Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 14


__ADS_3

Flashback.


Alina memulai hubungannya dengan Dirga sejak tiga tahun yang lalu. Saat itu mereka masih sama-sama menempuh pendidikan. Alina menempuh pendidikan kedokteran. Sementara Dirga sedang mengambil S2 jurusan hukum di universitas yang sama. Pada mulanya Alina tidak memiliki perasaan apapun kepada Dirga. Dimata Alina saat itu Dirga adalah sosok pria yang sempurna. Dirga cukup tampan dan berasal dari keluarga yang terhormat. Sikap Dirga yang selalu manis dan sopan membuat siapapun yang berinteraksi dengannya mudah untuk bersimpatik. Alina berkenalan dengan Dirga saat sedang liburan ke puncak bersama beberapa sahabatnya. Dirga adalah sahabat dari pacar Aisyah waktu itu. Mereka berada dalam satu circle untuk waktu yang lumayan lama. Dan hanya Alina dan Dirga yang belum memiliki pasangan diantara teman-teman lainnya. Karena itulah Alina dan Dirga selalu di pasang-pasangkan. Seingat Alina, saat itu Dirga selalu bersikap ramah kepadanya. Dan entah sejak kapan sikap ramah itu kemudian berubah menjadi perhatian. Dan perhatian itu semakin lama semakin intens. Dirga sering memgirim pesan dan menelponnya untuk sekedar berbincang di waktu senggang. Saat berkumpul dengan teman-teman lainnya, Dirga selalu memperlakukan Alina lebih spesial dibanding teman yang lain. Dan kemudian Dirga pun melakukan pendekatan secara terang-terangan. Dirga mulai berani mengajak Alina keluar berdua saja. Sekedar mentraktir makan atau nonton bioskop. Dirga pun sering menghujaninya dengan hadiah-hadiah kecil yang manis. Mulai dari boneka beruang, coklat, bunga, juga berbagai makanan favorite alina sering dikirimnya melalui aplikasi ojol. Alina cukup merasa nyaman bersama disamping Dirga. Tapi Alina tidak mencintai Dirga sebab di hati Alina masih ada pria lain. Hingga kemudian Dirga mengungkapkan perasaannya kepada Alina. Dan Alina pun akhirnya memutuskan untuk menerimanya. Bukan karena cinta, tapi karena Alina merasa bahwa Dirga adalah sosok yang sempurna untuk dijadikan pacar. Dirga cukup tampan, bisa diandalkan dan pantas dibanggakan. Begitulah penilaian Alina terhadap Dirga.


Tanpa Alina tahu bahwa sebenarnya Dirga ibarat ular berbisa.


Setelah mereka resmi berpacaran, sikap Dirga kepada Alina berubah. Dirga menjadi sangat posesif. Kemanapun Alina pergi, Dirga selalu mengikuti dan Alina harus selalu melapor tentang semua kegiatan yang dilakukannya. Awalnya Alina merasa senang dan menganggap itu sebagai bentuk perhatian Dirga. Dan teman-teman yang melihat mereka selalu bersama kapanpun dan dimanapun menganggap bahwa keduanya adalah pasangan yang romantis. Tapi semakin lama Alina merasa terkekang dan tidak bisa melakukan apa yang diinginkannya. Dirga bagaikan satpam yang mengawasinya dua puluh empat jam.


Tidak hanya sampai disana, jika Dirga merasa curiga atau Alina tidak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya, Dirga akan marah pada Alina. Berbagai kata-kata yang menyakitkan dan merendahkam begitu mudah keluar dari mulutnya. Bahkan terkadang, Dirga tidak segan untuk memukulnya. Pernah suatu kali Alina berada di kampus sendirian saat menunggu Dirga yanh terlambat menjemput. Seorang teman laki-laki yang melihay Alina sendirian menghampiri dan mengajak Alina berbincang. Alina sudah takut kalau nanti Dirga akan marah jika melihatnya, tapi Alina belum sempat menghindar. Akhirnya Dirga datang dan melihat semuanya. Dirga langsung menarik tangan Alina dan menamparnya di depan temannya itu.


"Kamu ngapain aja sama dia? Baru juga gue telat jemput sepuluh menit, lo udah berani mepet-mepet cowok lain! Dasar cewek murahan!"


Niko, teman Alina yang melihat dan mendengar bagaimana Alina diperlakukan jatuh iba.


"Heh, gue cuma temen Alina, dan kita cuma ngobrol di tempat umum nggak lebih, kalau lo nggak bisa percaya sama pacar lo, mending lo putusin aja Alina, lo nggak pantes buat dia!"


Nika mencoba membela Alina, tapi yang ada hal itu malah membuat mereka hampir berkelahi. Tak ingin menyebabkam keributan, Alina berusaha melerai keduanya dan mengajak Dirga segera pergi.


Alina sadar dirinya sedang terjebak dalam toxic relationship. Tidak ada lagi kebahagian dan kenyamanan yang di dapat dari hubungan itu. Yang ada hanya ketakitan dan keterpaksaan. Tapi ternyata tidak mudah untuk lepas dari Dirga, setiap Alina meminta untuk putus Dirga selalu marah.


"Kenapa minta putus, karena lo udah bosen? Atau lo ada selingkuh sama cowok lain?"

__ADS_1


Setelah melontarkan tuduhan-tiduhan yang tidak masuk akal, Dirga kemudian berbalik memohon pada Alina.


"Alina, gue sayang banget sama lo, gue takut banget kehilangan lo, gue nggak akan bisa hidup tanpa lo, gue tahu gue banyak bikin salah dan tanpa sadar sering nyakitin...gue bener-bener minta maaf Lin, itu semua karena gue cinta dan takut kehilangan lo, lo bisa ngertiin gue kan Lin? Cuma lo satu-satunya orang yang gue cinta, tolong jangan tinggalin gue ya Lin? Gue pengen mati aja kalau lo sampai tega tinggalin gue...."


Jika sudah seperti itu Alina akhirnya akan luluh. Alina merasa jadi orang yang jahat jika sampai meninggalkan Dirga. Dirga terlihat begitu menyedihkan dan sangat membutuhkannya. Akhirnya mereka kembali bersama dan Dirga akan menghujaninya dengan perhatian dan hadiah-hadiah manis. Tapi kemudian Dirga akan kembali ke watak aslinya yang suka marah-marah.


Alina tetap bertahan dan berusaha menerima Dirga dengan segala sifat buruknya.


Sampai kemudian, pada suatu hari Dirga meminta Alina untuk menyerahkan miliknya yang paling berharga, mahkota yang selama ini dijaganya.


"Alina, udah cukup lama kita pacaran dan lo tahu kalau gue sayang banget sama lo, gue pengen kita punya hubungan yang lebih serius...."


Dirga bicara sambil tangannya membelai paha Alina. Alina yang merasa risih berusaha menepisnya.


"Ya, nantinya aku pasti bakal ngelamar kamu, tapi sebelum itu aku mau kita punya hubungan yang lebih terbuka dan saling percaya..."


Waktu itu Dirga menyuruh Alin datang ke apartemennya untuk merawatnya yang katanya sedang sakit perut, tapi setelah mimum obat sakitnya langsung sembuh.


"Gue pengen milikin lo seutuhnya Lin..."


Dirga mulai menyentuh bagian-bagian tubuh Alina. Alina takut dan gemetar. Tapi saat Alina ingin beranjak, Dirga malah menarik Alina sampai jatuh ke pelukannya.

__ADS_1


"Mau kemana? Jangan pernah berani pergi dari gue..."


"Gue cinta mati sama lo Lin..."


Dirga terus bicara sambil menuntun Alina ke tempat tidur.


"Lo juga cinta kan sama gue?"


Dirga menatap Alina dengan begitu dalam. Alina pun mengangguk.


"Kalau gitu lo harus percaya sama gue, lo harus serahin semua milik lo biar gue bisa percaya bahwa lo nggak akan ninggalin gue..."


Dirga mulai membuka kancing baju Alina.


"Gue sayang-sayang banget sama lo, gue nggak akan ninggalin lo, kita pasti akan sama-sama selamanya..."


Dirga memulai aksinya dengan lebih berani. Menyentuh setiap inci tubuh Alina dan menikmatinya. Alina pun tak kuasa menolak. Terbuai akan rayuan dan suasana. Hingga akhirnya Alina benar-benar menyerahkan kesucian yang selama ini dijaganya.


"Makasih banyak Lin, lo memang yang terbaik, gue janji nggak akan ninggalin lo..."


Dirga tersenyum puas setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Percintaan yang begitu nikmat dan merenggut kesucian kekasih hatinya. Sementara Alina hanya bisa menangis terisak di pelukan Dirga.

__ADS_1


"Tenang Lin, gue pasti akan tanggung jawab kalau terjadi apa-apa..."


Bisik Dirga di telinga Alina untuk menenangkannya.


__ADS_2