Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 23


__ADS_3

Setelah tiga hari menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Alina dan bayinya diizinkan pulang kembali ke rumahnya.


Suasana rumah pun menjadi lebih dan semarak dengan adanya tangisan bayi mungil yang mencuri perhatian seisi rumah.


"Aduh cucu Mama nangis..."


Mama yang sedang asyik dengan tanaman hias di halaman, langsung meletakkan gunting tanaman guna menghampiri cucu tercintanya.


Tapi ternyata saat didatangi Ghazi sedang sibuk menyusu.


"Udah belum nenennya? Sini biar Mama gendong..."


"Kenapa Gazhi nggak berenti-berenti nyusu ya ma?"


Alina bertanya sambil menahan perih di payud*ranya. Alina baru tahu kalau menyusui ternyata sakit.


"Itu bagus Alina, berarti dia sehat, harus banyak menyusu biar cepat besar..."


Setelah Ghazi selesai menyusu, Mama langsung menggendong dan membawa Ghazi ke halaman untuk berjemur.


Sementara itu di dalam kamar Alina berusaha menahan nyeri. Badannya terasa menggigil dan tubuhnya demam. Sebelah payud*ranya terasa nyeri dan mengeras sebab Gazhi hanya mau menyusu di satu sisi saja. Alina melihat wajahnya di cermin dan mendapati monster mengerikan sedang menatapnya. Ya, Alina merasa tidak mengenali dirinya lagi. Rambutnya berminyak, rontok dan berantakan, badannya masih mengembang sama seperti ketika masih hamil. Wajahnya kusam dan berjerawat. Alina merasa sangat buruk rupa. Sedangkan seluruh badannya terasa tidak nyaman. Walaupun sudah mandi Alina tetap selalu merasa gerah dan lengket karena air susunya terus mengalir bahkan membasahi pakaiannya.


Di dalam kamar itu, Alina menangis sendirian. Alina merasa amat lelah harus selalui menyusui dan menimang-nimang Ghazi sepanjang waktu, sementara bentuk tubuh dan wajahnya semakin terlihat mengerikan. Alina bahkan tidak memiliki kepercayaan diri untuk keluar rumah.


Mama kembali dengan membawa Ghazi, berniat menyerahkannya kembali pada Alina untuk disusui. Tapi Mama justru terkejut melihat Alina yang sedang meringkuk di ujung tempat tidur dengan wajah sembab.


"Ada apa Alina?"


Tanya Mama dengan herannya.


Mama mendekati Alina dan menyentuh keningnya.

__ADS_1


"Kamu demam sayang?"


"Sakit Ma..."


Kata Alina sambil menunjuk payud*ranya. Mama memeriksa bagian yang ditunjuk Alina dan langsung tahu penyebab sakit Alina.


"Ini karena asinya tidak di keluarkan dengan baik, jadi menumpuk dan tersumbat. Makannya jadi keras dan terasa nyeri, sebaiknya kamu pompa asinya supaya keluar, kalau tidak bisa terjadi mastitis..."


Tentu Alina pernah mendengar istilah mastitis saat belajar di bangku kuliah, tapi mengalaminya sendiri ternyata rasanya sangat tidak nyaman.


Alina segera mengambil alat pompa yang sudah disterilkan, tapi belum sempat digunakannya sebab dari kemarin Gazhi tak mau lepas dari rengkuhannya. Tapi baru mau beranjak, Gazhi kembali menangis minta disusui.


"Kamu susui dulu Gazhi, kalau sudah biar Mama gendong, kamu bisa memompa nanti, jangan lupa di pijat dan di tekan-tekan dulu bagian yang mengeras..."


Alina lalu melakukan semuanya sesuai dengan instruksi Mama. Mama Alina dulu juga pernah mengalami apa yang dilami Alina sekarang. Jadi Mama tahu persis bagaimana rasanya dan sebisa mungkin ingin membantu Alina agar merasa nyaman.


"Terimakasih banyak Ma, sepertinya rasa nyerinya sudah sedikit berkurang.."


"Jangan lupa minum juga obat penurun panas, biar kamu merasa lebih nyaman. Ingat, untuk merawat bayi dengan baik kamu juga harus memperhatikan kesehatan dan asupan makananmu, dan jangan lupa untuk ikut tidur saat bayimu tidur, kalau malam kamu harus bangun untuk menyusui juga kan?"


"Ya Ma, terimakasih banyak..."


"Jangan lupa, ada Mbak Sitha yang siap membantumu, kamu bisa menitipkan Gazhi padanya dan mengurus dirimu sendiri..."


Mbak Sitha memang selalu siap sedia membantu Alina. Tapi entah mengapa Alina masih merasa ragu untuk menyerahkan putranya pada orang lain. Paling-paling Alina hanya menyuruh Mbak Sitha mengambilkan makanan atau menitipkan Gazhi sebentar kalau Alina ingin mandi. Itu pun Alina hanya mandi secepat kilat karena mendengar Gazhi kembali menangis minta susu.


"Tidak sempat Ma, Gazhi selalu menangis minta asi, aku tidak tega lama-lama meninggalkannya..."


"Bersabarlah, lama-lama kamu akan terbiasa dengan tangisan bayi, jangan terlalu panik, bayi memang selalu menangis...Gazhi masih bisa menunggu sambil digendong saat menunggumu menyelesaikan aktivitas pribadimu..."


"Ya Ma..."

__ADS_1


Setelah memastikan Alina sudah lebih tenang, Mama lalu keluar dari kamar Alina.


Alina akhirnya ikut tertidur saat bayinya sudah tidur.


Hari itu, Heru sudah kembali masuk kerja seperti biasa. Heru hanya mengambil cuti tiga hari untuk menemani Alina melahirkan. Tapi entah mengapa saat sedang bekerja, Heru tak bisa fokus sepenuhnya. Heru selalu terngiang-ngiang akan tangisan bayi mungil yang belakangan ini kerap menganggunya tapi ternyata sekarang justru sangat dirindukannya.


Begitu jam pulang tiba, Heru langsung bergegas. Heru ingin segera sampai dirumah. Begitu tiba di rumah, Heru segera mandi dan membersihkan diri, agar dirinya sudah dalam keadaan bersih jika bertemu Gazhi.


Heru sengaja duduk di ruang tamu sambil menunggu Gazhi keluar dari kamarnya. Beberapa kali Heru mendengar tangisan nyaring Gazhi, tapi bayi itu tak kunjung keluar dari kamarnya.


Akhirnya Heru memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Alina. Setelah beberapa kali mengetuk akhirnya pintu di buka dari dalam.


Tapi belum sempat Heru melihat Gazhi, Alina sudah membanting pintu dengan keras sampai mengenai hidung Heru.


"Alina, aku ingin melihat Gazhi, sebentar saja...tolong buka pintunya..."


Tapi Alina tetap bergeming tidak mau membuka pintu.


Heru kembali mengetuk pintu berkali-kali, tapi Alina tetap tidak membuka pintu.


"Jangan sekarang, nanti saja aku akan membawanya keluar, sekarang Gazhi sedang tidur...", Alina berteriak dari dalam kamar.


Akhirnya Heru menyerah dan memilih untuk menunggu sambil duduk di shofa ruang keluarga.


Untunglah Gazhi tetap tertidur nyenyak meski sempat terjadi sedikit keributan di kamar Alina.


Di dalam kamar, Alina segera pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya sampai bersih. Alina lalu memilah-milah baju di dalam lemarinya yang sekiranya akan membuatnya tampak lebih ramping. Setelah itu Alina memoles pelembab dan bedak agar wajahnya sedikit lebih cerah. Dan terakhir, Alina memberikan polesan lipstik berwarna cerah,


Alina masih tidak percaya diri dengan penampilannya. Alina mematut diri di depan cermin sekali lagi. Badannya masih terlihat besar dan wajahnya masih berjerawat. Tapi setidaknya, inilah penampilan terbaiknya saat ini dan tak mungkin Alina terus bersembunyi di dalam kamar saja. Alina mencoba tersenyum untuk meyakinkan dirinya.


Gazhi terbangun tepat setelah Alina selesai berdandan. Alina menyusui Gazhi sampai kenyang, baru setelah itu digendongnya bayi tampan itu untuk bertemu 'Ayah'nya. Alina keluar dengan hati-hati dan mendapati Heru tengah tertidur di ruang keluarga. Dan saat Alina duduk di samping Heru, tiba-tiba saja Gazhi kembali menangis. Heru terlihat terkejut dengan suara tangisan Gazhi, lalu Heru pun membuka matanya.

__ADS_1


__ADS_2