Cinta Suci Alina

Cinta Suci Alina
Bab 41


__ADS_3

Alina merasakan kontraksi hebat di malam hari saat seluruh penghuni rumah tengah tertidur pulas. Apakah sudah saatnya dirinya melahirkan? Tiba-tiba Alina merasa takut. Seandainya Heru ada disini mungkin dirinya tidak akan merasa setakut ini.


Alina merasa bingung sementara kontraksi semakin sering terjadi dan membuat dirinya merasa kesakitan. Alina ingin menghubungi Heru, tapi langsung mengurungkan niatnya. Berbicara pada Heru mungkin bisa sedikit menenangkannya. Tapi itu percuma, sebab Heru tidak berada disini dan hal itu hanya akan membuat suaminya khawatir. Ghazi masih tertidur dengan lelapnya, membuat Alina tak tega meninggalkannya.


Tapi kemudian kontraksi hebat kembali terjadi. Dari arah dapur Alina mendengar suara orang sedang beraktifitas. Alina memyeret langkahnya perlahan menuju dapur dan mendapati Bi Siti sedang sibuk mencuci peralatan memasak berukuran besar.


"Ada apa Non?", Tanya Bi Siti dengan Heran saat melihat majikannya berada di dapur tengah malam.


"Ini Bi, perut saya terasa melilit...", Alina bicara sambil terus memegang perutnya.


"Aduh Non, apa sudah waktunya? Biar saya panggilkan Nyonya ya Non?"


Bi Siti nampak panik setelah mengetahui keadaan Alina.


"Jangan Bi, tidak usah, tolong panggilkan Mang Supri saja, suruh antar saya ke rumah sakit...lalu bilang Mbak Sitha agar menemani Ghazi tidur di kamar..."


Alina tidak tega jika harus merepotkan Mama.


"Baik Non, biar saya panggil Mang Supri dulu....sebaiknya Non Alina duduk atau rebahan dulu sambil menunggu, sebantar ya Non..."


Bi Siti berjalan dengan terburu-buru untuk mencari Mang Supri yang tidur di rumah utama.


Sementara itu di dalam paviliun Alina menunggu sambil bersiap-siap. Entah mendapatkan kekuatan dari mana, saat jeda kontraksi Alina dengan sigap berjalan kesana kemari.


Menyiapkan susu dan segala keperluan Ghazi, lalu mengemasi barang-barang yang harus di bawanya ke rumah sakit. Untunglah beberapa hari sebelumnya Alina sudah menyiapkan barang keperluan melahirkan di dalam dua tas ukuran sedang.


Alina pun menyeret sendiri dua tas itu ke teras. Dan tepat setelah segala urusannya selesai, kontraksi datang kembali. Kali ini Alina memilih duduk di kursi teras depan sambil menunggu Mang Supri.


"Biar Bibi ikut kerumah sakit ya Non? Non Alina tenang saja, Ghazi saya titip ke Sitha kok..."


Kata Bi Siti yang mengkhawatirkan keadaan Alina.


"Ya Bi, terimakasih banyak..."


"Tapi apa nggak sebaiknya Nyonya juga diberitahu Non?"


"Besok pagi saja Bi, biasanya Mama bangun subuh-subuh, lagian saya belum tentu langsung melahirkan sekarang, kasihan Mama kalau dibangunkan..."


Alina tahu meski kontraksi sudah terjadi berkali-kali, tapi kemungkinan bayinya lahir masih beberapa jam lagi.


"Baik Non..."


Alina pun akhirnya berangkat ke rumaj sakit dengan diantar Mang Supri dan Bi Siti.


Sesampainya di rumah sakit, Alina masuk ke bagian IGD. Setelah mengurus administrasi dengan dibantu Bi Siti, Alina langsung dipindahkan ke ruang persalinan. Kontraksi datang semakin sering dan rasa sakit itu sudah tak tertahankan.

__ADS_1


Alina menyempatkan diri mengirim pesan singkat pada suaminya.


Mas, sepertinya anak kita akan segera lahir...tolong doakan semua lancar dan selamat...maaf kalau sebagai istri masih banyak kekurangan dan kesalahanku...


pesan terkirim.


Dan Alina merasa lebih tenang sekarang.


Dokter dan bidan sudah datang, bersiap untuk membantu Alina melahirkan.


Hanya berselang satu jam sejak kedatangannya ke rumah sakit. Kini Alina sudah bersiap mengejan hanya dengan didampingi Bi Siti disampingnya.


"Pembukaan sudah lengkap, Ibu bisa mulai mengejan sekarang...."


Alina pun mengikuti instruksi dokter, mengambil nafas dalam-dalam sebelum kemudian bersiap untuk mengejan.


Hanya dalam sekali mengejan, suara tangisan bayi laki-laki terdengar nyaring memecah keheningan malam.


"Selamat ya Bu, bayinya laki-laki..."


Alina mengucap syukur yang tak terkira, betapa di tengah segala keterbatasan yang ada, dirinya dimudahkan untuk melahirkan putranya yang kedua.


Setelah bayinya di bawa untuk dibersihkan, bayi itu diserahkan kembali kepada Alina untuk dilakukan IMD (inisiasi menyusui dini). Sementara itu dokter melakukan prosedur untuk mengeluarkan ari-ari dan menjahit luka sobekan di organ Alina.


Semua proses berjalan dengan lancar dan kini Alina tengah memeluk bayinya di ruang perawatan.


"Kamu ini, kenapa tidak bangunkan Mama dan Papa? Bagaimana keadaan kamu dan bayimu?"


Mama mengomel karena mengkhawatirkan Alina.


"Tidak papa Ma, yang penting semuanya lancar dan bayinya sudah lahir dengan selamat, terimakasih sudah selalu mendoakan Alina..."


Papa lalu menghampiri Alina dan memoerhatikan bayi laki-laki yang sedang berada digendongan putrinya.


"Tampan seperti Ayahnya, apa sudah diadzankan?"


"Belum Pa..."


"Sini, biar Papa yang adzankan..."


Papa mengambil bayi yang sedang tertidur pulas itu, lalu mengadzankannya.


Alina memperhatikan pemandangan itu dengan penuh haru. Betapa beruntung dirinya di kelilingi keluarga yang selalu ada dan mendukungnya.


Setelah selesai mengazankan, Papa mengembalikan bayi itu kepada Alina. Bersamaan dengan itu, Bi Siti datang untuk menyerahkan pil pelancar asi pesanan Alina.

__ADS_1


"Terimakasih banyak Bi, sudah ada Mama dan Papa disini, lebih baik Bi Siti pulang saja, istirahat dulu lalu bantu Mbak Sitha mengurus Ghazi..."


"Ya Non, bibi pulang dulu...sehat sehat selalu ya..."


Setelah berpamitan pada semua majikannya, Bi Siti lalu beranjak pulang.


Selang beberapa saat, sebuah panggilan masuk keponsel Alina. Panggilan dari Heru.


Alina baru ingat jika sejak tadi dia belum sempat membalas pesan suaminya.


"Assalamualaikum Mas Heru..."


Menyadari Alina mendapatkan telepon dari suaminya, Mama dan Papa pun memilih beranjak pergi untuk memberi privasi pada putrinya.


"Alina kami pergi sarapan ke kantin dulu ya...", Pamit Mama beralasan.


"Jangan lupa suruh suamimu segera memberi nama putra kalian...", Papa berpesan sebelum melangkah digandeng Mama.


"Ya Ma..Pa..."


Alina pun melanjutkan pembicaraannya dengan Heru.


"Walaikum salam Alina, bagaimana keadaanmu dan bayi kita?"


"Alhamdulillah baik dan semua berjalan lancar..."


"Baguslah kalau begitu sayang, maafkan aku tidak ada di sampingmu saat kamu berjuang..."


"Tidak apa-apa Mas, yang penting semuanya sehat dan selamat. Oh ya Mas, apa sudah menyiapkan nama.untuk bayi kita? Seperti oerkiraan dokter, putra kita laki-laki Mas...."


"Alhamdulillah...tentu saja sudah, aku ingin memberinya nama Fatih...Muhammmad Al Fatih..."


"Nama yang bagus sekali Mas, nanti aku akan memyampaikannya pada Mama dan Papa. Papa sudah tidak sabar untuk tahu nama cucu keduanya..."


"Tentu saja Alina, tolong sampaikan salamku pada Mama dan Papa, juga rasa terimakasihku karena sudah menjaga mu dan putra kita selama aku pergi..."


"Ya Mas, kamu tenang saja, selesaikan tugasmu dengan baik, disini aku baik-baik saja..."


Di tengah obrolan Alina dan Heru, tiba-tiba fatih menangis dengan kencang.


"Ah, sepertinya dia ingin ikut mengobrol dengan Ayahnya..."


Alina mengarahnya ponselnya sebentar kebarah bayi yang tengah menangis itu agar Heru bisa melihatnya.


"Sudah dulu ya Mas, nanti aku hubungi lagi..."

__ADS_1


"Ya, jaga dirimu dan bayi kita baik-baik..."


__ADS_2