
''Ceritakan!!'' titah Mami Alisa tak terbantahkan.
Algi mengangguk pasrah. Tiara memegang tangan Algi untuk menguatkan nya. ''Baik, awal pernikahan ini terjadi karena jebakan dari sahabat Abang sendiri. Waktu itu Abang baru pulang sekolah bersamanya. Di tengah jalan, Abang melihat Tiara di kerumuni oleh siswa sekolah lain yang tidak sama dengan kami. Yang Abang tidak tau, mereka itu ternyata suruhan Dery untuk membuat Tiara dibawa ke gudang di jalan pondok labu dekat sekolah kita.''
Algi menghela nafasnya. Lana yang tidak sanggup melihat sang adik berlutut seperti itu langsung saja mengangkat Algi menuju bangkar. Begitu pun dengan Tiara. Sepasang anak manusia itu Lana duduk kan di bangkar yang sama.
Sementara Mami Alisa duduk di sofa tempat Maura duduk. Begitu pun dengan keluarga Tiara. Mami Alisa menatap datar ke arah dinding bukan kepada Algi dan Tiara. Algi sakit melihatnya.
Algi terisak lagi. ''Dery menyuruh mereka untuk membawa Tiara kesana untuk di.. di.. di.. hiks.. di lecehkan bersama-sama. Termasuk Dery. Dia lah yang paling menginginkan hal ini. Tapi karena ketahuan oleh Abang rahasianya itu, maka nya Abang di jebak oleh Dery dengan cara di cekoki minuman haram yang Abang sendiri tidak tau. Tiara pun sama. Kami di kurung dalam tempat yang sama. Tempat yang basah, bau dan lembab. Apa yang bisa kami lakukan saat tubuh kami bereaksi menginginkan lebih.''
Tiara tersedu. Ia memeluk Algi dengan erat. Dua tubuh ringkih itu berguncang hebat karena menangis. ''Abang nggak tau harus apa. Sementara Tiara terus mendesak untuk menyentuhnya. Sedang Abang tidak bisa mengelak. Aneh. Hiks. Saat Abang ingin menyentuh kulitnya, bayangan Mami, Nara dan Papi terlintas di mata Abang. Dengan terpaksa Abang menampar Tiara hingga pingsan. Hiks.. Abang tidak bisa berbuat apapun saat itu. Hanya itu caranya. Sedang Abang sendiri, rasanya seperti ingin mati jika tidak di lepaskan. Karena tidak tahan tahan dengan hawa itu Abang kerjakan sendiri. Hiks. Dery pikir Abang berhasil menodai Tiara. Tapi tidak.''
''Yang tidak Abang tau, ternyata ia memanggil RT setempat untuk memergoki kami berdua. Naas. Abang yang saat itu sudah kelelahan dengan diri sendiri, Tiara datang kembali dan dan hiks.. kami terciduk di anggap melakukan hal tidak senonoh. Karena posisi Tiara saat itu sangat meyakinkan mereka. Padahal kami berdua masih memakai seragam lengkap. Maka dari itu kami di arak ke balai desa untuk di sidang dan di nikahkan. Sempat ingin dilaporkan pada pihak sekolah. Tapi pak Jaka meyakinkan mereka bahwa kami tidak akan mengulangi hal itu lagi dengan syarat kami harus menikah dan Tiara harus pindah dari tempat tinggalnya..''
''Hiks.. dan dua bulan yang lalu saat Tiara meminta izin sama Abang untuk keluar membeli buku, ia di culik Dery dan dilarikan ke sebuah gubuk tua yang tidak jauh dari rumah mereka saat ini. Terjadilah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Dery berhasil mengambil mahkota Tiara dengan cara Tiara di bius. Tiara tidak tau siapa pemuda itu. Tapi Abang tau. Karena saat Abang tiba di tempat itu, Dery keluar dengan tergesa-gesa dan meninggalkan Tiara dalam keadaan yang menggemaskan tanpa sehelai benang pun... hiks.. aaaaaa... Abang harus apa Mi? Abang tidak pernah menyentuhnya. Sekali ingin menyentuhnya, Mami dan Kinara yang muncul dalam pikiran Abang. Hiks..''
''Dan selama ini Abang sengaja menyembunyikan semua ini dari Mami, karena Dery mengancam Abang akan membunuh Mami dan Nara. Masih ingat Mami hiks tentang perampokan dan penganiayaan satu tahun yang lalu? Yang mengakibatkan Mami tergores di bagian lengan sedang uang di toko ludes semua??''
__ADS_1
Deg!
Deg!
Algi mengangguk, ''Ya. Semua itu karena Dery. Dery pelakunya. Dia mengancam Abang, kalau Abang tidak bisa memberikannya uang sebanyak yang ia mau, maka Mami dan Nara yang menjadi taruhannya!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''Astaghfirullah al'adhim....'' lirih Papi Gilang dan Mami Alisa bersama an.
''Maka dari itu Abang selalu bekerja keras selama ini di dua tempat demi memenuhi keinginan Dery. Nara sempat memergoki Abang jadi pelayan di restoran milik Mami sendiri. Tapi Abang menyuruhnya tetap diam agar Mami tidak marah sama Abang. Biarlah Abang tanggung sendiri. Asalkan kalian berdua selamat. Abang tau, Abang salah karena berbohong. Tapi Abang tidak punya pilihan lain selain itu. Abang pernah hampir di di tusuk dengan pisau oleh Dery. Jika bukan karena Husna dan Tiara, pasti saat ini Abang sudah tiada.. Abang terpaksa.. Abang tidak punya kuasa untuk berbicara.''
Semuanya bungkam.
''Tiara dan Nara. Jika bukan karena mereka berdua yang menguatkan Abang, Abang tidak akan berdiri disini saat ini. Selama ini Nara lah yang selalu membantu abang dengan cara menyisihkan uang jajannya untuk Abang agar di berikan kepada sahabat sialan itu!'' ketus Algi di akhir kalimat nya.
Nara terkekeh mendengar nya. ''Seandainya Mami bertanya dan Papi pun bertanya, maka Abang tidak akan diam. Tetapi kalian berdua sibuk mengurusi Abang yang sedang patah hati. Tapi aku??? Aku kalian abaikan! Tidak ada yang tau hal ini selain kak Ira dan Bang Raga. Makanya ketika bang Lana dirumah Abang pulang kerumah kak Ira. Karena disana ada obat pelipur lara Abang yaitu si kembar Zia dan Arga.''
__ADS_1
Sunyi.
Tak ada yang menyahuti ucapan Algi. Karena semuanya merasa bersalah. Karena pada saat kejadian itu dua tahun yang lalu disaat itulah Algi di jebak oleh Dery.
Ingin mengadu hal dirinya, ternyata kedua orang tuanya lebih mementingkan Lana yang pada saat itu kecewa karena di tinggal menikah oleh Maura.
''Kalian tau, kadang Abang berpikir. Apakah kami sebagai anak yang paling kecil tidak ada ada artinya dibanding kan dengan Abang yang pada saat itu sudah dewasa???''
Deg!
''Dek...'' lirih Lana dengan mata berkaca-kaca.
''Aku tak apa Bang. Aku sudah terbiasa kalian asing kan! aku dan Kinara selalu menjadi yang Terakhir setelah kak Ira, kak Annisa dan bang Lana! Tapi aku harus buat apa? Kalau kalian itu saudara seibu dengan kami? Abang tidak marah kok. Hanya saja kecewa.. kecewa karena Mami dan Papi lebih mengutamakan kalian daripada kami yang kecil ini. Padahal tanpa kalian tau, kami lah disini yang paling berat memikul beban ini.''
''Jika sekarang Mami ingin memisahkan Abang dan Tiara, maaf Mi. Abang tidak bisa! Sampai kapanpun tidak akan pernah! Sekali mengucap ijab qobul atas namanya. Maka selamanya atas namanya. Sampai Abang mati. Tak terganti dengan yang lain! Walaupun kalian memaksa Abang, silahkan! Tapi kalian hanya akan mendapatkan Raga saja. Sedang nyawa sudah pergi menyusul Tiara yang pergi karena kalian paksa!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
__ADS_1
''Algi...''
''Dek..''