Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 46


__ADS_3

Keesokan harinya, Alina bangun kesiangan. Semalam Alina terus gelisah hingga matanya begitu sulit untuk terpejam. Pesan dari orang asing itu memang telah terhapus dari ponselnya, tapi entah mengapa kata-kata yang tertulis di sana begitu lekat dalam benak. Menghantui pikirannya. Firasat Alina berkata akan ada sesuatu yang buruk di depan sana. Meski dirinya sendiri tidak yakin tentang hal itu.


Meski merasa mengantuk dan sedikit kurang sehat, Alina tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa. Bagi Alina kewajibannya sebagai seorang istri dan Ibu tak bisa diabaikan begitu saja. Meski dirinya adalah seorang wanita karir dan punya pembantu. Ada hal-hal yang ingin Alina lakukan dengan tangannya sendiri jika menyangkut suami dan anaknya.


Tapi saat hendak memandikan anak-anak pagi itu, Alina malah hampir saja terpeleset. Untunglah Heru sedang berada di dekatnya dan langsung menopang tubuh Alina.


Heru membantu Alina berdiri dan memeriksa tubuh istrinya itu.


"Apa ada yang sakit sayang?", tanyanya dengan khawatir.


"Nggak Mas, nggak papa, makasih..."


Alina segera bangkit dan berjalan menuju kursi untuk duduk.


"Sebenarnya ada apa denganmu sayang? Aku perhatikan dari kemarin kamu terlihat gelisah dan kurang fokus?"


"Nggak papa Mas...", jawab Alina sambil menggeleng.

__ADS_1


Lagi-lagi jawaban itu yang di dapat Heru.


"Kalau kamu memang lelah atau sedang tidak enak badan sebaiknya izin saja dan istirahat dirumah, jangan terlalu memaksakan diri..."


"Ya Mas, tapi aku beneran nggak sakit kok, lagian nggak enak kalau izin mendadak, insya allah aku akan baik-baik saja..."


"Ya sudah kalau begitu maumu, tapi kabari aku kalau ada apa-apa..."


"Ya Mas..."


Pagi itu, Heru menggantikan tugas Alina memandikan anak-anak.


Kemudian sperti biasa, Alina dan Heru berangkat dalam satu mobil jika mereka sedang sama-sama ada jadwal praktek pagi.


Perhatian kecil dari suaminya membuat Alina merasa lebih baik. Dan di sepanjang perjalanan Alina malah tertidur pulas. Heru hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya. Sepertinya Alina benar-benar kelelahan dan Heru membiarkan istrinya tertidur sampai mereka tiba di rumah sakit. Melihat Alina yang masih tetap tertidur pulas membuat Heru tidak tega untuk membangunkannya.


Heru memilih untuk menunggu sejenak, masih ada waktu sekitar lima belas menit sebelum mereka harus tiba di ruangan masing-masing. Heru memilih ikut menyandarkan kepalanya sejenak. Tapi kemudian Heru melihat ponsel Alina yang masih digenggam Alina sambil tertidur menyala dan bergetar. Sebuah panggilan dari nomer tak di kenal. Heru merasa ragu, tapi saat panggilan terulang lagi, Heru segera mengangkatnya. Penelpon melakukan panggilan lebij dari sekali, siapa tahu ada urusan yang penting.

__ADS_1


"Hallo, selamat pagi?"


Sapa Heru.


Tapi kemudian panggilan itu justru dimatikan secara tiba-tiba oleh si penelpon. Heru menatap layar ponsel Alina dengan kening berkerut. Aneh!


Bersamaan dengan itu Alina menggeliat dan terbangun. Alina mengusap-usap matanya hingga terbuka.


"Wah aku ketiduran, kenapa tidak dibangunkan Mas?"


"Habis kamu sepertinya lelah sekali sayang, lagi pula kita belum terlambat kok...."


"Ya sudah, ayo kita masuk Mas..."


"Tunggu sebentar sayang, ini ponselmu..tadi ada telepon dari nomer asing, tapi saat kuangkat malah dimatikan, apa kamu mengenalnya sayang?"


Jantung Alina mendadak berdegup lebih cepat.

__ADS_1


"Nggak Mas, paling orang salah sambung, ayo kita masuk Mas..."


Heru melangkah mengikuti istrinya, tapi firasatnya mengatakan bahwa Alina tengah menyembunyikan sesuatu darinya, entah apa.


__ADS_2