Cinta Tak Sempurna

Cinta Tak Sempurna
Melihatnya


__ADS_3

Hari-hari yang Algi lewati selalu penuh drama. Bagaimana tidak. Ada-ada saja keinginan Algi yang menurut kedua paruh baya itu aneh. Seperti orang yang sedng mengidam saja pikir mereka.


Ketika ditanya, Algi selalu mengatakan tidak. Ia selalu mengatakan jika ia hanya ingin saja. Tetapi setelah beberapa kali terjadi seperti ini, Algi baru mengingatnya.


Ia terus saja tersenyum, semoga dugaannya itu benar adanya.


Tak terasa delapan bulan berlalu. Hari ini Algi ada tugas untuk melihat perkembangan Mall milik Mami Alisa. Yang kini ditugaskan kepadanya untuk mengelola dan mengurusi mall itu.


Algi bekerja disana sesuai dengan jadwal kulihnya. Jika kuliahnya pagi, maka ia bekerja disana dari selepas kuliah hingga malam harinya.


Begitupun jika ia tidak kuliah, bisa satu harian penuh Algi di mall milik Mami Alisa.


Dari sana lah ia bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah yang tiap bulannya bisa ia alirkan ke rekening Tiara yang saat ini entah ada di mana.

__ADS_1


Dan setiap bulannya pasti ada notof penarikan uang dari ATM miliknya yang terhubung langsung dengan ponsel Algi.


Karena ATM memang atas nama Algi. Algi tersenyum kala melihat Tiara saat ini sedang menarik sejumlah uang.


Tetapi Algi heran. Dari notif itu tertera Alisa Store. Apakah...


Deg!


Algi terkejut. Secepat kilat Algi menuju ATM yang ada di Mall milik Mami Alisa itu. Ia berlari dengan kencang hingga sapaan dari para karyawannya, Algi tidak peduli.


Algi terus berlari mengejar Tiara yang sudah terlihat jelas dimata nya. Nafas Algi memburu. Ia tersenyum saat melihat Tiara dan Ibu Siti sedang berbelanja.


Algi bersembunyi dibalik stand toko itu membuat karyawan nya terkejut.

__ADS_1


Karyawan itu ingin berbicara tetapi Algi menatapnya denagn tajam. Jadilah karyawan itu menunduk takut.


Algi terus saja sembunyi disana. "Bagaimana kabar Bang Algi Bu?" terdengar suara Tiara memecah keheningan siang itu di dalam toko yang menjual perlengkapan bayi terlengkap di kota Medan.


"Alhamdilillah suami kamu baik. Apakah kamu tidak ada keinginan untuk memberitahukan hal ini padanya?" tanya ibu Siti dengan tangan terus bergerak memiilih popok dan bedong untuk bayi Tiara yang belum lahir.


Ya, Tiara saat ini sedang hamil delapan bulan semenjak pertemuan terakhir mereka saat di Bandara dulunya.


Algi terharu. Mata itu berkaca-kaca.


"Bukan Kakak nggak mau kasih tau Abang, bu.. Hanya saja belum saatnya Abang tau. Biarlah setelah Kakak tamat kuliah dan bekerja di Bandung nanti. Rahasiakan ini dari kedua mertua ku ya bu?" pinta Tiara dengan sangat


Terlihat jelas dari wajahnya yang begitu sendu saat ini. Ibu Siti menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Ibu nggak yakin, Nak. Kalau Mami kamu, Ibu yakin. Tetapi tidak dengan Papi Kamu. Papi Gilang! Dia tau semuanya tentang mu karena dua bulan yang lalu beliau pernah datang kerumah. Dan beliau bertanya tentang kehamilan mu itu. Bapak mu tidak bisa berbohong, Nak. Bapak mu mengakui jika itu anak suami mu. Algiandra." Lirih Ibu Siti begitu sesak di dadanya.


Tiara tersenyum, "Tak apa bu. Papi memang seperti orangnya. Bahkan tanpa sepengetahuan abang, Papi sudah melunasi semua biaya kuliah Kakak untuk tiga tahun ke depannya. Dan Papi pun juga mengirimkan keperluan untuk Kakak. Seperti susu, buah dan segala macam vitamin. Bahkan saat pemeriksaan pun beliau mengutus orang kepercayaan nya untuk menjaga Kakak," Ujar Tiara yang membuat Algi terkejut bukan main.


__ADS_2