Cinta Tak Sempurna

Cinta Tak Sempurna
Bernafas lega


__ADS_3

Setelah pembicaraan singkat mengenai si biang kerok itu, kini Keluarga besar Bhaskara bisa bernafas dengan lega.


Rayyan yang berada di Bandung pun ikut panik. Ia langsung pulang saat mendengar jika Algi adik bungsunya kecelakaan. Dan saat ini sudah sore, Rayyan sudah tiba di rumah sakit dengan kedua anak kembar beserta pengasuhnya.


''Astaghfirullah Dek.. kamu kok bisa gini?? Ini lengan kok di perban gini sih? Abang terkejut banget saat dengar kamu kecelakaan dari Mami! Abang sampai tinggalkan rapat pertemuan pertama Abang demi kamu. Beruntung nya klien kita itu bisa mengerti. Jangan seperti ini Dek. Abang jauh dari kamu. Bang Lana pun sibuk dengan masalahnya. kalau kamu punya masalah, jangan diam aja. Ngomong sama Abang. Atau sama dua kakak kita yang lainnya..'' lirih Rayyan dengan memeluk erat tubuh Algi.


Algi terharu. Ia terisak di dalam pelukan Rayyan. ''Maaf Bang.. adek nggak bermaksud. Adek cuma tidak ingin membuat kalian khawatir itu saja. Karena adek tau, Mami kita orangnya panikan! Abang masih ingat nggak gimana dulu adek Nara terjatuh saat sama bang Lana??''


Rayyan mengangguk, ''Ya, Abang ingat! Tapi bukan berarti harus diabaikan Dek! Masalah ini tuh berbahaya! Lain kali kalau kamu punya masalah kayak gini ngomong sama Abang! Kamu anggap Abang ini yang kayak nggak ada aja di muka bumi ini!'' ketus Rayyan tidak suka pada sikap Algi.


Tiara dan Kinara terkekeh mendengar kecerewetan Rayyan pada Algi. ''Hihihi .. Abang nggak pernah berubah ya? Sedari dulu masih saja cerewet seperti ini. hihihi...'' Kinara terkikik geli saat mengatakan hal itu.


Rayyan berdecak sebal. ''Diam kamu Dek! Kamu pun salah dalam hal ini! Kamu nggak mau ngomong sama Abang tentang hal ini! Kamu anggap Abang nggak ada! Jangan kalian pikir, kalau Abang jauh dari kalian. Kalian terus menganggap abang tidak ada! Abang kerja sambil kuliah di sana! Tugas Abang disana itu mengurus kantor cabang milik Keluarga kita! Jangan takut Abang tidak akan pulang karena tidak memiliki biaya untuk pulang kesini. Abang punya uang banyak! Belum lagi kedua orang tua kita banyak uangnya! Nggak akan habis tujuh keturunan itu! Belum lagi usaha kita sekarang sudah semakin maju! Kalian tau, ide kak Annisa dan bang Tama itu begitu brilian! Abang takjub dnwgn mereka berdua! Tapi kenapa Kakak jarang Abang temui ya disana?? Bukannya sekarang ini Kakak udah selsai dari skripsi nya ya?''


Kinara dan Algi tertegun. ''Iyakah?? Setau adek, Kakak masih disana kok. Apa jangan-jangan...''


''Jangan-jangan apa Dek? Kami jangan buat Abang panik ah!''


''Nggak ah. Kemarin kakak sempet ngomong sih sama adek. Kalau bang Tama udah nyusulin kakak kesana. Katanya ada kabar gembira buat kiat semua. Gitu Katanya.'' Kata Nara pada Rayyan.


''Apa Abang disini udah ke Bandung??''


Kinara mengangguk, ''Katanya udah. Kakak kak udah selesai wisuda?? Adek rasa.. kakak sama Abang udah pulang deh kerumah. Wong, Mami sama Papi udah kesana sore ini?''


''Oh iya??''

__ADS_1


''He'em. Adek yakin pasti kakak bawa pulang dulu bocil kembar untuk Mami dan Papi serta ayah Emil!''


Deg!


''Apa?! Bocah kembar?? Dari mana kamu tau? setau Abang, Kak Annisa nggak punya anak ah disana? Abang lihat sendiri kok, perutnya itu gepeng! Nggak buncitnya kayak Zahra dulu!'' bantah Rayyan pada Kinara.


''Yee... dibilangin Abang nggak percaya! US Udah. Lihat aja nanti! Pasti Kakak punya anak kembar!''


''Nggak akan!!'' bantah Rayyan lagi.


''Terserah!!'' balas Kinara sembari berlalu ke depan pintu karena pintu mereka ada yang mengetuk.


Ceklek!


''Adek!!''


Annisa tertawa begitu pun dengan bang Tama. ''Ya Allah kak! Ini keponakan ku??'' kata Rayyan pada Annisa yang saat ini sedang menggendong Tania. Sedang Danis bersama bang Tama.


''Hehehe... kalian kaget ya? hem?'' kata Annisa sembari memainkan alisnya.


Kinara mencebik. ''Hem, dasar Kakak! Untingnuaulut adek bisa jaga rahasia! Kalau nggak, pasti bang Tama sudah tau sedari dulu??''


''Apa?!Jadi kamu sekongkol Dek??'' seru Mami Alisa di belakang sana.


Kinara nyengir kuda. ''Hehehe... jangan salahkan adek dong Mami! Silahkan kakak tuh yang sengaja menutup rapat kehamilannya sama kiat semua! Abang tau, Kakak pergi kuliah ke Bandung dulu itu sudah hamil. Dianya aja nggak tau. Itu pun adek yang suruh periksa! Kalau nggak kakak bilang perutnya itu mengeras karena masuk angin!''

__ADS_1


''Astaghfirullah! Annisa....'' geram Mami Alisa. Wanita paruh baya itu menatap tajam pada putrinya.


Annisa melengos. Ya Masuk ke ruang inap Algi dan memeluk adik kecilnya itu. ''Kakak!!''


Annisa tersenyum, ''Ya sayang. Ini Kakak. Kamu kenapa? Kok bisa kecelakaan begini??''


Algi mengurai pelukannya dari tubuh chubby Annisa. ''Kecelakaan kecil Kak. Adek nggak pa-pa Kok. Kakak tenaga aja ya? Oh keponakan ku! Siapa ini namanya??'' tanya Algi pada Tania yang saat ini i Annisa dudukkan di bangkar Algi. Tepat di kaki Algi.


Tanis tersenyum, ''Nama adek Tania! Yang di gendongan Papi, Abang Danis namanya!'' jawab Tania begitu jelas untuk usia anak lima setengah tahun seperti mereka ini.


''Masyaallah cantiknya.. mirip bang Tama eeuuuyyy!!'' celutuk Kinara pada Tania.


Bang Tama tertawa. ''Ini lagi! Mirip Abang juga! Keduanya mirip Abang! Kakak kebagian yang mana??'' ledek Kinara pada Annisa.


Annisa cemberut. ''Nggsk ada yang mirip kakak! Semuanya mirip bang Tama! Kakak yang hamil mereka berdua! Kemana pun dibawa pergi tapi giliran udah keluar, semuanya mirip Abang! Hadeeeuuhh...''


Buhahahaha...


Semua yang ada disana tertawa terbahak mendengar ucapan Annisa. ''Itu tandanya Kakak sangat mencintai Abang. Setau Abang sih gitu. Lihat aja nih kedua anak ku dan Zahra. Padahal kalian tau kan kalau aku ini biakn papi kandung mereka?? Tapi lihat lah! Mereka berdua sangat mirip dengan Dimas!'' tunjuk Rayyan pada dua anak almarhumah Zahra dulu yang sudah berusia dua tahun lebih.


''Memang benar. Lihatlah kalian berdua. Mami yang mengandung Algi dan Kinara. Tetapi wajah merekaitip sama Papi dan Kakak kamu Annisa! Mami kebagian apa Coba?!'' kini gantian Mami Alisa yang merasa kesal pula.


Semua yang ada disana tertawa. ''Abang mirip Mami kok. Mana ada mirip Papi?? Bang Rayyan iya. Mirip banget sama Papi! Wajah lain Mami nya iyakan Bang??'' goda Algi pada Mami Alisa dan Rayyan bersamaan.


Rayyan terkekeh. ''Hooh. Walau Mama yang melahirkan Abang yang lain, tapi tetap saja Mami Alisa Mami Abang. Abang pernah menyusui padanya hingga tiga tahun lamanya. Lebih lama dari kalian semua!'' Rayyan tertawa bangga saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


Mami Alisa dan Papi Gilang bisa bernafas lega saat ini karena semua anaknya sudah berkumpul kembali.


__ADS_2