Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 8


__ADS_3

Pagi itu, Heru benar-benar berangkat ke rumah sakit bersama Dokter Hendra. Heru mengemudikan mobil sedangkan Dokter Hendra duduk di sampingnya. Hari ini adalah hari pertama Heru bekerja kembali di rumah sakit yang masih terasa asing baginya.


"Bagaimana, apa kamu sudah siap bekerja di tempat yang baru?"


"Saya sudah usahakan yang terbaik semampu saya..."


"Kalau begitu percaya dirilah, kamu pasti akan bisa berkembang dengan baik di tempat yang tepat, selamat datang dan selamat bergabung di rumah sakit karya medika. Saya bisa melihat sejak kecil bahwa kamu punya potensi yang besar..."


"Terimakasih banyak Pa, tapi sepertinya Papa terlalu berlebihan, kalau bukan karena dukungan Papa dan keluarga pasti saya tidak akan seperti sekarang...."


"Hahaha, sudah-sudah, jangan membuatku besar kepala..."


Sejenak Heru fokus menyetir di jalanan pagi yang padat.


"Bagaimana dengan Alina?", Tanya Dokter Hendra kemudian.


"Maksudku, bagaimana dengan pemeriksaan Alina kemarin? Apa saja yang dikatakan Dokter Erika tentang kehamilannya? Anak itu suka menyimpan masalahnya sendiri dan membuatku khawatir. Tapi setidaknya aku bersyukur dia mau berterus terang tentang kehamilannya waktu itu..."


"Alina sudah mengalami flek sebelum dia memeriksakan kehamilannya. Bayinya dalam kondisi sehat, tapi kandungan Alina dinyatakan lemah, Dokter Erika sudah memberikan obat penguat kandungan dan Alina di minta bedrest selama dua minggu. Setelah itu kondisinya harus di evaluasi lagi...", terang Heru pada Ayah mertuanya.


"Ah begitu ya? Kemarin Alina masuk ke rumah tanpa menceritakan apapun, hanya memberikan makanan yang di bawanya lalu masuk kekamar, padahal kami menunggunya hampir dua jam..."


"Maaf..."


"Ah, bukan begitu maksudku, biar nanti ku suruh satu pelayan untuk mengawasinya..."


"Sepertinya satu pelayan tidak akan cukup Pa..."


"Maksudnya?"


"Tolong izinkan saya untuk ikut menjaga Alina...izinkan saya untuk ikut memantau dan memastikan bahwa Alina dalam kondisi yang baik, sebab saya lihat Alina selalu murung, mungkin ada masalah yang masih dipendamnya dan itu tidak baik untuk kehamilannya..."


Sejenak Dokter Hendra terlihat berfikir dan menimbang sesuatu sebelum akhirnya memutuskan.

__ADS_1


"Baiklah, tolong jaga Alina untukku, tapi jangan sekali-kali coba menyentuhnya...mulai besok kamu akan tinggal di kamar samping Alina. Kamu boleh masuk ke kamar Alina dengan syarat harus bersama pelayan yang kutugaskan untuk menjaganya, mengerti?"


"Mengerti Pa, terimakasih banyak sudah percaya padaku..."


Setelah mengambil keputusan itu Dokter Hendra segera menelpon isterinya di rumah untuk memberitahukan rencananya dan meminta tolong pada istrinya agar mengurus semuanya.


Satu urusan telah selesai.


tanpa terasa mereka sudah hampir sampai di rumah sakit karya medika.


"Bersiaplah, aku akan memperkenalkanmu pada acara breafing pagi nanti..."


"Ya Pa..."


Sesampainya di rumah sakit Dr Hendra langsuk masuk ke ruangannya, sedangkan Heru diminta untuk menemui Dokter Frans, atasannya langsung di rumah sakit Karya Medika. Setengah jam kemudian para dokter rumah sakit karya medika sudah berkumpul di ruang rapat.


"Selamat pagi rekan-rekan semua, pagi ini saya ingin memperkenalkan anak baru yang akan bekerja bersama-sama dengan kita. Namanya dokter Heru, beliau ini sekaligus anak menantu saya, mohon bimbingannya rekan-rekan semua..."


Semua bertepuk tangan dan menyalami Heru secara bergntian untuk mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung. Semua terlihat baik padanya di depan, namun pada kenyataannya tidak demikian. Banyak orang yang berbicara buruk tentangnya. Mereka bilang Heru masuk ke Karya Medika hanya karena memanfaatkan mertuanya. Mereka bilang Heru hanya lah anak kemarin sore yang tidak punya bakat. Dan yang paling kejam, ada yang mengatakan bahwa Heru secara licik sudah menghamili Alina lebih dulu agar bisa menjadi menantu dan ikut mewarisi kekayaan Dokter Hendra. Meski begitu banyak pula yang tulus mendukung dan menerima kehadiran Heru dengan tangan terbuka.


"Kenapa masih berdiri disitu?" Ternyata itu adalah Dokter Hendra.


Heru menoleh dan menggaruk kepalanya dengan salah tingkah.


"Tidak perlu dengarkan apa kata orang dan jangan perdulikan gosip yang disebar untuk menjatuhkanmu. Fokuslah pada tujuanmu dan bekerja keraslah, insya Allah kamu akan sukses melampaui orang-orang yang membicarakanmu di belakang"


"Terimakasih banyak Pa, aku akan berusaha..."


Akhirnya hari itu Heru resmi mulai bekerja di Karya Medika.


Sementara itu dirumah, Alina harus menghabiskan waktunya di dalam kamar saja sendirian. Ditambah lagi dengan kehadiran Mbak Sita, pelayan yang baru saja ditugaskan Papa dan Mama untuk mengawasinya dua puluh empat jam sehari, membuat Alina merasa menjadi tahanan di rumahnya sendiri. Dan kemudian Alina mendengar suara yang agak berisik dari samping kamarnya. Seperti suara orang memukul dinding dan barang-barang dipindahkan. Rasa penasaran mendorong Alina untuk keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Alina melihat mamanya sedang mengawasi para pekerja yang memindahkan berbagai macam perabotan di kamar di samping kamarnya dan sebelumnya merupakan kamar tamu.


"Mama lagi ngapain?"

__ADS_1


Sapa Alina pada Mamanya.


"Eh sayang, kamu kok keluar? kamu kan masih harus tiduran..."


"Cuma di depan kamar aja kok Ma..."


"Sama aja nggak boleh sayang, ayo Mama antar masuk ke kamar lagi..."


Mama mengantarkan Alina kembali ke kamarnya dan memastikan putrinya kembali berbaring di tempat tidurnya.


"Ingat Alina, kamu harus bedrest total untuk menjaga kesehatan dan janin yang ada di dalam kandunganmu..."


"Ya Ma, tapi apa yang sedang Mama lakukan? Kenapa banyak para pelerja di kamar tamu samping?"


"Oh itu, Mama ingin sedikit renovasi kamar itu, lagi pula sudah lama sekali perabot disana tidak diganti..."


Tadi setelah suaminya menelpon, Mama Alina langsung punya inisiatif untuk merenovasi kamar tersebut, sekedar memasang wallpaper baru dan mengganti perabot agar lebih terlihat maskulin sesuai dengan karakter Heru. Lagi pula Heru pantas menerima fasilitas terbaik setelah apa yang dilakukannya untuk keluarganya.


"Tapi untuk apa Ma? bukannya kamar itu jarang di tempati dan kita jarang ada tamu yang menginap?"


"Mulai besok pagi Heru akan pindah ke kamar itu supaya dekat dengan kamarmu. Papamu menyuruh dia untuk menjaga dan mengawasimu..."


"Apa mama tidak salah? Kan sudah ada Mbak Sitha yang selalu ada buat Alina Ma?"


"Tapi kamu masih suka ngeyel kan kalau cuma Mbak Sita yang ngawasin? Tuh tadi saja kamu nekat keluar kamar! Pokoknya mulai besok pagi Heru akan pindah kesini..."


Alina tahu kalau Papa dan Mamanya sudah bertitah tidak akan bisa dibantah. Alina akhirnya hanya bisa pasrah, bertambah lagi orang yang akan mengawasinya.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alina sudah kembali mendengar keributan dari samping kamarnya. Sepertinya pagi ini Heru benar-benar pindah. Kemudian Alina mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar. Biasanya Mbak Sita datang untuk mengantar sarapan pada jam segini.


"Masuk!", tanpa ragu Alina berteriak.


Pintu kamar di buka dari luar.

__ADS_1


"Sarapan sudah datang tuan Putri..."


Ternyata kali ini bukan Mbak Sita yang datang mengantar makanannya.


__ADS_2