Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 68


__ADS_3

Begitu kembali ke kamarnya, Alina terkejut, sebab suaminya ternyata tidak ada di kamar mereka. Alina mulai curiga, tapi di tepisnya segala pikiran buruk yang berkelebat. Dengan langkah tenang Alina mencoba mengecek ke kamar mandi, tapi Heru pun tidak ada disana. Alina kemudian melangkah keluar kamar, menelusuri setiap sudut rumah juga bertanya pada Bi Siti yang tengah berada di dapur. Bi Siti bilang tadi Heru memang keluar dari rumah, dan saat di tanya Heru hanya menjawab ada urusan sebentar.


Alina kemudian memilih kembali ke dalam kamar. Beberapa kali Alina mencoba menelpon suaminya dan mengirimkan pesan, tapi tak ada balasan apapun. Alina merasa khawatir, tapi rasa lelah nampaknya lebih mendominasi hingga Alina jatuh tertidur dalam posisi duduk sambil memegangi ponselnya.


Entah sudah berapa lama Alina ketiduran, Alina tersadar saar mendengar suara engsel pintu di buka. Alina membuka matanya perlahan dan melihat suaminya berjalan masuk ke kamar dengan cara mengendap-endap.


"Dari mana kamu Mas?", Alina bertanya setelah matanya sempurna terbuka dan yakin bahwa itu adalah suaminya.


"Ka..kamu belum tidur?", Heru nampak terkejut.


Namun beberapa saat Heru berhasil menguasai diri.


"Ada panggilan mendadak dari rumah sakit...", Jawab Heru singkat.


Alina tidak yakin dan ingin bertanya lebih lanjut, tapi Heru sudah menghilang ke kamar mandi.


Alina memilih untuk menunggu sambil bermain ponsel.

__ADS_1


Setelah keluar dari kamar mandi, Heru langsung berbaring di samping Alina dan memejamkan mata. Tapi Alina tahu suaminya itu belum tidur.


"Dari mana saja kamu Mas? Kenapa baru pulang?", Alina kembali bertanya.


"Bukankah aku tadi sudah menjawabnya, apa kamu tidak dengar?", Heru bicara dengan nada tinggi. Dan hal itu membuat Alina merasa takut sebab jarang sekali Heru membentaknya begini.


Melihat Alina dengan raut ketakutan membuat Heru merasa bersalah.


"Sudahlah, ini sudah dini hari, ayo kita tidur..."


Heru melingkarkan tangannya memeluk Alina lalu memejamkan matanya. Meski tak sepenuhnya percaya, tapi Alina tak punya pilihan lain selain menyusul suaminya memejamkan mata.


"Mas, bangun Mas...ini sudah siang..."


Heru membuka matanya dengan malas dan sekilas melihat Alina yang sudah berdandan rapi.


"Ya...ya..berangkatlah dulu, aku masih ingin tidur lagi..."

__ADS_1


"Baiklah Mas..."


Alina tak berani memaksa. Alina mencium tangan suaminya dan segera berangkat ke rumah sakit.


Di rumah sakit, Alina segera melupakan segala permasalahan yang masih mengganjal. Biar bagaimanapun juga dirinya harus bersikap profesional dam bekerja sepenuh hati.


Namun konsentrasinya terganggu saat Alina membuka pesan dari Dirga. Awalnya Alina tak perduli dan berniat mengabaikan pesan itu, namun tanpa sengaja jarinya membuka pesan itu hingga terpampanglah sebuah foto yang membuat hatinya teriris.


Tidak, tidak mungkin...


Alina berkata dalam hati, berusaha menyangkal apa yang baru saja dilihatnya.


Alina berusaha berfikir positif, bahwa Dirga sedang berusaha memprovokasi dan memgadu domba antara dirinya dan Heru.


Namun hanya berselang beberapa saat, Dirga kembali mengirim pesan.


Aku tunggu sepulang kau bekerja, akan kutunjukkan bukti-bukti lainnya...

__ADS_1


Di tempat lain, Dirga menyeringai dengan liciknya.


Lihat, sebentar lagi kau dan Ghazi akan kembali ke pelukanku..


__ADS_2