
Heru membuka video kiriman dari orang tidak dikenal dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Istrinya tidur di sebuah kamar hotel berbalut selimut, sementara Dirga tersenyum licik sambil membuat video bersama istrinya yang tengah terlelap.
Aku mengajaknya ke hotel kemarin lusa, bisa tebak apa yang sudah kami lakukan hingga membuatnya lemas?
Sebuah pesan bernada provokasi hampir membuat jantung Heru melompat dari tempatnya.
Astaghfirullah hal adzim....
Heru mengucap istighfar berkali-kali untuk menenangkan dirinya yang sedang kalut. Sementara itu anak-anak terus berceloteh meminta perhatiannya.
"Kalian main sama Mbak Sitha dulu ya? Ayah ada urusan sebentar..."
Heru akhirnya memilih keluar dari rumah karena pikirannya benar-benar kacau sekarang. Heru tak ingin anak-anak menjadi korban karena emosinya yang sedang tidak stabil. Heru mengambil dompet dan kunci mobilnya, lalu keluar memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Belum pernah Heru merasa sekacau ini. Selama ini dirinya selalu bersabar dan mengalah, berusaha memberikan yang terbaik untuk Alina, untuk keluarga kecilnya. Heru begitu mencintai Alina, hingga segala kekurangan dan kesalahan yang dilakukan istrinya bisa dengan mudah dia abaikan. Heru juga sadar bahwa apapun yang dilakukannya tidak akan cukup membalas jasa keluarga Alina di dalam hidupnya. Tapi saat ini, Heru merasa benar-benar hancur. Kepercayaan yang telah ia berikan dengan cuma-cuma ternyata berujung pengkhianatan yang menyakitkan. Bagaimana mungkin Alina tega melakukan hal keji itu?
Setelah berputar-putar tak tentu arah akhirnya Heru berbelok ke sebuah club malam. Dulu sekali, temannya di panti pernah mengajaknya ke tempat semacam ini dan mencicipi minuman yang rasanya sedikit pahit, lalu mereka pulang ke panti dalam keadaan sempoyongan. Setelah itu mereka di hukum untuk membersihkan seluruh kamar mandi dan tidak boleh keluar panti selama tiga bulan.
__ADS_1
Itu adalah untuk pertama dan terakhir kalinya Hery mencoba minuman keras, sebab Heru berfikir rasanya tidak enak dan tidak untungnya menenggak minuman haram itu.
Tapi sekarang, tanpa berfikir panjang Heru memesan satu botol dan langsung menenggaknya. Seketika beban di kepalanya terangkat.
Kemudian seorang gadis cantik menarik perhatian. Gadis yang duduk seorang diri dengan satu gelas di tangannya.
Dengan langkah sempoyongan Heru mendekatinya dan menyapa.
"Hey Cantik...", goda Heru menyapa wanita itu.
Kemudian seorang tante-tante berwajah menor menghampirinya.
"Harganya satu juta, you boleh bawa dia ke hotel!"
Heru mengecek dompetnya, tapi uang tunainya tak cukup.
"Bisa transfer?"
__ADS_1
Tante-tante itu memberinya nomor rekening.
Heru segera mengirim sejumlah nominal. Transaksi sukses, Heru pun segera menarik tubuh gadis cantik itu ke pelukannya. Dan Ajaib, wanita yang semula jual mahal takhluk bagaikan kucing yang manis.
Beriringan mereka berjalan keluar dari club, lalu masuk ke dalam taksi yang akan membawa mereka ke hotel.
Bersama wanita itu, Heru benar-benar menumpahkan segala keluh kesah yang membelenggunya selama ini. Meski dalam kondisi setengah sadar, Heru merasa nyaman bisa bercerita selepas itu.
Dan yang membuat Heru terkejut, Heru merasakan betapa nikmatnya berc*nta dengan berbagai gaya. Hal yang belum pernah dilakukannya bersama Alina. Sebab istrinya itu cenderung pasif dan pemalu. Berkali-kali Heru dibuat menger*ng nikm*t oleh permainan profesional wanita itu. Dan kini Heru benar-benar sudah melupakan masalah. Rasanya seperti terbang.
Akhirnya Heru pun jatuh ke tempat tidur dengan perasaan puas.
"Siapa namamu?"
"Anya..."
Heru tidak akan melupakan nama itu dan akan mencarinya lagi.
__ADS_1