
Alina merasa menjadi wanita paling bahagia dan kini hidupnya terasa sempurna. Memiliki suami sebaik dan sehebat Heru bisa jadi menjadi impian banyak wanita di luar sana. Dan dirinya mendapatkannya meski dirinya tidak sempurna. Ditambah lagi dengan kehadiran Ghazi, bayi mungil menggemaskan yang tengah tumbuh dengan sehat. Alina sangat bersyukur dengan semua anugrah dalam hidupnya.
Setelah mendapatkan kejutan saat kedatangannya tadi, pihak villa sudah menyiapkan makan siang romantis untuk mereka berdua.
"Terimakasih banyak Mas Heru, seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini..."
"Aku sama sekali tidak merasa repot Alina, aku senang melakukannya dan kamu memang pantas mendapatkan semua itu..."
Mereka lalu mulai menyantap hidangan mereka siang itu.
Selesai makan mereka kembali ke kamar. Alina sudah tidak sabar untuk membuka kado-kado yang diberikan Heru.
"Apa ini isinya Mas, kenapa besar sekali bungkusannya?"
Alina bertanya dengam sangat penasaran.
"Buka saja sendiri, nanti juga kamu tahu..."
Alina tersenyum dan mulai membuka kado ulang tahunnya satu persatu.
Ternyata kado yang berukuran besar tadi isinya adalah boneka beruang berwarna coklat tua yang terlihat amat manis dan menggemaskan.
"Bagaimana, kamu suka?"
"Ya, ini terlihat lucu dan menggemaskan..."
"Tentu saja, kamu bisa memeluknya kalau kamu merindukanku, mungkin nanti ada saatnya aku harus jaga malam hari di rumah sakit, jadi kamu tidak akan kesepian..."
Alina jadi tersipu sendiri membayangkan apa yang dibicarakan suaminya.
Alina lalu membuka kado-kado yang lainnyam Isinya ada beberapa lingeri dan juga berbagai mainan untuk Ghazi.
Alina paham, sepertinya secara tidak langsung Heru ingin dia memakai pakaian itu nanti malam.
Setelah selesai membuka kado-kado itu akhirnya mereka tidur siang berdua. Mereka hanya benar-benar tidur dengan saling berpelukan. Perjalan menuju puncak dan acara membuka kado sepertinya membuat mereka cukup lelah hingga tertidur lelap.
Sore harinya setelah bangun dari tidurnya, Heru dan Alina bergantian untuk mandi. Setelah mandi Heru mengajak Alina untuk berjalan-jalan di sekitar villa. Menikmati udara sejuk dan pemandangan indah di sekitar perkebunan yang ada di sana.
Dan malam harinya, Heru kembali mengajak Alina menikmati makan malam romantis di taman belakang villa. Dan Heru memilih menu barbeque sebagai makan malam mereka kali ini dengan konsep self service.
Di depan Alina, Heru menunjukkan kepiawaiannya memanggang daging.
Heru menyadari menjadi anak yatim piatu dan tinggal dinpanti sejak kecil tidak selalu buruk. Setidaknya dirinya sudah terbiasa mandiri dan mengurus segala keperluannya sendiri sejak kecil. Dan karena hal itu pula Heru jadi menguasai berbagai macam skill, seperti memasak yang ternyata cukup berguna.
Alina menatap takjub pada suaminya yang sedang beraksi di depan tungku. Sebagai wanita dirinya merasa tersaingi melihat kemamouan Heru. Dalam hati Alina terbersit keinginan untuk mengambil khursus masak nantinya.
"Ada yang bisa kubantu Mas Heru?"
tanya Alina sambil menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Sebenarnya tidak ada, tapi kalau mau kamu bisa mencobanya, ini menyenangkan...."
Dengan ragu-ragu Alina mengambil sepotong daging, lalu diletakkkannya dibatas alat pemanggang. Alina laku mengoleskan berbagai macam bumbu sambil sesekali menoleh kesamping, meniru apa yang dilakukan Heru.
Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Alina reflek menunduk dan hal itu membuat Heru gemas sendiri. Heru kemudian beranjak mendekati Alina dan berdiri tepat dibelakangnya Heru mengungkung tubuh Alina dari belakang dan memegang tangan Alina.
"Begini caranya sayang..."
Heru mulai menuntun tangan Alina.
Alina yang terkejut reflek menarik tangannya hingga tanpa sengaja menyentuh daging yang masih panas di atas panggangan.
"Aw.."
Alina berteriak saat menyadari tangannya terasa panas.
Heru langsung melangkah mundur dan melihat keadaan Alina.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut, apa kamu terluka?"
"Tidak apa-apa, aku cuma terkejut saja, ayo kita lanjutkan...."
Heru meraih tangan Alina dan mengamatinya beberapa saat. Alina hanya diam membiarkan Heru. Setelah memastikan Alina baik-baik saja barulah Heru merasa tenang.
"Sebaiknya kamu duduk saja, biar aku yang melanjutkannya..."
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dua piring steak telah siap. Lengkap dengan kentang goreng, sayuran, juga saus barbeque yang lezat. Untuk minumannya pihak villa juga sudah menyiapkan air mineral dan lemonade yang bisa diisi ulang sepuasnya.
"Terimakasih banyak, maaf selalu merepotkanmu..."
"Jangan bicara begitu, kita sudah jadi suami isteri sekarang, jadi tidak perlu sungkan..."
Mereka lalu menikmati makan malam romantis itu di bawah sinar bulan purnama.
Namun kemudian, perlahan langit berubah menjadi mendung. Dan beberapa saat kemudian gerimis mulai turun.
Untunglah Alina tinggal menyelesaikan suapan terakhirnya. Sedangkan Heru sudah selesai dan tengah asyik mengamati Alina makan.
"Gerimis, bagaimana ini Mas?"
"Kalau sudah selesai makan, sebaiknya kita masuk kamar saja..."
Mereka berlari-lari kecil masuk ke dalam kamar, karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
Sampai di dalam keduanya sudah basah kuyup.
"Ganti bajumu dulu Alina, nanti kamu sakit...biar aku ganti disini saja"
Alina lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sementara di dalam kamar, Heru langsung mengganti bajunya dengan baju handuk, lalu Heru mengeringkan lantai yang basah agar Alina tidak terpeleset.
__ADS_1
Namun tiba-tiba, saat menoleh, Heru dikejutkan dengan pemandangan yang membuat jantungnya nyaris copot. Alina keluar dari kamar mandi dengaj mengenalan lingerie yang tadi dihadiahkan Heru.
Memang, tadi Heru meminta Alina untuk memakainya malam ini, tapi Heru tidak menyangka kalau Alina akan seberani ini.
Alina melangkah menuju tempat tidur dengan wajah tertunduk. Sementara Heru bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sudah tidak sabar untuk menyusul istrinya.
Setelah selesai, Heru segera menyusul Alina yang tengah berbaring di tempat tidur dengan posisi membelakanginya.
"Alina..."
Panggil Heru dengan lembut.
Alina menggeliat dan berbalik menghadap suaminya.
"Jangan takut, lihat aku..."
Beberapa saat mereka bertatapan dan waktu seolah berhenti. Keduanya merasakan getaran di dada. Tapi Heru tidak ingin terburu-buru dan mengulang kesalahan yang sama.
Tapi tiba-tiba Alina malah mendekat dan mencium bibirnya lebih dulu.
Heru sempat terkejut, sebelum kemudian membalas ciuman Alina.
Beberapa saat mereka terhanyut. Tanpa kata-kata, dua insan itu tengah saling menyelami arti kehadiran masing-masing.
"Aku mencintaimu Mas Heru, maafkan untuk kesalahanku kemarin, maafkan untuk semua kekuranganku...aku akan berusaha menjadi istri yang baik mulai saat ini...Aku akan berusaha melaksanakan semua kewajibanku sebagai isterimu...."
Ucap Alina setelah ciuman mereka terlepas.
Heru benar-benar terharu dengan apa yang diucapkan Aliba. Heru lalu menarik Alina ke dalam rengkuhannya.
"Terimakasih sayang...terimkasih Alina....kamu membuat impianku jadi nyata...jangan lagi ingat masa lalumu...mari kita mulai lembaran baru ini bersama...aku mencintaimu..."
Alina membalas pelukan Heru dengan erat dan membenamkan diri dalam rengkuhan suaminya.
Beberapa saat mereka hanya diam, menikmati betapa nyamannya saling berpelukan dengan erat.
Setelah merasa yakin, Heru mulai melancarkan serangan-serangan kecil di tubuh Alina.
"Sayang.."
Panggilnya dengan mesra. Baru malam ini Heru memberanikan diri memanggil dengan kata 'sayang'. Padahal telah lama Heru memimpikannya.
Alina diam dan terlihat menikmati sentuhan demi sentuhan itu. Bahkan saat Heru mulai menyentuh area sensitifnya, Alina tetap tak melawan.
Mereka semakin hanyut dalam suasana. Kecupan demi kecupan mendarat di seluruh bagiam tubuh Alina.
Hingga akhirnya terjadilah penyatuan yang telah lama mereka dambakan.
Alina menggelinjang merasakan n*kmat, sekaligus bersyukur, akhirnya dirinya mampu menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
__ADS_1