
Alina sampai di rumah dalam keadaan lelah.
"Hore, Ibu pulang...Ibu pulang..."
Namun teriakan anak-anak yang memanggilnya sambil berlarian membuat senyuman Alina mengembang.
Alina merentangkan lengannnya lebar-lebar dan kedua bocah itu berlomba masuk ke dalam pelukannya. Seketika rasa lelah itu sirna berganti dengan kesejukan yang mengalir di hatinya.
"Ibu bawa apa itu?", tanya Ghazi saat melihat sebuah kantong di belakang tubuh Ibunya.
Matanya berbinar, antusias menantikan oleh-oleh yang dibawakan sang Ibu sepulang bekerja.
"Ibu bawakan donat kesukaan kalian, tapi..kakak dan adik sudah mandi belum?"
Ghazi dan Fathih saling memandang dan menggeleng bersamaan.
"Belum mandi Bu, dari tadi mereka lari-lari terus susah sekali disuruh mandi.."
Mbak Sitha datang dari belakang dan melaporkan tingkah nakal kedua anak asuhannya.
__ADS_1
"Kalau begitu kalian mandi dulu sama Mbak Sitha, nanti setelah mandi kita makan donatnya sama-sama..."
Ghazi dan Fatih menurut, mengikuti Mbak Sitha masuk ke dalam kamar mandi dengan air hangat yang telah disiapkan.
Sementara itu, Alina pergi ke dapur untuk membuka ran menyiapkan donat untuk buah hatinya.
Alina tertegun saat mendapati secarik kertas terselip diantara susunan donat. Alina mengambilnya dan membaca tulisan yang ada disana.
Selamat makan Ghazi...dari Papa yang selalu merindukanmu..
Hati Alina mencelos membaca apa yang tertulis di kertas kecil itu. Berbagai prasangka memenuhi pikirannya, namun Alina buru-buru menepisnya.
Alina coba menyangkalnya.
Tapi kenapa tertulis jelas nama Ghazi disana?
Dan pikiran logis Alina mulai mencerna.
"Ibu....kita sudah mandi, ayo makan donatnya.. aku mau yang rasa coklat..."
__ADS_1
Celotehan Ghazi membuyarkan pikiran galau Alina. Alina buru-buru meremas kertas kecil itu dan membuangnya ketempat sampah yang ada di dekatnya.
"Ya sayang, duduk yang baik, ibu ambilkan donatnya..."
Ghazi dan Fatih sudah siap duduk manis di depan televisi. Alina lalu menata donat itu di dua piring plastik untuk di serahkan kepada dua anaknya. Alina lalu mengambil satu untuk dirinya sendiri dan duduk disamping anaknya, menemani mereka makan sambil menonton televisi.
Sesekali Ghazi dan Fatih bertengkar, berebut donat sampai mulut mereka belepotan. Alina susah payah melerai keduanya. Selesai dengan sesi berebutan, Ghazi lalu bercerita tentang kegiatannya seharian ini dengan antusias. Sementara Fatih masih sibuk menjilati coklat pada donat keduanya.
Alina berusaha menanggapi anak-anak dengan sepenuh hati. Tapi kali ini, entah mengapa pikirannya menjadi tidak fokus. Tubuhnya memang berada disini, tapi tidak dengan pikirannya. Bagaimanapun Alina coba menghalaunya, pikirannya masih menerka-nerka tentang note di dalam kotak donat tadi. Rasa penasaran terus membayangi benaknya.
Dan kemudian ponselnya yang tergeletak di meja bergetar. Alina mengambil dan membukanya. Siapa tahu ada sesuatu yang penting atau pesan dari suaminya, begitu pikir Alina. Tapi ternyata itu adalah pesan dari nomer yang tidak di kenal.
Apa kabar Alina? Sudah dimakan donatnya? Apa dia sedang berada disampingmu?Tolong sampaikan salamku pada Ghazi, katakan bahwa aku merindukannua dan sangat ingin bertemu dengannya...
Alina membaca pesan itu perlahan dan mencoba mencerna maksud di baliknya. Tiba-tiba perasaannya menjadi tak enak. Katakutan kembali membayanginya setelah sekian lama Alina merasa tenang dengan kehidupan barunya.
Meski berusaha menyangkal, prasangkan Alina tetap mengarah pada satu sosok di masa lalu yang telah dikuburnya dalam-dalam. Sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya yang selam ini berusaha diperbaikinya perlahan-lahan.
Tapi, kenapa orang itu harus muncul kembali? Dan untuk apa dia kembali mengusik hidupnya lagi?
__ADS_1