
Selepas maghrib mereka semua berkumpul bersama di ruang makan. Walau ada meja makan Tiara tetap mengajarkan anak-anaknya untuk duduk lesehan di lantai.
Karena itu merupakan sunnah dari Nabi kita. Lagi pun, ketika Tiara di rumah Mami Alisa mereka selalu makan bersama dengan duduk lesehan jika itu makan malam.
Dan malam ini, kelima orang itu berkumpul bersama.
"Papi," panggil si cantik Almira
"Heum? Apa sayang?" balas Algi.
"Kapan kita pulang ke Medan? Kakak udah nggak sabar ketemu Adek Alkira, Adam dan juga Ijal. Kapan Pi? Besok kah?" tanya nya dengan mulut penuh makanan
Algi tersenyum, "Ya, besok kita pulang ke Medan. Tetapi setelah itu kita harus kembali lagi kesini. Karena Mami dan Papi kerja nya disini. Untuk saat ini Papi sama Mami cuti dua minggu. Jadi selama dua minggu itu, puas-puas kan akan kemana saat di Medan nanti!"
"Aseeeekkk.. Pulang ke Medan euuy!" celutuk Alvin dan Aldi bersamaan
__ADS_1
Algi tertawa.
Kebersamaan yang tidak pernah ia rasakan sejak kelahiran si kembar dan juga saat masa pertumbuhan mereka berdua.
"Apa nggak terlalu cepat Bang kita kembali ke Medan? Bagaimana dengan pekerjaan kita disini? Kita masih ada kerja sama dengan perusahaan milik Brasmana loh.." ucap Tiara mengingatkan Algi.
Algi tersenyum. "Tidak usah memikirkan itu. Semua itu udah Abang urus. Kamu tinggal mengikutinya saja. Mami dan Papi sangat ingin bertemu dengan ketiga anak kita. Besok, kita sudah harus kembali. Kasihan mereka sudah tua, sayang. Kapan lagi kita bisa membahagiakan mereka? Belum lagi Kinara. Hingga saat ini pun suaminya belum ada kabar berita. Hem.." lirih Algi sambil menghela nafas panjang.
Tiara pun demikian. Ia pun turut memikirkan nasib saudara kembar Algi yang saat ini belum ada kejelasan sama sekali tentang dimana keberadan suaminya.
Dibantu juga oleh Mbak sus dan juga Algi sendiri. "Nama anak kita?" Ulang Tiara dan Algi mengangguk. "Jelek ya? Abang nggak suka??" tanya nya pada Algi yang kini terkekeh karena melihat wajah sendu Tiara.
Cup.
Algi mengecup kening Tiara dan memeluknya dengan erat. "Bukan sayang. Abang hanya heran saja. Kenapa ketiga nya Triple A? Apa lagi nama si gadis Almira? Beda dikit sama anak kak Annisa loh .. Almaira??"
__ADS_1
Tiara tertawa.
"Semua itu memang Kakak yang menyuruhnya. Kakak bilang Adek Nara aja nama putri bungsunya Alkira singkatan nama Ali dan Kinara. Lah kita? Nggak mungkin dong. Nama anak kita menjadi Altira? Atau Algiara??"
Buahahahha..
Algi tertawa begitu pun dengan Tiara. "Benar juga sih. Tapi kok kamu bisa saling berhubungan sih sama Kakak? Apa kamu pernah mengambil nomor kakak dari ponsel Abang?" tanya Algi yang dibalas cengiran lucu oleh Tiara.
"Hehehe.. Maaf atuh Bang. Adek saat itu memang butuh nomor Kak Annisa untuk sekedar bertanya dan sharing tentang seputar kehamilan. Nomor itu udah lama sih adek ambilnya. Dan ya, seperti dugaan Adek. Bahwa nomor Kakak sangat berguna untuk kita. Adek bersyukur sekali memiliki kakak ipar seperti Kak Annisa yang mau berbagi ilmu pada ipar seperti ku yang sengaja meninggalkan suaminya demi orang lain.." lirih Tiara dengan menunduk.
Ia tidak berani melihat mata tajam nan sayu milik Algi. Karena tatapan mata itu membuatnya lemah ketika memandangnya.
Algi semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Tiara. "Sudah. Jangan di ingat lagi. Sebaiknya kita bersiap. Penerbangan kita jam tujuh pagi. Kita cuma punya waktu untuk tidur sekitar tiga jam sebelum kita berangkat ke Jakarta."
Tiara mengangguk, "Tentu Bang. Ayo, kita tidurkan dulu si kembar agar kita juga bisa beristirahat. Hah. Hari yang sangat melelahkan! Lelah hayati tak sebanding dengan lelah hati karena terus dikerjai oleh direktur yang disangka Abang ipar ternyata suami sendiri!" ketus Tiara sambil berlalu masuk ke kamar duluan.
__ADS_1
Algi mengikutinya dari belakang sambil tertawa-tawa. Tawa yang tidak pernah terdengar sejak kepergian Tiara kecuali bersama Gading. Putra angkat Kinara.