarga kecilnya dimanapun berada, meski untuk sementara waktu mereka harus rela tinggal terpisah.


Selepas kepergian Heru, Alina masih tetap bekerja dirumah sakit seperti biasa. Sedang Ghazi dirumah di jaga Mbak Sitha dan Mama. Alina merasa bersyukur atas segala kemudahan yang di dapatnya. Dan untunglah kehamilannya kali ini tidak begitu merepotkan. Alina bisa makan apa saja tanpa merasa mual. Alina juga masih sanggup beraktifitas seperti biasa dan jika merasa lelah, Alina langsung beristirahat sejenak demi menjaga kandungannya.


Semua berjalan dengan baik dan lancar. Alina pun tidak menyangka bahwa dirinya sanggup melewati hari-harinya tanpa kehadiran Heru di sisi. Hanya saja, jika malam tiba, Alina kerap merasa kesepian. Sebab biasanya ada Heru disisinya, memeluknya sambil berbagi cerita. Menumpahkan segala penat yang di rasa setelah seharian beraktifitas. Meski sesekali mereka masih berhubungan melalui video call, tapi rasanya hal itu tidaklah cukup. Betapa, Alina merindukan kehadiran suaminya. Dan diam-diam, Alina menangis sendirian di dalam kamar menjelang tidurnya. Perasaannya menjadi begitu sensitif dan rasa rindu itu benar-benar membuatnya lemah. Alina baru menyadari, bahwa kehadiran Heru begitu besar artinya bagi dirinya. Alina hanya bisa berdoa dan terus berdoa, agar dikuatkan hatinya dan segera waktu cepat berlalu hingga mereka bisa bertemu dan bersama lagi.


Mama yang sesekali tidur di paviliun Alina saat Dokter Hendra dinas keluar pun pernah memergoki Alina di malam hari.


"Bersabarlah Alina, perpisahan kalian hanya sementara. Demi tugas dan masa depan yang lebih baik untuk keluarga kecil kalian. Kalau kamu rindu, banyak-banyaklah berdoa. Itu akan menguatkanmu dan percayalah semua akan baik-baik saja..."


Alina langsung bersimpuh di pelukan Mama. Betapa Alina merasa tenang di sana. Mamanya yang selalu ada untuk dirinya bahkan ketika dirinya sudah besar dan memiliki seorang putra.


"Terimakasih Ma, terimakasih banyak atas bantuan Mama selama ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa bertahan tanpa bantuan Mama..."

__ADS_1


"Kamu bicara apa sih, mama senang melakukannya, bisa selalu dekat dengan cucu kesayangan Mama. Jangan merasa sungkan..."


Mama memeluk Alina untuk memberi kekuatan pada putri kesayangannya itu.


"Alina kamu tahu tidak, dulu rumah sakit karya medika tidak sebesar sekarang. Rumah sakit itu adalah peninggalan kakekmu dan Papa mulah yang mendapat kepercayaan untuk mengelolanya. Pada mulanya tidak ada yang percaya bahwa Papamu mampu, banyak yang meremehkan dan mencibir saat Papamu sedang berjuang. Papamu sampai harus pergi ke sana kemari mencari investor dan belajar tentang bagaimana management rumah sakit yang maju di negara tetangga. Kuncinya adalah pelayanan yang membuat pasien merasa nyaman dan untuk itu dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Seperti kamu sekarang ini, dulu Mama sering ditinggal-tinggal. Bahkan saat mengandung Alshad dan kamu pun Mama sendirian. Tapi itulah kodrat perempuan. Terasa berat memang ketika itu, hidup dalam kondisi terbatas tanpa dukungan suami, tapi alhamdulillah setelah itu kehidupan kita semakin membaik dan Mama ikut menikmati hasilnya. Ikut bangga saat Papamu berhasil dan lebih bangga lagi saat tahu Papamu adalah sosok yang dermawan dan suka menolong..."


Mama bercerita dengan pandangan menerawang, mengenang kembali perjalanan hidupnya. Alina pun bisa membayangkan bagaimana keadaan kekuarganya ketika itu. Yang pasti tidak semudah dan sekaya saat ini.


"Ya Ma, Mama adalah perempuan yang hebat karena sudah menemani Papa berjuang sampai sekarang..."


"Ya Ma, aku mengerti, terimakasih banyak Ma..."


Akhirnya setelah mendengarkan cerita dan nasehat dari Mama, Alina merasa jauh lebih tenang. Malam itu akhirnya Alina tertidur pulas bersama Mama.

__ADS_1


Hari-hari di jalani Alina dengan penuh perjuangan. Ada rasa lelah, ada rasa bosan, ada rasa rindu dan kesepian, namun selalu ada kebahagian kecil yang membuatnya selalu bersyukur.


Terutama saat Alina melihat Ghazi tumbuh dengan begitu baik. Bulan depan Ghazi sudah berumur dua tahun. Ghazi tumbuh menjadi anak yang ceria, aktif, dan sangat penyayang.


Meski sesekali Ghazi menanyakan keberadaan ayahnya, tapi Ghazi tidak pernah rewel. Bahkan jika saat video call Ghazi suka sekali mengobrol dengan ayahnya. Heru selalu berpesan agar Ghazi tidak nakal dan harus sayang pada Ibu dan calon adiknya. Dan entah bagaimana nasehat dari Heru di ujung telepon sana selalu berhasil membuat Ghazi jadi anak yang luar biasa manis.


Setelah sambungan telopon terputus Ghazi akan selalu memeluk Alina, lalu mencium perut buncit Ibunya itu dengan gemas. Ghazi juga selalu membagi makanan favoritnya pada Ibunya.


"Ini buat adik di pelut Ibu..."


Dan Alina pun langsung memeluk putra kesayangannya itu dengan gemas.


Namun di lain waktu, Ghazi bisa berubah menjadi anak yang sangat manja. Kemanapun Alina pergi selalu dia ikuti. Bahkan sampai ke dapur dan ke kamar mandi ingin selalu ikut. Ghazi sama sekali tidak mau lepas dari Ibunya. Hanya mau mandi sama Ibu, makan disuapi Ibu, tidur pun maunya sambil dipeluk Ibu. Tentu hal itu membuat Alina kewalahan karena perutnya semakin besar dan Alina jadi mudah kelelahan. Tapi Alina tetap sabar meladeni keinginan Ghazi. Keinginan yang sangat wajar untuk anak seusia Ghazi yang ingin bermanja dan selalu dekat dengan Ibunya.

__ADS_1


Hingga akhirnya tibalah hari yang dinanti-nantikan, sekaligus sangat ditakutkan oleh Alina.


Alina merasakan kontraksi hebat di malam hari saat seluruh penghuni rumah tengah tertidur pulas. Apakah sudah saatnya dirinya melahirkan? Tiba-tiba Alina merasa takut. Seandainya Heru ada disini mungkin dirinya tidak akan merasa setakut ini.


__ADS_2