
Alina memanfaatkan masa cutinya selama tiga bulan untuk mengasuh anak-anaknya secara langsung. Alina memilih tidak mengambil cuti selama hamil, sebab kehamilannya hingga akhir trimester baik-baik saja. Tidak ada keluhan yang nerarti hingga Alina tetap beraktivitas seperti bisa hingga hari kelahiran putranya.
Berselang dua hari setelah Fatih lahir, Heru menyempatkan diri pulang ke jakarta untuk bertemu Alina dan putranya. Tentu saja Alina snagat senang dengan kedatangan suaminya. Apalagi melihat sikap manis Heru yang terlihat amat senang sekaki bahwa dirinya dikaruniao keturunan.
"Sayang, maafkan aku yang tidak bisa menemanimu, dan trimakasih banyak sudah melahirkan putraku ke dunia..."
Heru memgucapkan itu dengam tulus sambil memeluk istrinya.
Selama berada dirumah Heru juga sangat memanjakan Alina. Heru akan dengan sukarela mengendong fatih sambil menemani Ghazi bermain. Heru pun selalu membelikan makanan kesukaan Alina, agar Alina merasa senang dan asinya semakin lancar.
Tapi sayangnya kebahagian itu hanya berlangsung sementara, sebab Heru harus kembali untuk bertugas.
"Maafkan aku Alina, lagi-lagi kita harus berpisah.."
Heru berpamitan dengan berat hati, lalu menciumi istri dan anaknya secara bergantian.
"Nggak papa Mas, kedatanganmu sudah cukup untuk.mengisi kembali energiku. Pergilah dan selesaikan masa tugasmu hingga tuntas semua tanggung jawab. Insyaallah disini aku akan menjaga Ghazi dan Fatih dengan baik..."
"Ya sayang, terimakasih atas pengertianmu..."
__ADS_1
Mereka berpelukan lama, sebelum kemudian Heru benar-benar berangkat.
Tuga bulan bukanlah waktu yang lama, tapi juga tidak bisa dikatakan sebentar. Apalagi bagi orang yang sedang menunggu seperti Alina.
Selama kepergian Heru, Alina memilih mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang positif. Alina berusaha untuk selalu mengurus fatih sendiri sebelum nanti dirinya kembali bekerja. Alina juga mulai mencari sekolah batita untuk Ghazi, agar putranya itu punya aktivitas yang menyenangkan dan bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya. Di sela-sela kesibukannya, Alina juga menyempatkan diri untuk me time. Sekedar keluar ke cafe atau melakukan perawatan agar pikirannya kembali fresh. Dan terlebih, agar saat Heru pulang nanti penampilannya sudah kembali segar.
Alina menikmati hari-harinya tanpa beban, hingga tiga bulan berlalu. Akhirnya tiba juga waktu pertemuan yang sangat dinantikannya. Meski itu artinya, sudah dekat pula waktunya Alina harus kembali bekerja
Heru pulang ke jakarta seminggu sebelum masa cutu Alina habis.
Kepulangan Heru di sambut dengan penuh suka cita oleh Alina dan keluarga. Bahkan Papa dan Mama mengadakan syukuran sederhana untuk menyambut kepulangan menantunya itu.
Setelah kepulangannya, Heru benar-benar memanfaatkan waktunya bersama keluarga. Menebus waktu yang berlalu tanpa kehadiran dirinya. Sehari-hari Heru senang sekali bercengkrama bersama buah hatinya, mendekatkan diri pada Ghazi yang mulai asing padanya. Juga kepada Fatih yang selama ini telah lahir dan tumbuh tanpa kehadirannya.
"Bagaimana kalau besok kita ajak anak-anak ke puncak? Sebelum kamu kembali masuk kerja"
Ajak Heru pada Alina.
"Ya Mas, terserah Mas saja..."
__ADS_1
"Tapi hanya kita berempat saja, tidak perlu ajak Mbak Sitha..."
"Begitu juga bagus, nanti biar aku siapkan barang-barang yang harus di bawa Mas..."
Akhirnya liburan dadakan itu terlaksana juga. Dengan sigap Alina mempersiapkan barang-barang keperluan Heru dan dua buah hatinya. Sementara Heru sibuk mengajak bermain dan menjaga kedua buah hatinya.
Dan merekapun berangkat dengan menggunakan mobil berempat saja. Perjalanan lancar tanpa hambatan sebab mereka pergi bukan di hari libur.
Heru memilih villa yang sama seperti dulu dirinya mengajak Alina berbulan madu.
"Dulu kita hanya berdua kesini, sekarang sudah berempat bersama Ghazi dan Fatih.
Di villa itu mereka benar-benar menikmati kebersamaan sebagai keluarga. Makan bersama di taman, memetik buah dan sayur, berenang, juga mencoba berbaga wahana outbond yang tersedia.
Fatih pun tidak terlalu rewel, bahkan sepertinya sangat nyaman dengan udara sejuk disana.
Alina juga tidak merasa kerepotan meski tanpa kehadiran Mbak Sitha. Heru benar-benar menjalankan peran yang baik sebagai ayah, siap sedia menjaga dua buah hatinya dan membantu Alina menyiapkan keperluan mereka. Bahkan Heru pula yang selalu memandikan anak-anak dan menyuapi Ghazi makan.
Alina sangat bersyukur dan merasa beruntung mendapatkan suami seperti Heru. Dalam hati Alina berdoa semoga kebahagian ini bertahan selamanya.
__ADS_1
Namun siapa yang menyangka, bahwa di waktu mendatang, bahtera rumah tangga mereka akan diguncang badai yang memporak porandakan segala?