
''Ayo kita pulang. Urusan kita sudah selesai dengan si ke ku king ini! Yang sekarang harus kita urus adalah Algi dan Tiara. Kita harus meluruskan apa yang terjadi disini. Salah satunya mengenai pernikahan Algi dan Tiara. Ayo!'' ajak Papi Gilang pada kedua makanya ini.
''Ya, ayo!'' sahut Lana.
Mereka bertiga pulang kembali kerumah sakit untuk meluruskan masalah Algi dan Taira. Cukup satu jam saja mereka sudah tiba di rumah sakit.
Tiba dirumah sakit, Lana dan Papi Gilang langsung saja masuk ke kamar Tiara. ''Assalamu'alaikum.. maaf Pak Jaka. Bahkan bisa ikut kami keruangan Algi? Biar saya ambilkan kursi roda untuk Tiara. Ibu juga harus ikut. Adik Tiara pun harus ikut kami. Ayo!'' Kata Lana pada pak Jaka dan Ibu Siti.
''Baik. Ayo Nak.''
''Ya,'' jawab Tiara.
Dengan segera Pak Jaka menggendong Tiara dan ia dudukkan di kursi roda. Setelahnya mereka menuju ke kamar Algi.
''Assalamu'alaikum...''
''Waalaikum salam... kamu!'' tunjuk Mami Alisa pada Tiara.
Tiara ketakutan. Tubuhnya bergetar Pak Jaka menenangkan nya dengan cara mengusap lembut pundak putri sulungnya itu.
Papi Gilang memenangkan Mmai Alisa. ''Sayang. Kamu membuat istri Algi ketakutan loh..'' tegur Papi Gilang.
Mami Alisa tidak perduli. Ia tetap berjalan menuju Tiara yang saat ini semakin ketakutan. Mami Alisa menoleh pada Pak Jaka. Lama ia menatap Pak Jaka, dirasa sudah cukup mengingat Mami Alisa berbicara pada Pak Jaka.
''Saya baru mengingatnya sekarang! Anda, Pak Jaka Samsudin dan istri anda bernama Yusri. Seorang gadis keturunan Turki. Namanya di ubah karena ia sedang di buru oleh ayah kandung Yusri sendiri. Karena dia adalah pemilik sah dari perusahan terkenal di Turki dimana suami saya pernah kesana untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan ayah Tiara yang sekarang di bilang alih oleh Paman Tiara. Adik ayah Tiara yang haus akan harta. Dan juga anda dulu kan yang pernah meminta tolong sama saya untuk menyembunyikan Yusri dari kejaran pembunuh bayaran yang di utus oleh Paman Tiara???''
Deg!
Deg!
__ADS_1
''Bu Alisa...'' Seru Pak Jaka begitu terkejut.
Begitu juga dengan semua orang yang ada disana. ''Ya, ini saya Pak Jaka Samsudin! Saya pikir anda sudah lupa dengan saya. Saya masih ingat, waktu itu Yusri meminta tolong kepada saya. Kalau ia harus pergi untuk selamanya dan sebagai ganti nya Putri kandungnya yang belum lahir akan ia serahkan kepada saya untuk di lindungi! Masyaallah.. Tiara?? Ini Tiara?? Putri kandung Yusri?? Ya Allah...'' ucap Mami Alisa dengan segera memeluk erat tubuh Tiara.
Tiara terisak.
''Mami nggak nyangka aja. Akhirnya putri kandung Yusri berjodoh dengan putra kandung Mami. Ya Allah.. sungguh besar maha Kuasa Mu Ya Robb... akhirnya aku bisa menemukan gadis kecil yang dulu pernah bersembunyi di balik stand kue milik Mami. Dan Algi yang menyembunyikan kamu disana. Maha besar Allah. Ternyata... hiks..'' Mami Alisa semakin erat memeluk tubuh Tiara.
Algi yang baru bangun pun terkejut dengan ucapan sang Mami. ''Mami??''
Mami Alisa menoleh. Wanita paruh baya itu tersenyum. ''Kamu harus ceritakan sama Mami. Apa benar pernikahan mu hanya berjalan dua bulan saja Algi?? Atau ??''
Algi menatap Tiara yang kini sedang terisak menatap nya. Tatapan mata Algi begitu sendu. ''Maaf Mami, Papi.. Abang sudah menikah dengan nya lebih kurang sudah dua tahun...'' lirih Algi tak punya ya daya dan upaya lagi untuk berbohong.
Papi Gilang melototkan matanya. Mulutnya terbuka ingin berbicara pada Algi. Tapi tatapan wajah datar Mami Alisa membungkam mulut Papi Gilang. Jika sudah seperti ini, sang Raja tidak berani ikut campur. Takut di semprot olehnya.
Ali dan Nara terkikik geli di bangkar Nara. Maura dan Lana pura-pura tidak mendengar. Mereka sibuk berbisik ria. Sesekali terkekeh kecil dan sesekali mereka terkikik geli.
''Hem?''
''Kira-kira.. Abang mau di apain ya sama Mami??'' bisik Nara di telinga Ali.
Ali terkekeh geli. ''Mana Abang tau sayang. Kita lihat saja. Apakah di jadikan perkedel sama Mami, atau di jadikan bumbu rujak oleh Mami??'' jawab Ali masih dengan berbisik-bisik ria.
Papi Gilang melototkan matanya pada Nara dan Ali. Ali pura-pura melihat ke ponsel miliknya. Begitu juga dengan Nara. Mereka berdua pura-pura terkikik geli karena melihat ponsel. Padahal bukan. Mereka sedang menertawakan Papi Gilang yang saat ini sedang berdiri sebagai pengawal Mami Alisa agar sang pujaan hatinya itu tidak mengamuk.
''Dua tahun??? Kenapa??'' tanya Mami Alisa dengan wajah datarnya.
Algi memejamkan kedua matanya. ''Maaf Mi.. Abang terpaksa berbohong-,''
__ADS_1
''Sekali kamu berbohong maka akan ada kebohongan-kebohongan yang lain akan mengikuti mu! Apakah selama ini Mami mengajarkan kamu berbohong Algiandra??''
Deg!
Deg!
Mami Alisa mengepalkan kedua tangannya. Melihat itu Papi Gilang memeluknya dengan erat. Kepalanya tangan itu ia urai dan disatukan dengan tangannya.
''Sabar... kamu membuat menantu kita ketakutan sayang.'' Bisik Papi Gilang di telinga Mami Alisa.
Mami Alisa memejamkan kedua matanya. Setetes buliran bening mengalir di pipi halusnya. ''Apakah kamu tidak punya orang tua Algiandra?? Segitu tidak inginkah kamu mengabarkan kepada kami orang tua Bangka ini tentang pernikahan mu?? Kenapa??'' lirih Mami Alisa masih dalam pelukan Papi Gilang.
''Sabar sayang...'' bisik Papi Gilang lagi.
''Hiks.. Lihatlah putra kamu Pi! Segitu tidak berharga kah kita ini sebagai orang tuanya hingga pernikahan berjalan sampai dua tahun pun aku tidak tau... sebenarnya ada apa dengan kalian?! Apakah kalian sudah berzina terlebih dahulu?!''
Deg!
Deg!
''Astaghfirullahal'adhimm... sayang!'' tegur Papi Gilang lagi
''Nggak gitu Mi! Selama Abang menikah dengan Tiara tidak pernah sekalipun Abang menyentuhnya. Tiara di.. di.. hiks.. Dery yang melakukannya Mi! Bukan Abang! Demi Allah Mi! Abang tidak sekeji itu!''
''Lantas, kenapa kamu berbohong tentang pernikahan mu?! Ada apa dengan kalian Algiandra?! Jawab!!!'' sentak Mami Alisa dengan suara naik satu oktaf.
''Istighfar sayang... jangan meninggikan suara kamu seperti itu...''
''Hiks.. lalu, aku harus apa Pi?? Putra kamu tidak mau mengakui nya! Aku harus apa coba?! Hiks..''
__ADS_1
Algi turun dari bangkar dan berjalan tertatih menuju Mami Alisa dan Papi Gilang yang sedang berdiri dalam keadaan tersedu. ''Maafkan Abang Mami, Papi.. Abang akan ceritakan semuanya.. Tapi Abang mohon.. jangan pisahkan kami berdua.. Abang tidak sanggup tanpa nya.. Abang mohon Mi.. dengarkan dulu cerita Abang. Abang punya alasan kenapa Abang menyembunyikan pernikahan ini hingga dua tahun lamanya... hiks.. sssstttt...'' desis Algi menahan sakit.
Melihat Algi bersimpuh di kaki Mami Alisa dan Papi Gilang, Tiara pun ikut turun dan duduk bersimpuh di kaki dua paruh baya yang sedang terisak itu.