
Malam itu Alina kembali merasa gelisah dan tak kunjung bisa memejamkan mata. Berkali-kali Alina berbalik dan mengganti posisi tidurnya, hingga Heru yang sudah hampir tidur pun merasa terganggu.
"Ada apa Alina? Apakah ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?"
"Mas, bolehkah aku tidur bersama anak-anak?"
Alina memberanikan diri bertanya. Entah mengapa malam ini Alina ingin sekali tidur sambil memeluk Ghazi. Heru sebenarnya agak heran dengan permintaan Alina yang tiba-tiba, tapi Heru juga tak punya alasan untuk melarangnya.
"Tentu saja, pergilah temani anak-anak kalau itu bisa membuatmu lebih tenang..."
Alina lalu beranjak ke kamar anak-anak. Di sana, Alina tidur di ranjang Ghazi dan memeluknya dari belakang. Ghazi sedikit menggeliat, namun tetap tidur dengan pulas. Perasaan Alina sudah lebih baik dan kegelisahannya jauh berkurang. Setelah beberapa saat Alina pun jatuh tertidur sambil memeluk Ghazi.
Pagi harinya Alina terbangun dalam keadaan yang lebih segar. Semalam tidurnya cukup pulas dan itu cukup untuk mengisi energinya untuk memulai aktivitasnya di pagi hari.
Pagi yang sibuk seperti biasa. Alina memandikan Ghazi dan fatih bersamaan. Setelah semua rapi mereka siap untuk sarapan bersama di meja makan. Anak-anak terlihat makan dengan lahab dan hal itu membuat separuh beban Alina terangkat. Sebenarnya Alina mulai berfikir untuk menceritakan masalahnya pada Heru. Tapi tentu tidak di depan anak-anak. Mungkin nanti, di mobil saat mereka berangkat ke rumah sakit bersama. Begitu pikir Alina.
Selesai sarapan mereka segera berangkat ke rumah sakit bersama.
Heru tahu ada masalah yang mungkin dipendam Alina. Bahkan sampai Alina selalu terlihat gelisah. Tapi Heru juga tak ingin memaksakan diri sebab istrinya itu seolah menghindar jika ditanya. Heru memilih menunggu sampai nanti Alina siap untuk bercerita padanya.
Dan pagi itu di dalam mobil, Alina akhirnya mulai mau terbuka.
__ADS_1
"Mas, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan..."
"Ya Alina, katakan saja..."
Namun kemudian Alina justru membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
Ayo kita bertemu di restoran hotel xx besok, dan ingat jangan sekali-kali berfikir untuk bercerita pada suamimu atau akan berakibat fatal.
Ancaman itu membuat Alina berfikir ulang.
Sejenak Alina terdiam dengan pandangan menerawang.
"Ada masalah apa Alina, katakan saja.."
Alina akhirnya memilih mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
"Ya tentu saja, ayo kita kesana besok minggu..."
Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sakit tanpa saling bicara lagi.
Alina sibuk dengan pikirannya sendiri, dan Heru pun hanya fokus untuk menyetir.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung berpisah, masuk ke dalam ruangan masing-masing.
Alina lalu kembali membuka ponselnya dan membaca ulang pesan yang dikirimkan Dirga.
Haruskah dirinya takut pada ancaman itu?
Lalu apa yang harus dilakukannya?
Alina dilanda bimbang. Jelas dirinya saat ini tak ingin lagi berususan dengan lelaki brengs*k itu. Tapi ancaman demi ancaman yang di layangkan Dirga tak ayal membuatnya takut.
Alina lalu memutuskan untuk membalas pesan Dirga.
Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Tolong katakan dengan jelas!
Tidak berselang lama Alina langsung mendapat pesannya.
Aku akan mengatakannya saat kita bertemu nanti, yang jelas aku sama sekali tidak berniat buruk...
Alina mendengus kesal. Sejak dulu Dirga memang selalu menyebalkan dan tak pernah mau mengalah.
Baiklah kalau begitu, aku akan menemuimu, tapi ingat jangan berani macam-macam padaku
__ADS_1
Alina akhirnya mengambil keputusan. Dalam hati Alina berjanji itu akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Dirga.