Cinta Tak Sempurna

Cinta Tak Sempurna
Dua hati satu jiwa


__ADS_3

Tubuh ringkih nan kurus itu bergetar hebat disana. Kinara yang melihatnya tidak sampai hati. Ia berjalan mendekati lagi dan memeluknya.


''Hiks.. maaf Dek.. hiks.. bu-bukan maksud Abang se-sepeti hiks itu... Abang salah.. hiks..'' Isak Algi di dalam pelukan Kinara.


Kinara semakin erat memeluk tubuh saudara kembarnya. ''Bangun, kita ke kamar adek ya? Kita butuh bicara berdua. Ayo!'' Katanya pada Algi.


Algi mengangguk walau masih dengan terisak-isak. Mereka berdua berjalan mendekati pintu kamar Kinara dan masuk ke dalam kamar saudara kembar nya itu.


Kinara melepaskan pelukannya dan menuju nakas kamar dan mengambil sesuatu dari sana. Kinara kembali pada Algi dan memberikan secarik kertas putih padanya.


Algi jatuh terduduk di lantai saking lemasnya tenaga dan lutut nya saat Kinara memberikan secarik kertas yang menunjukkan kalau di kertas putih itu sang Mami mereka, surga mereka saat ini sedang sakit.

__ADS_1


Luka di kepala nya kini kambuh lagi. Tapi wanita paruh baya itu menahannya demi seluruh anak-anak nya. ''Abang tau? Mami masih ingin hidup karena kita semua. Dirinya bertahan karena sangat menyayangi Papi dan semua saudara kita. Mami ingin hidup saat ini dan mati bersama Papi dikala ajal menjemput mereka berdua. Adek aja baru tau bang, saat bang Lana akan berangkat ke perbatasan bersama bang Ali. Sebelum pergi, Abang memberikan kertas itu kepada adek dan diberikan kepada Abang. Abang sadar tidak, kalau Mami selama ini sering sakit-sakitan??''


Algi semakin tersedu. Ia memeluk kertas putih itu dengan erat. Ia menunduk dengan bahu berguncang hebat. Ia terisak-isak saat mendengar penjelasan Kinara.


''Hiks.. maaf Dek.. hiks.. maaf... huaaaa.. aaaa.. Ma.. hiks.. Mi... ma hiks af...'' Raung Algi di dalam pelukan Kinara lagi. Karena Kinara datang dan memeluknya dengan erat.


Kinara pun ikut terisak bersama. ''Sayangi Mami kita Bang.. beliau sudah tua saat ini. Abang kan tau, Mami lebih tua dari Papi?? Hiks.. jangan sakiti hati tuanya Abang! Bisa durhaka kamu sama Mami! Hubungan mu dan istrimu tidak akan berkah tanpa restu Mami.. sadar Bang.. minta maaflah sama Mami.. selagi Mami masih hidup kita masih bisa membahagiakan nya. Kalau sudah tiada apa gunanya lagi?? Hiks..'' ucap Kinara sembari semakin erat memeluk erat tubuh Algi.


Tubuh kurus nan ringkih itu berguncang hebat. Mereka berdua tersedu di kamarnya. Sementara Seseorang berdiri mematung di depan pintu karena terkejut mendengar ucapan Kinara yang begitu menusuk relung hatinya.


''Hiks.. ya Allah.. ternyata aku lah penyebab nya.. hiks.. aku lah yang telah menyebabkan bang Algi pergi dari rumah ini.. hiks.. karena menyelamatkan keluargaku ia sampai melupakan Maminya. Surganya.. hiks.. ampuni hamba ya Allah.. ampuni hamba ya Robb.. maafkan Tiara Mami... maaf...'' Isak Tiara di tepi pintu kamar Kinara.

__ADS_1


Sedangkan di kamar sang Papi, kini Mani Alisa sudah lumayan tenang. ''Sudah.. jangan menangis.. kamu tidak boleh menangisi yang telah terjadi. Semua itu bukan kesalahan mu. Tapi kesalahan kita berdua yang telah mendidik Algi selama ini. Kita sibuk dengan bisnis kita sampai lupa kalau ada Algi dan Kinara yang sangat butuh kita di saat tumbuh kembang nya. Aku akan sesekali datang ke kantor, kamu juga ya? Kurangi aktivitas mu diluar. Lebih banyak dirumah bersama kedua anak kita. Pantas saja Algi begitu kecewa sama kita.. Hah. Biarlah terlambat waktu tidak sama sekali. Kamu yang sabar.. jangan sakit hati karena perlakuan putramu seperti itu kepada mu. Jadikan ini teguran dan pelajaran untuk kita berdua.. Cup.'' Papi Gilang mengecup dahi Mami Alisa yang saat ini bergetar kembali karena menangis.


Dua hati satu jiwa. Inilah yang terjadi kepada mereka berdua saat ini. Mami Alisa yang terluka tapi Papi Gilang yang merasakan sakitnya.


Di kamar Kinara, kini Algi bangkit dan keluar menuju ke kamar sang Papi. Ia keluar tanpa melihat Tiara yang saat ini i terkejut karena Melihat nya keluar.


Mata itu kembali mengembun kakak melihat Algi tersedu di depan pintu berwarna coklat tua yang berukuran indah itu. Algi menumpukan kedua tangannya di pintu itu.


Bahunya berguncang dengan kepala menunduk. Karena tidak sanggup berdiri, ia berjongkok di hadapan pintu kamar kedua orang tuanya.


Kinara pun ikut keluar namun, ia begitu terkejut Kaka melihat Kakak iparnya berada di samping pintu kamar ya sedang tersedu dengan kepala ia sembunyikan di kedua lutut nya.

__ADS_1


''Kakak??'' panggil Kinara sambil berjongkok.


Tiara menoleh, wajah itu sembab dengan air mata. Kinara tersenyum dan menggeleng. ''Jsngsn salahkan dirimu karena hal ini. Abang masih muda, masih belum bisa memilah mana yang lebih dulu harus ia utamakan dan mana yang tidak. Jangan berkecil hati, hem? Ayo, kita ikuti Abang masuk ke kamar Mami,'' ucap Kinara pada Tiara yang kini semakin tersedu kala Kinara memeluk erat tubuhnya.


__ADS_2