
''Jika sekarang Mami ingin memisahkan Abang dan Tiara, maaf Mi. Abang tidak bisa! Sampai kapanpun tidak akan pernah! Sekali mengucap ijab qobul atas namanya. Maka selamanya atas namanya. Sampai Abang mati. Tak terganti dengan yang lain! Walaupun kalian memaksa Abang, silahkan! Tapi kalian hanya akan mendapatkan Raga saja. Sedang nyawa sudah pergi menyusul Tiara yang pergi karena kalian paksa!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''Algi...''
''Dek..''
''Cukup! Abang kecewa dengan kalian. Disaat Abang butuh tempat untuk mengadu, kalian sibuk dengan hal kalian masing-masing. Sekarang biarkan Abang sendiri memutuskan hal ini sendiri. Abang menikahi Tiara karena memang mencintainya sejak pertama kali bertemu. Terlepas dari kejadian ini semua, Abang tidak peduli. Semua ini sudah goresan takdir untukku. Aku tidak mau melepasnya sedikitpun!'' tegas Algi dengan wajah dinginnya.
''Dek..'' panggil Lana berusaha untuk mendekati Algi.
''Cukup Bang. Biarkan aku menanggungg sendiri masalahku. Kalaupun Papi dan Mami tidak menginginkan kehadiran kami berdua, tak apa. Abang bisa cari tempat lain untuk bisa, kami tinggali. Cukup sudah selama ini aku kecewa. Kecewa selalu di abaikan oleh keluarga ku sendiri yang! Mulai hari tidak lagi.''
''Bukan begitu dek.. kamu salah paham sama Abang,'' bantah Lana karena ucapan Algi begitu menyudutkan nya.
Algi tersenyum, ''Abang sekarang sudah bahagia. Biarkan aku bahagia dengan pilihanku. Sudah cukup aku menderita selama dua tahun ini. Hidup sendiri, banting tulang sendiri. Tanpa ada yang tau masalahku seperti apa. Aku tetap menerima keadaan saudaraku yang lain seperti apa. Selamat bang Lana. Kamu beruntung selalu mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua kita. Mungkin sudah seperti ini nasibku. Harus menikah di usia muda namun, Tidak ada yang tau seperti apa kehidupan rumah tanggaku selama ini. Kalian semua beruntung bisa mendapatkan dukungan dari Papi dan Mami. Apalah Aku yang hanya orang lain di dalam keluarga kalian..'' lirihnya begitu sendu
Lana semakin merasa bersalah. Papi Gilang tidak tau harus berbuat apa. Begitu pun dengan Mami Alisa.
Pak Jaka hanya terdiam di kursinya. Tidak ingin memperkeruh suasana. Ia dan ibu Siti tetap diam menepi. Tidak ingin ikut campur dalam masalah menantu nya itu.
__ADS_1
Nara dan Ali saling pandang dan mengangguk bersama. Ali melepaskan Nara dan Nara bergerak menuju bangkar Algi dan Tiara yang saat ini saling berpelukan untuk saling menguatkan.
''Abang,''
Algi menoleh. ''Abang tak apa Dek. Kami sudah terbiasa berdua seperti ini. Hidup tanpa dukungan siapapun. Kami hanya punya dua orang tua saja. Tidak memiliki yang lain lagi..'' lirih Algi dengan mata berkaca-kaca.
Kinara menggeleng. ''Abang nggak boleh ngomong gitu. Bukan mereka tidak sayang sama Abang. Mereka mungkin hanya lupa tentang dirimu, Bang. Jangan menyangkal jika mereka berdua adalah orang tua kita. Abang berdosa jika sampai melupakan mereka karena Masalah yang sedang membelit Abang ini. Percayalah Setiap rumah tangga itu memiliki ujiannya masing-masing. Mungkin saat ini Abang sedang di uji oleh Allah tentang kekuatan di dalam diri Abang. Tapi bukan berarti Abang harus durhaka pada kedua orang tua kita. Berbesar hatilah menerima kekhilafan mereka. Apalah kita yang seorang anak yang selalu membuat mereka di dalam kesulitan. Adek sadar, selama adek hidup di dunia ini belum pernah sekalipun adek membahagiakan Mami dan Papi. Apakah Abang tidak ingin melihat kedua orang tua kita bahagia karena kita??'' kata Nara pada Algi dengan suara yang begitu lembut hingga menyentuh siapa saja yang mendengar nya.
Ali terkekeh. Air mata di pipinya ia usap dengan lembut. Ia terharu jika sang istri kecilnya ini begitu bijak dalam berbicara.
''Abang bukan tidak ingin membahagiakan mereka sayang. Tapi Abang tidak punya daya dan upaya untuk bisa membuat mereka berdua bahagia. Sedari Abang kecil hingga sekarang Abang hanya bisa membuat mereka malu. Kamu masih ingatkan kejadian lima tahun yang silam?? Di mana Abang gagal memenuhi keinginan Papi. Agar Abang bisa jadi Jaura kelas?? Apa yang terjadi saat itu. Abang hanya bisa membuat mereka kecewa. Maka dari itu Abang sudah memutuskan. Kami tidak akan tinggal lebih lama di rumah sakit ini. Kami tidak punya uanh untuk pengobatan kami berdua. Kalau Abang tau kami dibawa kesini oleh Husna, Abang pasti menolaknya. Terimakasih Dek. Kamu masih mau berbicara dengan pria bandal seperti saudara kembar mu ini. Abang pamit. Jaga kedua orang tua kita dengan baik. Abang tidak bisa menjaga mereka. Tapi kamu dan suami mu bisa. Belum lagi putra Mami yang lain merupakan seorang prajurit. Abang ikhlas. Inilah kehidupan Abang yang sesungguhnya. Kami pergi. Ayo sayang, kita keluar dari sini.'' Kata Algi pada Tiara.
''Ayo Pak, kita pulang..'' lirih Algi
''Kamu tidak boleh keluar dari rumah sakit Abang, dek. Jangan buat Abang semakin bersalah karena hal ini. Abang minta maaf karena masalah Abang dulunya membuatmu tidak di perhatikan oleh kedua orang tua kita. Abang tau, Abang salah padamu. Abang mohon.. kamu jangan pergi dulu. Tubuhmu sedang terluka, dek.. Abang mohon..'' pinta Lana dengan sangat.
Tubuh tegap itu merendah di hadapan Algi. Algi menghela nafasnya. ''Aku tak apa bang. Seorang lelaki itu harus kuat. Tidak boleh cengeng! Aku seorang lelaki. Pemimpin di dalam rumahku-,''
''Rumahmu yang mana? Tidakkah kamu kasihan, kalau rumah istrimu sudah terbakar??''
Deg!
__ADS_1
Algi memejamkan kedua matanya. ''Ya, rumah kami memang sudah terbakar. Tapi kami masih bisa mencari rumah lain tapi tidak dirumah kalian. Itu bukanlah rumahku. Adek Nara saja sudah punya rumah saat menikah. Lantas aku??''
Deg!
Deg!
''Nak.. sebaiknya kalian tinggal dulu dirumah Mami ya sampai kapanpun tidak masalah. Tapi jangan pergi. Mami mohon nak..'' akhirnya Mami Alisa berbicara juga setelah beberapa saat terdiam melihat Algi dan Tiara mencoba pergi.
''Mami kamu benar Algi. Tetaplah dirumah dulu. Kondisi kamu pun belum pulih. Rumah kalian akan Papi renovasi. Tidak udah pikirkan biaya. Papi ikhlas memberikan untuk besan Papi. Tapi kamu harus di rawat dulu. Tangan kamu masih terluka itu. Pahamilah kondisimu Algiandra!'' tegas Papi Gilang pada Algi yang sudah berjalan tertatih keluar dari kamar rawat inap miliknya.
''Tidak usah Papi. Aku akan pulang. Papi urus saja putra Papi yang lain. Aku bisa sendiri kok. Tidak perlu rehab rumah kami. Biarkan terbakar seperti itu. Sudah cukup selama ini Papi membiayai hidupku. Biarkan kali ini aku bertanggung jawab dengan diriku sendiri. Aku tidak ingin menyusahkan kalian lagi.. bahagia kan saja bang Lana. Bang Lana lebih dari segalanya dari pada bocah bandal ini. Ayo Pak. Kita keluar dari sini!''
''Apakah kamu mau Mami mati dulu baru kamu menerima pertolongan kami Algiandra?!''
''Dan kemana kalian selama ini? Kenapa baru sekarang mencari ku?? Apakah kalian baru sadar kalau ada seorang anak laki-laki di dalam keluarga Bhaskara???''
Deg!
Deg!
''Algi....''
__ADS_1