Cinta Tak Sempurna

Cinta Tak Sempurna
Sama seperti Lana


__ADS_3

''Sayang..''


Kinara menoleh, ia semakin tersedu dan memeluk Algi dengan erat. Tatapan matanya begitu kesal terhadap Ali. Namun, Ali bisa apa jika Kinara sendiri yang ingin duduk di sudut itu.


''Kamu gimana sih bang Ali?!'' kesal Algi pada adik iparnya.


Ali tersenyum, ''Itu yang Kinara inginkan. Ia ingin dirimu dan saudaranya yang lain. Aku tidak berhak ikut campur. Bujuklah dirinya. Bukankah kamu Abang nya? Kamu juga bang Lana??''


Lana menunduk. Lana berjalan gontai menuju Algi dan Kinara. Air mata itu terus saja mengalir di pipi tirus nya yang sudah lumayan berisi dari pada dulu saat ia masih bertugas sebagai tentara.


Lana memeluk kedua adiknya dengan erat. ''Kalian berdua kesayangan Abang. Kalian hadir saat Abang sudah tau arti dari adik dan saudara buat Abang. Kalian ingat kakak kalian Annisa? Bagaimana dulu dengan nya? Dia hidup dalam serba kekurangan. Tak ada yang melihatnya waktu itu. Tapi Papi kita menyayangi nya setulus hati. Bahkan kakak kalian hidup pun karena Papi kita .. maafkan Abang jika Abang menjadi yang utama diantara kalian. Tapi inilah kenyataan nya! Sebelum kalian ada, Abanglah putra sulung Papi! Jadi jangan salahkan Abang dong dalam hal ini? Abang tetap pangeran sulung di dalam keluarga BHASKARA!'' seloroh Lana yang semakin membuat Algi kesal bukan main.


Algi meninju tubuh Lana membuat pemuda tampan yang berseragam prajurit itu meringis menahan sakit di dadanya akibat sikutan siku Algi yang lumayan tajam.


Maura masih saja terkekeh. Papi Gilang dan Mami Alisa menatap haru pada ketiga anaknya itu.


''Awas Abang! aku tidak mau ada Abang lagi disini! Pergi sana Abang!'' ketus Algi masih tidak menyukai kehadiran Lana.

__ADS_1


''Kamu ingin usir abang kemana hem? Abang ini saudara kamu! Wajah ayah kita berbeda, tapi surga kita satu Dek! Abang tau Abang salah karena tidak pernah melihatmu Selama ini. Abang sibuk dengan urusan Abang sendiri. Tapi percayalah. Abang tetap mengingat mu dimana pun Abang berada. Abang menyayangimu Dek. Kamu bagian dari diri Abang. Kamu saudaraku! Kita sedarah walau berbeda ayah! Tidakkah kamu lihat kalau kita berdua ini mirip??''


Algi diam. Ia masih memeluk erat tubuh Kinara yang kini hanya tersisa isakan lirih saja. Ia sudah tidak menangis lagi sebenarnya. Hanya ingin meredakan rasa tangisnya itu saja.


Kinara memeluk erat tubuh kedua saudaranya itu. ''Mirup darimana nya? Lah Papi kita aja beda Bang!''


''Loh? Lihat dulu dong wajah kita ini. Kamu mirip sama Abang, Dek!''


''Enggak! Aku nggak mirip sama Abang! Aku mirip Mami!!''


''Lah? Kok gitu? Mami kamu ya Mak Abang kan??'' balas Lana tidak mau kalah sama Algi.


''Awas Abang! Bisa nggak sih Abang itu ngalah sebentar aja sama adek sendiri?! Ishh.. kesal aku sama Abang!'' ketus Algi pada Lana.


''Lah, kan emang benar apa yang Abang bilang?? Kamu kan adek Abang Algi! Kita satu ibu walau berbeda Ayah. Lihat saja wajahmu itu mirip sama Abang? Masih mengelak juga kamu?!'' kata akan pada Algi yang semakin membuat Algi kesal bukan main


Mami Alisa menggelengkan kepalanya. Begitu pun dengan Kinara. Adik kecilnya itu tertawa mendengar perdebatan yang dulu sering ia dengar jika Lana pulang dari tugasnya.

__ADS_1


''Sudahlah Abang.. kalian ini berdua kenapa selalu bertengkar sih? Add tuh sayang sama Abang! Kalian berdua saudaraku! Bang Lana Abang sulung! Kak Ira kakak sulung! Walau kita berbeda Papi. Tapi Mami kita satu ka ya? Sudah.. jangan bertengkar lagi gara-gara ini. Adek sakit melihat kalian berdua bertengkar seperti ini. Tidak kah kalian tau, hatiku bagai di tusuk sembilu saat melihat kedua abangku bertengkar di hadapan ku karena hal ini?? Kalian sayang tidak padaku yang paling kecil ini??''


Algi dan Lana semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Kinara. ''Abang sayang sama kalian berdua! Tidak pernah Abang bedakan dalam hal kasih sayang... maafkan Abang, Dek yang telah mengabaikan mu selama ini.. maafkan Abang sayang.. kalian berdua begitu berarti untuk Abang.. jangan bilang kalau kalian tidak menginginkan Abang.. Abang terluka mendengar nya.. maafkan Abang, dek Algi...'' lirih Lana semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Algi dan Kinara.


Kinara tersenyum melihatnya. Ia bahagia melihat kedua saudara nya itu sudah akur kembali. ''Maafkan adek, Bang.. maaf...'' lirih Algi seperti berbisik di telinga Lana.


Lana tersenyum dan mengangguk. ''Kamu adek Abang. Adek Abang yang paling kecil setelah Annisa. Adik bungsu yang paling kecil di keluarga Bhaskara! Jangan pernah berpikir jika Abang dan kedua orang tua kita tidak menyayangi mu. Kami semua sangat menyayangi mu.. kamu harta kami. Maafkan beberapa saat yang lalu kami mengabaikan mu. Abang akui itu. Karena masalah yang menimpa Abang kemarin hingga membuat kedua orang tua kita mengabaikan mu.. maafkan Abang, Dek.. maaf...'' lirih Lana pada Algi.


Algi mengangguk setuju. ''Adek pun minta maaf karena terlalu kesal dengan kalian semua.. sebenarnya tidak bermaksud hanya saja kalian itu sibuk dengan hal kalian sendiri. Abang sibuk dengan pernikahan Abang, Kinara sibuk dengan pernikahan nya. Sedang aku? Tidak ada yang lihat seperti apa pernikahan ku!'' lirih Algi dengan leher tercekat.


''Iya sayang iya. Maafkan Abang. Kamu tenang saja. Kamu dan Kinara akan kami adakan resepsi bersama setelah lulus nanti. Ini janji Abang sama kamu! Sebelum kami balik bertugas lagi, nanti Abang akan selenggarakan pernikahan kalian berdua dengan meriah. Itu ganti untuk rasa yang pernah Abang berikan untukmu. Abang janji Dek! Kalau Abang lupa, di ingatkan ya??''


Algi dan Kinara mengangguk bersamaan. Mereka akhirnya berdamai. Tidak ada lagi marahan seperti tadi.


Kini mereka bertiga sudah akur kembali. Algi pun akhirnya mau dirawat oleh Lana lagi di rumah sakitnya. ''Ayo, kamu harus istirahat dulu. Tiara pun sama. Berbaring lah di bangkar Nara. Nara nanti Abang ambilkan bangkar satu lagi. Ayo, istirahat lah dulu. Kamu pun harus banyak istirahat.'' Imbuh Lana membuat Algi mengangguk pasrah.


Mami Alisa dan Papi Gilang pun akhirnya bisa bernafas lega. Sempat ingin marah pada diri sendiri, tapi karena Lana berhasil membujuk Algi, akhirnya dua paruh baya beda usia itu bisa bernafas lega.

__ADS_1


''Pak Jaka. Maafkan atas ketidaknyamanan yang terjadi beberapa saat yang lalu. Saya minta maaf jika anda mengalami hal tidak menyenangkan saat anda melihat nya tadi. Maafkan kami Besan...'' ucap Papi Gilang pada Pak Jaka.


''Tidak apa tuan Gilang. Saya bisa memakluminya. Kami pun seperti itu jika sedang berselisih paham. Rasa kecewa dan terluka itu hal yang wajar. Tapi tidak boleh berlarut-larut karena itu bisa mengotori hati kita. Lebih baik memaafkan walau kadang sangat terasa sakit dihati. Saya beruntung bisa menikahkan putri saya dengan putra anda tuan Gilang. Saya sangat beruntung!''


__ADS_2