Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 30


__ADS_3

Setelah mendengar keputusan Heru dan Alina, Dokter Hendra langsung memberi tahu istrinya. Dan Bu Hendra pun nampak senang dengan keputusan itu.


Pun ketika Alshad di beri tahu. Sebagai seorang Kakak, Alshad merasa sangat lega Alina akhirnya akan menikah dan mendapatkan seorang suami yang baik dan bisa dipercaya. Yaitu Heru, sahabatnya sendiri.


Semua sudah setuju, maka lebih cepat pernikahan dilaksanakan akan lebih baik.


Pernikahan ini adalah pernikahan ulang yang akan dilakukan secara agama saja, sebab secara hukum Alina dan Heru sudah resmi sebagai suami istri. Agar tidak memancing kecurigaan dan ujaran negatif dari khalayak, Dokter Hendra memutuskan untuk menggelar pernikahan ini secara diam-diam. Hanya keluarga terdekat saja yang akan di undang. Juga para pengasuh dan beberapa sahabat Heru di panti sebagai pengganti keluarga Heru.


Pernikahan ulang itu dilaksanakan di sebuah masjid yang indah, tapi bukan masjid di komplek rumah Dokter Hendra untuk menghindari gunjingan dari orang yang tidak berkepentingan. Acara di gelar pada hari minggu.


Sebelum bersiap Alina lebih dulu menyusui Ghazi dan memastikan semua kebutuhan Ghazi akan terpenuhi selama akad nikah berlangsung nanti. Alina kembali mengenakan kebaya putih yang sama dengan kebaya yang dikenakannya saat akad nikah dengan Heru yang terdahulu. Rambut Alina disanggul gaya modern dengan model sederhana dan make up natural dipilih Alina untul menyempurnakan penampilannya pagi itu. Alina memandang pantulan dirinya di cermin. Tubuhnya yang lebih gemuk di banding saat menikah dulu membuat kebayanya terlihat lebih ketat. Alina merasa kurang percaya diri. Tapi kemudian Mama datang menghampiri dan memeluknya.


"Kamu terlihat sangat cantik Alina..."


Bisik Mama di telinga putrinya. Dan pujian sederhana itu berhasil membuat Alina merasa jauh lebih baik.


"Tapi Ma, aku sekarang gendut ya?"


Kata Alina mengungkapkan kegundahannya pada sang Mama.


"Kamu memang lebih berisi dibandingkan dulu, tapi jangan khawatir kamu malah terlihat semakin seksi dan Heru pasti akan lebih menyukainya. Dulu kamu malah terlalu kurus dan terkesan ringkih..."


Mama mengedipkan mata sambil tersenyum menggoda ke arah Alina. Alina jadi tersipu malu sambil membayangkan Heru.


Mama lalu menggandeng Alina, mereka berjalan menuju tempat berlangsungnya akad nikah di dalam ruangan utama masjid. Ghazi yang semula tenang bersama Mbak Sitha mendadak menangis saat melihat Ibunya. Alina pun menggendong Ghazi sebentar sambil memberinya asip di dalam botol. Untunglah Ghazi cepat tenang dan jatuh tertidur.


Mama mengambil Ghazi dan memangkunya. Sementara Alina duduk di samping Mama. Acara akad sudah akan dimulai. Heru sudah berada di tempat bersama Dokter Hendra dan Pak penghulu. Prosesi serupa, tapi kali ini Heru tampak lebih gugup. Mungkin karena inilah pernikahan yang sesungguhnya. Bukan sekedar formalistas dan kepalsuan.


Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Heru bim fulan dengan putri saya, Alina salsabila binti Hendra Kuswoyo dengan mas kawin seratus gram emas di bayar tunai...

__ADS_1


Suara Dokter Hendra terdengar lantang memecah keheningan di pagi yang syahdu itu.


Saya terima nikah dan kawinnya Alina Salsabila binti Hendra Kuswoyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.


Heru menjawab dengan tak kalah lantang sambil menjabat tangan ayah mertuanya sebagai wali nikah mereka.


"Bagaimana para hadirin, sah?"


"Sah...sah..."


"Alhamdulillah hirrabbil alamin...."


Heru akhirnya menghembuskan nafas dengan lega. Bulir-bulir keringat mengalir di pelipisnya. Begitu tegangnya Heru menghadapi acara akad pagi ini. Tapi semua terbayar tuntas begitu mendengar semua hadirin bersaksi bahwa pernikahannya dengan Alina sudah sah.


Alina pun tak bisa menahan air matanya untuk jatuh sebab begitu terharu. Akhirnya dirinya benar-benar menjadi seorang istri dari dokter Heru.


Mama memberikan Ghazi yang tengah tertidur pada Mbak Sitha, lalu menggandeng Alina untuk mendekat dan duduk di samping Heru. Kini mereka telah menjadi sepasang suami isteri yang sah baik di mata agama maupun negara. Heru tersenyum takjub menatap Alina yang terlihat begitu cantik pagi itu. Di tangkupnya kepala Alina dengan lembut, lalu dikecuplah keninh wanita yang telah lama dicintainya itu dengan penuh perasaan.


Alina pun tersenyum meski masih menunduk karena malu. Alina kemudian meraih tangan Heru dan menciumnya dengan lama dan khidmat, sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada seorang suami yang telah banyak berkorban untuknya.


Air mata pun kembali mengalir di pelupuk mata Alina. Sungguh Alina tak bisa menahannya, betapa hatinya sangat tersentuh dengan cinta tulus yang diberikan Heru untuknya.


"Jangan menangis sayang, ini hari bahagia kita..."


Heru mengusap air mata Alina. Dan Alina pun mengangkat kepalanya sambil tersenyum menatap Heru.


"Terimakasih kasih banyak Mas Heru..."


Tidak ada buku nikah yang harus ditandadatangani hari itu. Karena Alina dan Heru sudah memiliki buku nikah yang masih berlaku.

__ADS_1


Acara dilanjutkan dengan foto bersama anggota keluarga dan kerabat yang hadir. Lalu dilanjutkan dengan makan bersama di halaman masjid.


Alina dan Heru duduk bersama dengan Dokter Hendra dan istri, juga Alshad dalam satu meja.


"Selamat bro, akhirnya kita jadi keluarga beneran sekarang, jaga adek gue baik-baik, ingat itu!"


Alshad meninju pundak Heru pelan, dan Heru tertawa.


"Selamat nak Heru, senang sekali akhirnya Alina mendapatkan suami yang sangat baik seperti Nak Heru, tolong jaga dan bimbing Alina, kami sebagai orang tua masih banyak kekurangan dalam mendidik putri kami..."


"Tentu saja Ma, aku akan berusaha menjadi suami yang baik seperti Dokter Hendra..."


Dokter Hendra hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Heru. Sudah banyak wejangan yang disampaikan kepada menantunya itu. Tidak perlu sekarang dirinya ikut bicara.


Mereka makan bersama dalam suasana suka cita yang hangat. Begitupun dengan para keluarga dan kerabat yang hadir. Mereka ikut kerasakan kebahagiannya yang di rasakan kedua mempelai.


Hari beranjak siang, satu persatu tamu beranjak pulang.


Seperti deja vu. Heru dan Alina kembali duduk di dalam mobil pengantin. Dan Alshad masih mendapat peran yang sama sebagai sopirnya. Tapi tidak adalagi suasana canggung seperti dulu, sebab kali ini Heru sudah sepenuhnya diterima sebagai anggota keluarga.


Mereka akhirnya tiba dirumah. Tapi kali ini Heru dan Alina tidak akan masuk ke rumah utama. Sebelum menikah, Heru dan Alina sudah sepakat untuk tinggal di pavilun agar privasi keluarga mereka lebih terjaga. Dan Dokter Hendra pun menyetujuinya.


"Kalian nikmatilah waktu berdua sebagai pengantin baru, untuk sementara Ghazi biar sama Mama dulu, ada Mbak Sitha juga yang bantuin. Stok asip kamu banyak jadi jangan khawatir..."


Begitulah Mama memaksa untuk menitipkan Ghazi untuk sementara waktu. Mama paham benar Heru dan Alina membutuhka waktu untuk berdua. Meski merasa tak enak hati, Alina dan Heru akhirnya menyetujuinya.


"Baik Ma, terimakasih banyak..."


Sebelum berpisah Alina menyemoatkan diri menggendong dan menciumi Ghazi dengan gemas.

__ADS_1


"Anak pintar, baik-baik sama nenek ya?"


Walaupun berat, Alina akhirnya menyerahkan Ghazi pada mamanya. Sekarang sudah saatnya Alina melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


__ADS_2