Cinta Tak Sempurna

Cinta Tak Sempurna
Harus kuat


__ADS_3

"Kamu harus kuat, Nak. Begitupun dengan papi dulunya. Terpuruk, menangis, kecewa dan sakit hati itu hal yang wajar. Tetapi kita tidak boleh berlarut-larut di dalam kesedihan. Papi masih mengingat apa kata Abang kamu dulu saat ia mengubungi Papi secara sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan dengan Opa kamu."


"Saat itu, Abang dan Kakak kamu bilang. Kenapa Papi bersedih karena jauh dari Mak? Mak aja nggak tuh. Malahan Mak semakin semangat menjalani hari-harinya hanya dengan berbekal foto kita saat piknik di taman safari Medan dulu. Jika Mak bisa, kenapa Papi enggak? Bukankah Kalian berdua itu sama? Sama saling menyayangi tetapi belum bisa bersatu karena memang belum waktunya? Tambah Kakak kamu waktu itu yang akhirnya membuat Papi sadar. Jika hidup ini terus berjalan pada porosnya."


"Jika ingin kembali padanya maka kita harus berusaha menjadi lebih baik lagi dan juga kita harus kuat dan bangkit dari keterpurukan yang bersifat sementara itu," ujar Papi Gilang hingga membuat Algi yang kini sedang memikirkan nasib pernikahannya dengan sang istri tertegun sejenak memikirkan dan meyatukan semua kejadian yang di alami olehnya dan sang Papi itu sama persis.


Bedanya, Tiara lah yang pergi meninggalkannya. Bukan dirinya yang karena ancaman atau apapun itu.


Papi Gilang mengelus puncak kepala Algi, "Dengarkan papi, Nak. Benahi hidupmu menjadi lebih baik dari sekarang. Mungkin kamu dan Tiara belum saatnya untuk bersatu. Maka dari itu, takdir memisahkan kalian berdua. kalian dipisahakn sementra supaya kalian bisa mendididk diri kalian menjadi yang lebih baik lagi. Ikuti saja apa kata Papi. Semua ini pasti akan indah pada waktu nya."

__ADS_1


"Jangan kecewa dengan keputusan takdir! Semua itu terjadi demi diri kalin sendiri. Setelah ini, kamu ingin kuliah dimana? Sudah ada temapt yang ingin kamu tuju?" tanya Papi Gilang pada Algi.


Algi menghela nafasnya. "Abang dan adek udah memutuskan kalau kami berdua akan kuliah di fakulatas di medan saja. Buat apa kelaura negeri? Toh, ilmunya pun sama kok. Adek aja milih di Medan karena menunggu suami serta anak angkatnya. Kenapa pula Abang jauh dari kalian? Kami berdua udah daftar kok. Papi tenang aja ya?" katanya pada Papi Gilang yang kini tersenyum dan mengelus kepalanya.


"Istirahatlah. Kami pun akan istirahat. Lihat Mami kamu? Sangat pucat wajahnya. Sedari pagi kami begtu mengkhawatirkanmu," ucap Papi Gilang sambil memeluk putra bungsunya itu.


Algi menajdi merasa bersalah karena telah membuat sang Mami jadi sakit karena memikirkan masalah rumah tangga nya. Inilah yang Allgi tidak inginkan. Maka dari itu ia menutupinya.


Algi tau itu. Sepanjang perjalanan mengantar Tiara dan sampai ia pulang pun di ikuti oleh sebuah sedan milik suruhan sang Papi. Algi terharu. Ternyata, kedua orang tuanya masih mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


"Ya sudah, Abang pun harus mandi dan segera ke mesjid. Sebentar lagi 'kan masuk waktu maghrib?"


Papi Gilang tersenyum. "Tentu. Papi tidak bisa pergi. Papi harus menemani Mami kamu."


"Iya Pi. Mami istirahta ya? Abang udah nggak pa-pa kok. Istirhatlah!" katanya pada Mami Alisa yang kini kembali matanya berkaca-kaca.


Algi memeluk erat tubuh ringkih sang Mami. "Sudah mi.. Abang tak apa. Abang janji! Abang tidak akan seperti ini. Asalkan Mami dan Papi jangan pernah pergi meninggalkan Abang. Abang dan adek butuh kalian berdua. Hanya kalian berdua yang kami miliki sementara separuh hidup kami sudah pergi.." lirih Algi semakin erat memeluk tubuh ringkih sang Mami.


Mami Alisa mengelus lembut tubuh hangat Algi. "Tentu sayang. Selamanya kami akan bersama mu. Terkecuali takdirlah yang mengambil kami berdua kalian tidak boleh sedih. Karena cepat ataupun lambat kematian itu pasti akan menyusul kita! Paham?"

__ADS_1


"Abang paham, Mi. Abang mandi dulu. Seluruh tubuh Abang sangat lengket. Dan juga tadi saat di Bandara kami sempat melakukan itu untuk yang terakhir kalinya sebelum Tiara benar-benar pergi meninggalkan ku entah sampai kapan." batin Algi di akhir ucapannya.


Dan Mami Alisa yang kini menatapnya dengan mata yang semakin sembab karena terlalu lama menangis.


__ADS_2