
"Aku habis jalan-jalan seharian sama teman Ibu, katanya Ibu yang suruh dia jemput Ghazi tadi..."
"Apa?"
Alina tentu saja sangat senang melihat buah hatinya tiba-tiba sudah berada di depan matanya tanpa kurang suatu apapun. Tapi disisi lain, cerita yang terucap dari mulut Ghazi begitu mengagetkannya. Temannya siapa yang berani mengajak Ghazi pergi tanpa izin dan membuat seisi rumah gempar karena kehilangan anak pintar itu?
"Iya Bu, aku diajaknya jalan-jalan seharian dan makan yang enak-enak...tapi aku nggak tahu jalan dan nggak hafal tempat-tempat yang kami datangi.."
"Apa kamu tahu, siapa namanya?", Tanya Alina mencoba mengorek informasi dari buah hatinya.
"Hmmm, aku nggak tahu siapa namanya, tapi tadi disuruhnya manggil dedi..."
"Dedi?"
Alina tidak merasa memiliki teman yang bernama Dedi. Tapi setelah berfikir beberapa saat, entah bagaimana Alina berfikir bahwa yang dimaksud Ghazi adalah 'Daddy'. Tapi, siapakah lelaki yang berani minta dipanggi 'Daddy' oleh Ghazi? Alina hanya terpikir satu nama yang mungkin melakukan semua itu.
Di tengah percakapan Ibu dan anak itu tiba-tiba ponsel Alina berbunyi. Alina membukanya dan mendapati sebuah pesan dari orang yang tidak diharapkannya.
__ADS_1
Apa putraku sudah kembali dengan selamat? Aku sangat menikmati waktuku bersamanya dan sepertinya dia juga senang, aku akan menunggu waktu yang tepat untuk membawanya bersamaku, dengan atau tanpamu...
Pesan dari Dirga hampir saja membuat jantung Alina melompat dari tempatnya. Ditatapnya wajah sang anak yang masih menatapnya dengan bingung.
"Kenapa Bu? Ibu marah ya sama Ghazi? Maaf Ghazi nggak sempat minta izin karena katanya Daddy buru-buru dan sudah ada janji..."
Ghazi masih saja bicara dengan polosnya.
Alina langsung menarik Ghazi ke rengkuhannya dan di peluknya putranya itu erat-erat. Entah mengapa Alina merasa sangat takut kehilangan putra kesayangannya itu.
"Ghazi, dengarkan Ibu ya...lain kali Ghazi nggak boleh pergi dengan orang asing tanpa seizin Ayah, Ibu, atau Mbak Sitha....Dan jangan mudah percaya sekalipun orang itu mengaku kenal dengan Ayah atau Ibu....orang yang kamu panggil Daddy itu bukan teman Ibu dan kamu tidak boleh menemuinya lagi, mengerti sayang?"
Ghazi langsung mengangguk berkali-kali, bukan karena dia mengerti tapi karena takut melihat Ibunya yang terlihat marah.
Sementara itu, Fatih yang tengah tertidur di samping Alina mulai menguap. Nampaknya anak itu terganggu dengan obrolan antara Ibu dan kakaknya. Namun tak berselang lama Fatih terbangun dan tersenyum melihat kakaknya telah kembali.
"Kakak uda puyang?", tanya nya dengan wajah berseri, kemudian langsung melompat turun dari tempat tidur dan memeluk kakaknya.
__ADS_1
Alina tersenyum melihat pemandangan manis di depannya.
"Kakak hiyang kemana tadi? ", tanya Faith dengan polosnya.
Selanjutnya Ghazi dan Fatih langsung terlibat obrolan serius khas anak-anak. Ghazi bercerita tentang kemana saja dia pergi seharian, sedangkan Fatih mendengarkan cerita kakaknya dengan raut antusias.
Sejenak Alina menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya yang masih terasa berat. Namun belum sampai terlelap, tiba-tiba terdengar suara pekikan terkejut.
"Ghazi! Kamu sudah kembali nak?"
Saat membuka mata, Alina melihat Heru tengah memeluk putra pertamanya itu, lalu di angkatnya Ghazi dan di gendong berputar-putar.
"Dari mana saja kamu nak? Seharian ini Ayah dan Ibu mencarimu kemana-mana!"
"Aku pergi jalan-jalan sama makan tadi yah, diajakin teman Ibu yang namanya Dedi...", Ghazi menjawab dengan kepolosan khas anak kecil.
Setelah mendengar itu, Heru beralih menatap tajam ke arah Alina, meminta penjelasan tentang apa yang baru saja diucapkan putra pertamanya.
__ADS_1